Hujan, Risiko Kardiometabolik Meningkat dr. Imelda Nita SaputriA

Hujan Turun, Risiko Kardiometabolik Meningkat dr. Imelda Nita SaputriA

Penyakit kardiovaskular masih menyumbang angka kematian terbesar di dunia, terutama di Asia Timur, Tengah, Tenggara, Pasifik, serta Eropa Tengah dan Timur. Kematian lebih banyak terjadi pada usia lebih muda, di wilayah dengan pendapatan yang lebih rendah. Lebih dari 60% kematian akibat penyakit kardiovaskular, diabetes, dan penyakit ginjal kronis disebabkan beberapa faktor risiko kardiometabolik, yang sebenarnya dapat dicegah.1

Risiko kardiometabolik meliputi obesitas sentral (rasio lingkar pinggang – pinggul / RLPP >0,9 pada pria dan >0,85 pada wanita), diabetes (riwayat atau HbA1C ≥6,5%), kolesterol HDL rendah (<40 mg/dL pada pria dan <50 mg/dL pada wanita), hipertensi (tekanan darah sistolik ≤130 mmHg atau diastolik ≤85 mmHg), merokok, serta riwayat penyakit kardiovaskular (riwayat penyakit jantung iskemik, infark miokard akut, stroke atau transient ischemic attack, baik dari anamnesis maupun rekam medis).2

Riskesdas 2013 melaporkan, prevalensi hipertensi di Indonesia 26,5%. Berdasar gejala atau diagnosis dokter, prevalensi DM sebesar 2,1%, penyakit jantung koroner 1,5%, gagal jantung 0,3%dan stroke 1,21%. Sedangkan prevalensi gagal ginjal kronis yang terdiagnosis dokter 0,2%.3

Penelitian berusaha menganalisis peranan musim dalam variasi risiko kardiometabolik. Berbagai mekanisme yang mendasari hal tersebut pernah diajukan, antara lain berkaitan dengan perbedaan suhu udara mau pun paparan sinar matahari (yang berkaitan dengan kadar vitamin D), perubahan pola aktivitas fisik dan aktivitas sosial, asupan makanan sesuai berbagai menu khas musim tertentu, dan sebagainya.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di antara 6oLU - 11o LS dan 95o- 141o BT, sehingga termasuk wilayah beriklim tropis. Suhu udara di Indonesia bersifat hangat sepanjang tahun, tidak terpengaruh musim seperti di daerah yang tidak beriklim tropis, dengan paparan sinar matahari yang relatif konstan dan kelembapan udara yang cenderung selalu tinggi (di atas 60%) di seluruh wilayah.

Terdapat dua musim di Indonesia, yaitu musim kemarau (Mei – September) dan musim hujan (Oktober – April). Namun, sebagai negara kepulauan dengan struktur topografi yang sangat beragam, sering terjadi penyimpangan atau perbedaan musim di berbagai wilayah. Curah hujan di Indonesia sangat beragam menurut bulan dan letak pengamatan, mulai <1000 hingga 6100 mm/tahun. Awal musim hujan ditandai dengan curah hujan ≥50 mm dalam satu dasarian (10 hari berturut-turut).4,5,6

Beberapa studi menilai variasi musiman profil lipid pada berbagai populasi. Studi Seasonal Variation in Blood Cholesterol Levels (SEASON) mengambil sampel dalam 4 musim selama setahun pada subjek dewasa. Pada subjek wanita, ditemukan variasi profil lipid yang bermakna sesuai musim, yaitu kolesterol total, LDL, dan HDL tertinggi pada musim dingin, sedangkan trigliserida dan rasio LDL-HDL tertinggi pada musim gugur. Pada subjek pria, variasi yang bermakna ditemukan pada kolesterol HDL dan rasio LDL-HDL, dengan pola serupa dengan wanita.

