Penanganan Hipertensi pada Kehamilan | ethicaldigest

Penanganan Hipertensi pada Kehamilan

Pengelolaan Hipertensi Gestasional (NICE Guideline 2011)

Derajat Hipertensi

Ringan

Sedang

Berat

 

140/90 sampai 149/99 mmHg

150/100 sampai 159/109 mmHg

160/110 mmHg atau lebih

Masuk RS

Tidak

Tidak

Ya (sampai tekanan darah 159/109 mmHg atau lebih rendah

Obat

Tidak

Obat oral; target diastolic 80-100 mmHg, Sistolik <150mmHg

Obat oral; target diastolic 80-100 mmHg, sistolik <150mmHg

Pengukuran tekanan darah

Minimal sekali seminggu

Minimal 2 kali per minggu

4 kali sehari

Pemeriksaan proteinuria

Setiap kunjungan strip tes atau rasio urinary protein : kreatinin

Setiap kunjungan strip tes atau rasio urinary protein : kreatinin

Setiap hari, strip tes atau rasio urinary protein : kreatinin

Pemeriksaan biokimia

Hanya pemeriksaan yang biasa pada antenatal

Pemeriksaan fungsi ginjal, elektrolit, dpl, transaminase, bilirubin. Apabila tidak ada proteinuria, pemeriksaan darah tidak diperlukan

Setiap minggu: fungsi ginjal, elektrolit, dpl, transaminase, bilirubin.

Pilihan obat untuk hipertensi kronis

Yang perlu diperhatikan dalam penanganan hipertensi kronis, penurunan tekanan darah yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan perfusi plasenta, yang memperburuk prognosis perinatal. Ada buku pedoman penatalaksanaan hipertensi pada keadaan khusus hipertensi pada wanita, yang dikeluarkan Indonesian Society of Hypertension tahun 2010. Jika tekanan darah melebihi 160/100 mmHg, pasien harus diintervensi dengan terapi farmakologis. Terapi yang bisa diberikan adalah Methyldopa, Labetalol dan Nifedipine. Hindari penggunaan ACE inhibitor, ARB, beta bloker dan diuretik golongan thiazide.

Pilihan pengobatan untuk preeklampsia

Berat ringan penyakit tergantung pada derajat hipertensi, proteinuria dan luasnya organ yang terlibat (antara lain: ginjal, susunan saraf pusat, hepar, sistim kardiovaskular dan sistim pernafasan). Target penatalaksanaan adalah menurunkan morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal, dengan mencegah kejang, menurunkan tekanan darah dan mengakhiri kehamilan dengan mempertimbangkan saat yang paling optimal untuk ibu dan bayi.

Dari tinjauan restrospektif terhadap 28 kasus preeklampsia berat+stroke,  lebih dari 90% kasus terjadi saat tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg dan 12,5% kasus pada tekanan darah diastolic lebih dari 110 mmHg. Dalam pengobatan, tekanan darah diturunkan dengan target 140-150 mmHg untuk tekanan darah sistolik dan 90-105 mmHg untuk tekanan darah diastolic.

Target tekanan darah dicapai dengan menurunkan tekanan arterial rata-rata 20% dari waktu datang secara bertahap. Terapi yang dapat digunakan adalah labetalol dan hidralazine intravena untuk kasus preeklampsia akut. Hidralazine diberikan dengan dosis 50-10mg intravena setiap 15-30 menit (max 30 mg). labetalol intravena dengan dosis awal 20 mg. bila tidak efektif dinaikkan 40 mg, lalu 80mg setiap 10 menit sampai target tekanan darah tercapai atau bila dosis maksimal harian tercapai (dosis maksimal harian labetalol intravena adalah 220mg/24 jam). Atau lebih praktis menggunakan nifedipin. Dosis tergantung dari berat-ringannya hipertensi.

Isu-isu yang berkembang pasca kelahiran

Isu-isu yang berkembang paska kelahiran meliputi: apakah harus melanjutkan pengobatan hipertensi, efek samping obat terkait dengan pemberian ASI dan kesehatan jantung ibu dalam jangka panjang. Guideline NICE melarang penggunaan metildopa pasca kelahiran. Bukan karena kekhawatiran efek samping saat menyusui tetapi, tapi karena potensinya untuk memperburuk depresi pasca melahirkan. Ada beberapa obat antihipertensi lain yang digunakan sebelum kehamilan, yang tampaknya aman, seperti kaptopril dan enalapril.

Sekarang diketahui bahwa pre-eklampsia adalah pertanda penyakit arteri. Beberapa guideline telah merangkumnya. Karena itu, setiap wanita yang mengalami preeklampsia harus diberi tahu mengenai risiko ini, meski rencana spesifik tindakan lanjutan belum dapat direkomendasikan. Meski demikian, preeklampsia merupakan satu komponen penting dari riwayat kesehatan seorang wanita, ketika dia datang berobat di kemudian hari karena keluhan kardiovaskular.

HIPERTENSI HAMIL

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.