Efek Samping Antibiotika fx. wikan indrarto
fx. wikan indrarto . Dokter spesialis anak di RS Bethesda Yogyakarta

EFEK SAMPING ANTIBIOTIKA

Data “Top 10 most-read articles by Pediatricians last month”, yaitu bulan November 2014 dapat dilihat pada  http://www.medscape.com/viewarticle. Salah satu yang menarik adalah tentang efek samping antibiotika yang dipublikasikan secara online pada 17 November di Canadian Medical Association Journal (CMAJ). Apa yang sebaiknya diketahui?

 

Kebanyakan antibiotika yang diresepkan oleh dokter untuk penyakit infeksi, termasuk infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) selain pneumonia, sebenarnya hanya memberikan sedikit manfaat. Sebaliknya, konsekuensi yang tak terelakkan dari penggunaan antibiotika secara kurang rasional dan gegabah (injudicious) ini, adalah resistensi bakteri. Salah satu cara untuk mengurangi penggunaan antibiotika adalah dengan menjelaskan kepada pasien, bahwa obat tersebut sangat sedikit membantu dalam mengatasi penyakit infeksi yang umum. Proses pengambilan keputusan tentang penggunaan antibiotika, sebaiknya dilakukan bersama antara dokter dengan pasien. Pengambilan keputusan bersama membutuhkan bukan hanya penjelasan tentang kurangnya manfaat antibiotika dalam berbagai penyakit infeksi ringan, tetapi juga penjelasan tentang potensi penggunaan antibiotika yang merugikan. Namun demikian, sampai sekarang bahaya yang serius ini masih sering diabaikan oleh sebagian besar dokter dan pasien.

 

Keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan antibiotika berkaitan dengan berulangnya penyakit infeksi, sehingga efek samping ringan karena penggunaan antibiotika menjadi kurang diperhitungkan. Lebih sulit lagi, bahaya penggunaan antibiotika jarang dilaporkan di dalam hasil penelitian, sehingga dokter tidak dapat meyakinkan pasien tentang kemungkinan tersebut. Laporan tentang bahaya antibiotika sebagian besar berasal dari penelitian observasional, yang memiliki rancang bangun penelitian kurang kuat. Selain itu, data yang merugikan tersebut sering kali bias, terutama karena sulit untuk membedakan antara reaksi obat yang merugikan atau efek samping obat dengan gejala penyakit yang mendasarinya.

 

Dengan demikian, review laporan penelitian tentang antibiotika yang paling sering diresepkan, yaitu amoksisilin, sangatlah penting sebagai sebuah contoh kajian. Review sistematis ini menggunakan data dari MEDLINE, Embase dan ‘Cochrane Central Register of Controlled Trials’, tanpa batasan bahasa yang digunakan. Kata kuncinya meliputi acak, buta ganda, uji klinis terkontrol, amoksisilin atau kombinasi amoksisilin dan asam klavulanat untuk semua indikasi, dan dalam fasilitas layanan kesehatan apapun. Hasil utama adalah efek samping obat yang dilaporkan.

 

Dari 730 buah laporan penelitian yang berhasil diidentifikasi, hanya terdapat 45 buah uji klinis, 27 menggunakan amoksisilin, 17 menggunakan kombinasi amoksisilin-asam klavulanat dan 1 melibatkan keduanya. Indikasi terapi antibiotika untuk penyakit infeksi yang bervariasi. Hanya terdapat 25 laporan penelitian yang  memberikan data efek samping obat, yang menunjukkan sangat sedikitnya data tersebut. Efek samping antibiotika berupa diare yang disebabkan oleh kombinasi amoksisilin-asam klavulanat memiliki rasio odds [OR] 3,30 (95% CI 2,23-4,87). OR untuk kandidiasis pada 3 penelitian secara signifikan lebih tinggi (OR 7,77, 95% CI 2,23-27,11). Ruam, gatal, mual, muntah dan hasil abnormal pada tes fungsi hati tidak meningkat secara signifikan. Hasilnya tidak berbeda dengan adanya analisis sensitivitas, juga dengan analisis ‘funnel plots’ tidak menunjukkan bias publikasi.

 

Diare yang disebabkan oleh penggunaan amoksisilin-asam klavulanat, dan kandidiasis yang disebabkan oleh amoksisilin dan amoksisilin-asam klavulanat, telah dilaporkan di sebagian besar penelitian. Namun demikian, insidensi yang sesungguhnya mungkin telah lebih tinggi dari yang dilaporkan. Selain itu, angka ini menunjukkan efek samping terapi antibiotika amosisilin, yang dapat membantu dokter untuk menyeimbangkan informasi tentang bahaya dan manfaat antibiotika.

 

Risiko bias terhadap nol (the risk for bias toward the null) dalam sebuah analisis statistik harus secara jelas dinilai dalam pembahasan hasil penelitian. Pendekatan seperti ini akan mencegah terjadinya  rasa aman palsu (the false sense of security), yaitu saat obat yang tidak benar dinyatakan aman atau tidak berbeda secara bermakna dengan obat pembanding. Hal ini juga berarti bahwa tidak adanya bukti efek samping obat, tidak sama dengan bukti tidak adanya bahaya (absence of evidence of harm is not the same as evidence of absence of harm).

 

Pengambilan keputusan tentang penggunaan antibiotika, seharusnya dilakukan bersama antara dokter dengan pasien. Penjelasan dokter yang meyakinkan dan seimbang tentang manfaat dan efek samping antibiotika, akan membuat keputusan yang diambil semakin bijaksana.

 

 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.