Pola ini terekam lebih jelas pada populasi yang mengalami hiperkolesterolemia.7 Penelitian juga dilakukan pada pasien rawat jalan dengan DM tipe II, dengan pengumpulan data selama musim gugur/ musim dingin dan musim semi/ musim panas. Terjadi kenaikan berat badan dan perubahan profil lipid secara bermakna, pada musim-musim yang lebih dingin. Level kolesterol total, LDL, dan trigliserida memuncak, sementara HDL menurun pada subjek tanpa mau pun dengan terapi statin. Hal ini terkait peningkatan asupan kalori serta berkurangnya aktivitas fisik, pada musim gugur dan musim dingin.8

Sebuah meta-analisis yang melibatkan 24 studi potong lintang pada populasi di 15 negara beriklim subtropis, sedang, dan kutub melaporkan hal serupa, mengenai pengaruh musiman faktor-faktor risiko kardiometabolik. Risiko meliputi Indeksa Massa Tubuh (IMT), lingkar pinggang, tekanan darah, kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida dan glukosa darah menunjukkan pola musiman. Yaitu cenderung memuncak pada musim dingin dan mencapai nadir pada musim panas, setelah mengalami penyesuaian terhadap usia, jenis kelamin, serta perilaku merokok.9

Variasi musiman pada adipositas dilaporkan juga terpengaruh aktivitas fisik. Di sebuah desa pertanian di Turki, di mana aktivitas sepanjang tahun sangat bergantung musim, dengan pertengahan musim panas hingga pertengahan musim gugur sebagai waktu tersibuk, berat badan dan IMT para wanita dewasa dipantau selama 2 tahun. IMT mengalami fluktuasi sepanjang tahun, dengan nilai tertinggi setiap musim dingin, dan terendah setiap musim panas.

Para subjek merasa bahwa kenaikan berat badan akibat gaya hidup yang lebih inaktif pada musim dingin, teratasi dengan kembali bekerja ± 11 jam/ hari pada musim semi hingga musim gugur. Namun, para subjek terbukti mengalami kenaikan IMT yang bermakna pada tahun kedua penelitian.10 Penelitian lain diselenggarakan di dua universitas di Jepang dan Thailand (beriklim tropis dengan suhu yang hangat dan relatif konstan dibandingkan dengan Jepang), melibatkan dua kelompok mahasiswi.

Pada mahasiswi Jepang terpantau perubahan persentase lemak tubuh yang bermakna dalam kurun waktu setahun penelitian, dengan nilai tertinggi pada bulan Januari dan terendah pada bulan Juli. Terdapat korelasi positif sedang bermakna, antara persentase lemak tubuh dengan IMT pada kedua kelompok, serta korelasi negatif sedang bermakna antara persentase lemak tubuh dengan jumlah langkah harian pada mahasiswi Jepang. Hal ini menggambarkan bahwa perubahan cuaca mempengaruhi aktivitas fisik harian.11

Kondisi cuaca buruk dan ekstrim pada musim dingin dan hujan, dinilai sebagai penghalang aktivitas fisik, sehingga tingkat aktivitas fisik berbeda-beda tergantung musim.12 Sebagai contoh, musim mempengaruhi pola aktivitas fisik pada subjek dewasa mandiri di Kanada. Jumlah subjek yang inaktif lebih banyak pada musim dingin daripada musim panas, sedangkan aktivitas fisik di waktu luang 86% lebih memungkinkan dan total pemakaian energi harian rata-rata lebih tinggi pada musim panas dibandingkan musim dingin.13

Tinjauan pustaka menyimpulkan, aktivitas fisik ringan mau pun sedang hingga berat, pada berbagai kelompok usia di berbagai Negara, mengalami penurunan pada musim dingin. Penurunan tidak tampak terkompensasi dengan peningkatan aktivitas pada musim semi mau pun musim panas setelahnya. Berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, status sosioekonomi, IMT, penyakit (misalnya asma), serta tujuan beraktivitas ikut berkontribusi. Namun secara umum, komponen cuaca berupa curah hujan memiliki korelasi negatif paling kuat, terhadap aktivitas fisik.14

Curah hujan lebih tinggi pada musim dingin, diikuti dengan musim gugur dan musim semi.15 Suhu yang rendah, curah hujan tinggi, salju, serta angin kencang, dapat menghambat anak-anak untuk aktif bergerak. Berbagai studi menganalisis pola aktivitas fisik musiman pada anak-anak hingga dewasa muda.16 Peranan komponen berbeda dalam cuaca, dikaji dalam sebuah studi di Auckland, New Zealand.

