Prof. dr. Darto Satoto, SpAn(K) | ethicaldigest

Prof. dr. Darto Satoto, SpAn(K)

Kecintaannya pada bidang kedokteran anastesi, sudah sejak menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). “Tepatnya saat semester akhir,” ujar Prof. dr. Darto Satoto, SpAn(K). Masih sedikitnya jumlah spesialis anastesi ketika itu, menjadi penyemangat.

Lulus dokter umum tahun 1970, anak pertama dari 5 bersaudara ini langsung ikut Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Departemen Anastesiologi dan Intensive Care FKUI. Selama satu tahun ia juga memperdalam keilmuan Intensive Care Unit di Austrasia. Di sana, “Saya banyak belajar mengenai Critical Care dan Anastesi Regional.”

Dalam bidang penanganan nyeri di Indoensia, Prof. Darto Satoto (72 tahun) adalah pakarnya. Kini, bidang ini semakin naik daun. Makin banyaka rumah sakit dan klinik yang fokus menangani nyeri.  Sub spesialisisi penanganaan nyeri, saat ini bisa dilakukan berbagai bidang kedokteran, seperti dokter bedah saraf, dokter bedah umum, dokter rehabilitasi medik,  dan dokter orthopaedi. Ia memprediksi, “Ilmu kedokteran penanganan nyeri akan semakin berkembang, terlebih dengan adanya teknologi alat bantu seperti USG, X-ray dengan berbagai metodenya.”

Sudah pensiun, Prof. Darto masih mengajar dan membimbing mahasiswa serta melakukan tindakan. Praktek di Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, Jakarta, di usia yang tidak lagi muda, ia masih menyempatkan diri mendaki gunung. “Naik gunung itu hobi lama. Tetap saya lakukan dan tularkan  terutama kepada PPDS saya.” Apa menariknya naik gunung? “Selain agar tetap sehat, udara gunung  bersih, sejuk, dan pemandangannya indah.” Beberapa gunung sudah ia taklukan seperti Gunung Gede, Gunung Salak dan beberapa gunung lain di Indonesia. “Di Gunung Salak, saya sampai ke puncaknya.” .

Kelahiran Surabaya, 31 Agustus 1944, ini juga hoby fotografi. “Saya tekuni sejak tahun 1970. Dari analog hingga kini digital,” paparnya. Pengalaman menarik hunting foto, adalah ketika dapat mengabadikan primata terkecil di dunia, di Sulawesi. “Konon, sekarang ada jenis primata yang lebih kecil lagi.”

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.