Vitamin B Cegah Neuropati | ethicaldigest

Vitamin B Cegah Neuropati

Kontrol gula darah dan pengobatan simtomatik memiliki kekurangan dalam mencegah neuropati diabetika. Dapat disegah dengan pemberian suplemen vitamin B1, B6 dan B12.

Gangguan neuropati merupakan komplikasi serius penyakit diabetes, angka kejadiannya cukup tinggi. Rochester Diabetic Study menunjukkan, sekitar 50% penderita diabetes melitus mengalami polineuropati. Namun, hanya 15% pasien diabetes tipe 1 dan 13% pasien diabetes tipe 2 yang menunjukkan gejala. Pada penelitian di RS Ciptomangunkusumo, dari 96 orang yang tidak memiliki keluhan, sekitar 80% mengalami neuropati.

“Hiperglikemia membuat kadar glukosa di saraf meningkat. Ini berdampak pada banyak jalur patologis,” ujar dr. Imam Subekti Sp.PD-KEMD. Jalur pertama adalah peningkatan produksi sorbitol, yang akan menghambat influx mioinositol ke dalam saraf. Kedua, peningkatan pembentukan AGE, yang menyebabkan penurunan aktivitas oksida nitrat. Penurunan aktivitas ON bersamaan dengan penurunan produksi NO menyebabkan penurunan vasodilatasi, sehingga menurunkan aliran darah saraf. Ketiga, hiperglikemia mengaktifkan protein kinase yang menghambat aktifitas sodium, potasium ATPase. ”Kita tahu, enzim ini sangat penting. Jika enzim ini turun, kecepatan konduksi saraf akan menurun,” tambahnya.

Keluhan utama neuropati adalah rasa nyeri neuropati peripheral, yang dialami 11-26% pasien. “Sebagian besar penderita tidak mengalami nyeri. Alasan mengapa ada pasien dengan neuropati peripheral diabetic tidak nyeri, tidak diketahui,” kata dr. Imam. Gejala lain berkisar dari disesthesia sampai nyeri berat, yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien.

Menurut Prof. Karlheinz Reiners dari Departemen Neurologi, University Hospital Wurzburg, Jerman, ada tiga pendekatan penanganan nyeri pada penderita polineuropati. Yaitu dengan memperbaiki kontrol glikemia, terapi simtomatik dan menghambat jalur metabolik patogenik. Namun, pendekatan kontrol kadar gula darah dan pengobatan simtomatik memiliki keterbatasan dalam mencegah komplikasi neuropati.

“Dari UKPDS diketahui bahwa dengan pengobatan intensif, HBA1c bisa diturunkan dalam satu tahun pertama. Tapi, kemudian secara perlahan meningkat lagi, walau diberi pengobatan,” kata Prof. Karlheinz. HbA1c memiliki hubungan sangat erat dengan risiko neuropati. Hubungan ini terlihat dari penelitian Eurodiab, di mana prevalensi neuropati diabetika meningkat bersamaan dengan peningkatan HBA1c.

Ada pun pengobatan simtomatis, kadang gagal mencegah neuropati karena pasien biasanya baru berobat kalau sudah sakit. Padahal, sebagian besar penderita neuropati diabetika tidak menunjukkkan gejala. Dan, jika gejala muncul biasanya sudah terlambat.

Sebuah penelitian menemukan adanya penurunan serat saraf pada penderita neuropati. Jika penurunannya lebih dari 50%, pasien akan mengalami keluhan dan mereka pergi ke dokter. Sayangnya, jika serat saraf sudah menurun lebih dari 50%, kondisi penderita tidak bisa dikembalikan seperti semula, point of no return. Itulah pentingnya pengobatan dilakukan sesegera mungkin.

“Metode pendekatan yang berkembang saat ini adalah menghambat jalur pathogenesis terjadinya neuropati,” kata Prof. Karlheinz. Bisa dilakukan dengan memberikan suplemen vitamin B1, B6 dan B12. Suplemen vitamin B efektif mencegah neuropati, jika diberikan dengan dosis optimal dan diberikan sedini mungkin.

Dari berbagai penelitian terlihat, vitamin B1 mencegah nefropati dibetika, retinopati, neuropati dan dislipidemia. Juga membantu penyembuhan luka, memperbaiki defisit angiogenesis dan memperbaiki disfungsi sel progenitor endotel. Pada penelitian Rabbani dan kawan-kawan, pemberian vitamin B1 lebih efektif menurunkan ekresi albumin melalui urin dibanding plasebo. Juga memperbaiki GFR lebih baik dibanding plasebo.

Sementara vitamin B6, dibuktikan menurunkan pembentukan AGE, peroksidasi lipid, glikosilasi protein dan menurunkan penghambatan Na/K-ATPase. Mengenai laporan terjadinya ataxia dan neuropati sensorik motorik berat, Scahaumburg mengatakan, dosis aman pemberian vitamin B6 adalah 300-450mg/hari. Sedangkan anjuran FDA adalah 100-300mg/hari. “Tidak ada laporan toksisitas vitamin B6, jika diberikan bersamaan dengan vitamin B1-B6 dan B12,” kata Prof. Karlheinz.

Vitamin B12 penting untuk integritas myelin pada sistim saraf pusat dan sistim saraf peripheral. Penderita diabetes tipe 1 dan 2 biasanya mengalami defisiensi vitamin B12. Penyebabnya adalah penggunaan metformin. Pemberian suplemen vitamin B12 dapat menutupi kekurangan, sehingga dapat memperbaiki gejala neuropati peripheral dan disfungsi otonomik,

Vitamin B merupakan terapi yang efektif untuk mencegah neuropati diabetika. Karena bekerja secara efisien pada patofisiologis penyakit, dapat digunakan jangka panjang, tidak mahal dan mudah didapatkan.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.