Penelitian dilakukan pada Agustus- Desember 2004 (musim dingin– musim panas) dengan mempertimbangkan suhu rata-rata, kecepatan angin, curah hujan/salju, dan durasi cahaya matahari yang terang setiap harinya (pukul 07.00 – 19.00). Kenaikan suhu 100C berhubungan dengan peningkatan kecil pada jumlah langkah harian pada hari kerja, dan peningkatan sedang pada akhir pekan pada anak laki-laki. Jumlah langkah harian sangat berkurang selama periode hujan sedang.17

Sebuah studi kohort di Kanada, memantau subjek sejak usia 12-13 tahun selama 5 tahun. Dengan penyesuaian terhadap usia, jenis kelamin, dan bulan penelitian, jumlah sesi aktivitas fisik per hari rata-rata 2-4% lebih rendah dengan setiap kenaikan curah hujan 10 mm, dan 1-2% lebih tinggi dengan setiap kenaikan suhu 100C. Aktivitas fisik menurun pada musim dingin dan kembali meningkat pada musim lain yang lebih hangat. Namun, kenaikan tersebut tidak cukup mengkompensasi penurunan aktivitas selama musim dingin, sehingga aktivitas tahunan tetap mengalami penurunan sebesar 7%.18

Di Norwegia, negara dengan variasi suhu, curah hujan, dan durasi sinar matahari yang jauh berbeda pada setiap musimnya, anak-anak lebih aktif secara bermakna pada musim semi, sementara aktivitas fisik pada dewasa muda cenderung sama sepanjang tahun. Anak-anak cenderung beraktivitas fisik di luar waktu sekolah, padahal cuaca buruk dan kurangnya paparan sinar matahari mendorong anak untuk tingal di dalam rumah. Sedangkan aktivitas fisik kalangan dewasa muda, biasanya berupa kegiatan yang terencana di waktu luang, misalnya kegiatan tim olahraga. Kedua kelompok lebih mungkin mencapai rekomendasi aktivitas fisik rata-rata, pada musim semi dibanding musim dingin.19

 Anjuran WHO untuk aktivitas fisik sedang- berat adalah ≥60 menit/ hari. Pada musim dingin dilaporkan peningkatan waktu inaktif, durasi tidur, serta penurunan waktu beraktivitas fisik sedang-berat. Kebugaran kardiorespirasi juga dilaporkan lebih tinggi pada musim semi. Penambahan usia 1 tahun pada anak-anak, berhubungan secara bermakna dengan penurunan aktivitas fisik sedang-berat dan waktu tidur, serta peningkatan pada perilaku inaktif dan kebugaran kardiorespirasi.

Durasi tidur yang singkat, aktivitas fisik yang rendah, perilaku inaktif serta kurangnya kebugaran kardiorespirasi berkaitan dengan terjadinya obesitas dan risiko kardiometabolik.15 Banyak bukti menunjukkan, pola aktivitas fisik ditentukan sejak usia kanak-kanak, dan menjaga gaya hidup aktif memberi perlindungan terhadap berbagai penyakit kronis pada usia dewasa.16

Durasi dan pancaran sinar matahari lebih rendah pada musim dingin.15 Fotosintesis previtamin D3, terjadi secara alami dengan paparan UV-B dengan panjang gelombang kurang dari 316 nm pada sinar matahari.20,21 Proses tersebut dipengaruhi berbagai faktor seperti usia, letak geografis, warna kulit, pemakaian sunscreen, serta pakaian. Sampel 7-dehydrocholesterol yang ditutupi dengan 15 macam kain yang berbeda, diberi paparan sinar matahari secara in vitro.

7-DHC terkonversi menjadi previtamin D3, dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Jumlah benang per-inci2 yang semakin padat, semakin sedikit meneruskan cahaya.20 Percobaan lain dilakukan terhadap manikin yang menyerupai kondisi manusia, pada kondisi paparan tinggi sinar UV. Jenis kain dan keketatan pakaian merupakan faktor utama yang lebih mempengaruhi transmisi efektif UV, untuk pembentukan pre-vitamin D3, dibandingkan warna atau tingkat kebasahannya. Pada jenis kain dengan ultraviolet protection factor/ UPF (satuan perlindungan terhadap sinar UV oleh kain) yang tinggi, perlu waktu paparan lebih lama untuk mencapai radiasi yang memadai bagi sintesis pre-vitamin D3.21

Pakaian berperan penting dalam meredam paparan sinar matahari, bahkan hingga mencapai kadar vitamin D3 yang memerlukan kompensasi dari makanan.20 Suhu yang lebih rendah meningkatkan kecenderungan memakai pakaian yang lebih tertutup atau tebal. Ditambah dengan berkurangnya paparan sinar matahari, hal ini mempengaruhi kadar pre-vitamin D3 dan vitamin D pada musim yang lebih dingin.

Vitamin D merupakan vitamin larut lemak, yang memiliki fungsi terutama pada metabolisme dan homeostasis pada tulang. Berbagai penelitian menyatakan, defisiensi vitamin D berperan penting dalam berbagai penyakit seperti hipertensi, kardiovaskular, diabetes mellitus, kelainan imunitas, osteoporosis, dan kanker.22 Beberapa penentu genetik diyakini memungkinkan pengaruh vitamin D terhadap obesitas

Reseptor vitamin D banyak diekspresikan pada tahap awal transisi adiposit, sehingga memungkinkan efek vitamin D terutama pada tahap awal adipogenesis. Vitamin D menghambat angiogenesis dan sistem renin-angiotensin yang teraktivasi pada keadaan obesitas, serta menurunkan ekspresi nicotinamide adenine dinucleotide phosphate (NADPH) dan matrix metalloproteinase (MMP) yang berperan dalam patogenesis obesitas. Vitamin D juga memodulasi proses inflamasi, yang ditandai prostaglandin (PG) serta proteksi dari stress oksidatif yang dimediasi reactive oxygen species (ROS) dan nitric oxide (NO).23.

Berbagai studi melaporkan hubungan kadar vitamin D dengan risiko kardiometabolik. Dilaporkan pada sebuah studi kohort, pada kelompok dengan obesitas morbid konsentrasi 25(OH)D lebih rendah dibanding kelompok obesitas dan tanpa obesitas, serta angka kejadian defisiensi vitamin D lebih tinggi daripada subjek tanpa obesitas. 25(OH)D memiliki korelasi negatif bermakna dengan berat badan, IMT, RLPP, lemak tubuh, massa lemak, dan massa tanpa lemak.

25(OH)D memiliki hubungan bermakna dengan musim, saat pemeriksaan dan berbanding terbalik dengan lemak tubuh.24 Penelitian lain yang melibatkan subjek dewasa pegawai perkantoran di Cina, juga menyimpulkan bahwa defisiensi vitamin D serum berkaitan dengan indeks adipositas dan homeostasis glukosa sebagai faktor risiko kardiometabolik. Kadar 25(OH)D serum pada subjek dengan berat badan berlebih, obesitas, atau sindroma metabolik lebih rendah daripada subjek yang sehat.

Kadar 25(OH)D berbanding lurus dengan kolesterol HDL, serta berbanding terbalik dengan lingkar pinggang, glukosa puasa, insulin puasa, trigliserida, dan LDL.25 Pengukuran variabel antropometrik, metabolik, dan kadar 25(OH)D serum pada anak-anak di Korea,  melaporkan hasil serupa. Kadar 25(OH)D lebih rendah pada subjek dengan obesitas. Semakin tinggi kadar vitamin D, semakin tinggi HDL dan semakin rendah IMT, lingkar pinggang, serta trigliserida.26

Sebuah studi potong lintang mengamati hubungan antara kadar 25(OH)D serum, IMT, dan berolahraga di luar ruangan. Prevalensi hipovitaminosis D lebih tinggi pada subjek dengan obesitas dibandingkan yang tidak, serta lebih rendah pada subjek yang melakukan olahraga di luar ruangan dibandingkan mereka yang tidak. Risiko hipovitaminosis D lebih rendah 47% dengan berolahraga di luar ruangan, sementara menjadi dua kali lipat lebih besar pada subjek dengan obesitas.27

Pada musim dingin, perubahan fisiologis seperti peningkatan tekanan darah dan resistensi insulin, dapat terjadi akibat usaha meningkatkan kapasitas termogenesis. Penurunan rasio luas permukaan tubuh terhadap volume serta banyaknya massa lemak sebagai cadangan energi pada ukuran tubuh yang lebih besar, menunjang kemampuan bertahan hidup pada suhu rendah dan keterbatasan makanan pada musim dingin. Gangguan pada respon adaptif tersebut dapat menyebabkan obesitas dan sindroma metabolik. Penurunan kadar vitamin D, diyakini sebagai salah satu pemicu akumulasi lemak dan pola metabolisme demikian pada musim dingin.28

Berbagai studi telah mendokumentasikan pengaruh musim dengan perubahan cuaca, durasi paparan sinar matahari, dan ekologi yang berarti terhadap risiko kardiometabolik melalui bermacam-macam mekanisme. Penulis belum menemukan penelitian yang menilai pengaruh dua musim terhadap risiko kardiometabolik di negara beriklim tropis, di mana ketersediaan sayur dan buah, cuaca, dan paparan sinar matahari relatif lebih konstan, selain dari curah hujan yang mengalami perbedaan. Penelitian di berbagai wilayah dengan iklim yang berbeda, akan sangat membantu menentukan pengaruh musim terhadap risiko kardiometabolik, sehingga dapat membantu untuk menyusun rencana intervensi yang sesuai.

Referensi

1.      The Global Burden of Metabolic Risk Factors for Chronic Diseases Collaboration. Cardiovascular Disease, Chronic Kidney Disease, and Diabetes Mortality Burden of Cardiometabolic Risk Factors from 1980 to 2010: A Comparative Risk Assessment. Lancet Diabetes Endocrinol. 2014 Aug; 2(8): 634-47.

2.      Maple-Brown LJ, Hughes JT, Lu ZX, Jeyaraman K, Lawton P, Jones GRD, et al. Serum Vitamin D Levels, Diabetes And Cardio-metabolic Risk Factors in Aboriginal And Torres Strait Islanders Australians. Diabetology & Metabolic Syndrome 2014, 6:78.

3.      Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. 2013.

4.      Pramudia A, Estiningtyas W,Susanti E, dan Suciantini. Fenomena dan Perubahan Iklim Indonesia serta Pemanfaatan Informasi Iklim untuk Kalender Tanam. Dalam: Kementerian Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kalender Tanam Terpadu: Penelitian, Pengkajian, Pengembangan, dan Penerapan. Cetakan 2013. IAARD Press, 2013.

5.      Hidayat, M. Syarif. Iklim Indonesia. Dalam: Pusat Pengembangan Bahan Ajar – UMB. Arsitektur Tropis. 2012. dosen.narotama.ac.id/wp-content/uploads/2012/12/IKLIM-INDONESIA.doc. Diakses 9 Nov 2014.

6.      Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Informasi Trend Curah Hujan. 2014. http://bmkg.go.id/BMKG_pusat/Informasi_Iklim/Informasi_Perubahan_Iklim/Informasi_Trend_Curah_Hujan.bmkg. Diakses 9 Nov 2014.

7.      Ockene IS, Chiriboga DE, Stanek EJ 3rd, Harmatz MG, Nicolosi R, Saperia G, et al. Seasonal Variation in Serum Cholesterol Levels: Treatment Implications and Possible Mechanisms. Arch Intern Med. 2004 Apr26; 164(8): 863-70.

8.      Bardini G, Dicembrini I, Rotella M, Giannini S. Lipids Seasonal Variability in Type 2 Diabetes. Metabolism. 2012 Dec; 61(12): 1674-7.

9.      Marti-Soler H, Gubelmann C, Aeschbacher S, Alves L, Bobak M, Bongard V, et al. Seasonality of Cardiovascular Risk Factors: An Analysis Including Over 230000 Participants In 15 Countries. Heart 2014; 100: 1517-23.

10.  Sabbag, Cigdem.  Seasonal BMI Changes of Rural Women Living in Anatolia. Int. J. Environ. Res. Public Health 2012, 9: 1159-70.

11.  Morinaka T, Limtrakul P, Makonkawkeyoon L, dan Sone Y. Comparison of Variations between Percentage of Body Fat, Body Mass Index, and Daily Physical Activity Among Young Japanese and Thai Female Students. J Physiol Anthropol 2012, 31:21.

12.  Tucker P dan Gilliland J. The Effect of Season and Weather on Physical Activity: A Systematic Review. Public Health. 2007 Des; 121(12): 909-22.

13.  Merchant AT, Dehghan M, Akhtar-Danesh N. Seasonal Variation in Leisure-Time Physical Activity among Canadians. Can J Public Health. 2007 May-Jun; 98(3): 203-8.

14.  Chan CB dan Ryan DA. Assessing the Effects of Weather Conditions on Physical Activity Participation Using Objective Measures. Int J Environ Res Public Health 2009, 6: 2639-54.

15.  Hjorth MF, Chaput JP, Michaelsen K, Astrup A, Tetens I, Sjodin A. Seasonal Variation In Objectively Measures Physical Activity, Sedentary Time, Cardio-Respiratory Fitness And Sleep Duration Among 8-11 Year-Old Danish Children: A Repeated-Measures Study. BMC Public Health 2013, 13:808.

16.  Rich C, Griffiths LJ, Dezateux C. Seasonal Variation in Accelerometer-Determined Sedentary Behaviour and Physical Activity in Children: A Review. Int J Behav Nutr Phys Act 2012, 9:49.

17.  Duncan JS, Hopkins WG, Schofield G, Duncan EK. Effects of Weather on Pedometer-Determined Physical Activity in Children. Med Sci Sports Exerc. 2008 Aug; 40(8): 1432-8.

18.  Belanger M, Gray-Donald K, O’Loughlin J, Paradis G, Hanley J. Influence of Weather Conditions And Season on Physical Activity In Adolescents. Ann Epidemiol. 2009 Mar; 19(3): 180-6.

19.  Kolle E, Steene-Johannessen J, Andersen LB, Anderssen SA. Seasonal Variation in Objectively Assessed Physical Activity among Children and Adolescents in Norway: A Cross-Sectional Study. Int J Behav Nutr Phys Act 2009, 6:36.

20.  Salih FM. Effect of Clothing Varieties on Solar Photosynthesis of Previtamin D3: An In Vitro Study. Photodermatol Photoimmunol Photomed. 2004 Feb; 20(1):53-8.

21.  Parisi AV dan Wilson CA.Pre-Vitamin D Effective Ultraviolet Transmission throughClothing during Simulated Wear. Photodermatol Photoimmunol Photomed. 2005 Dec; 21(6):303-10.

22.  Saedisomeolia A, Taheri E, Djalali M, Moghadam AM, Qorbani M. Association Between Serum Level of Vitamin D And Lipid Profiles in Type 2 Diabetic Patients in Iran. Journal of Diabetes & Metabolic Disorders 2014, 13:7.

23.  Vinh quoc Luong dan Nguyen: The Beneficial Role of Vitamin D in Obesity: Possible Genetic and Cell Signaling Mechanisms. Nutrition Journal 2013, 12:89.

24.  Vilarrasa N, Maravall J, Estepa A, Sanchez R, Masdevall C, Navarro MA, et al. Low 25-hydroxyvitamin D Concentrations in Obese Women: Their Clinical Significance and Relationship with Anthropometric and Body Composition Variables. J Endocrinol Invest. 2007 Sep; 30(8):653-8.

25.  Yin X, Sun Q, Zhang X, Lu Y, Sun C, Cui Y, et al. Serum 25(OH)D is Inversely Associated with Metabolic Syndrome Risk Profile among Urban Middle-aged Chinese Population. Nutrition Journal 2012, 11:68.

26.  Lee SH, Kim SM, Park HS, Choi KM, Cho GJ, Ko BJ, et al. Serum 25-hydroxyvitamin D Levels, Obesity, and The Metabolic Syndrome among Korean Children. Nutr Metab Cardiovasc Dis. 2013 Aug; 23(8): 785-91.

27.  Florez H, Martinez R, Chacra W, Strickman-Stein N, Levis S. Outdoor Exercise Reduces The Risk of Hypovitaminosis D In The Obese. J Steroid Biochem Mol Biol. 2007 Mar; 103(3-5):679-81.

28.  Foss, Y.J. Vitamin D Deficiency Is The Cause of Common Obesity. Med Hypotheses. 2009 Mar; 72(3):314-21.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.