Terapi Utama Dermatitis | ethicaldigest

Terapi Utama Dermatitis

Dermatitis atopi  atau eksim merupakan suatu kondisi peradangan kulit yang tidak diketahui penyebabnya dan secara primer terjadi pada bayi dan anak-anak. Hampir 10 sampai 20 persen populasi dunia pernah mengalami kondisi ini saat masih anak-anak. Meski demikian, pada hampir setengah anak-anak ini, penyakit ini akan membaik antara umur 5 sampai 15 tahun. Yang lainnya akan mengalami penyakit ini sampai dewasa.

Atopi diartikan sebagai kelainan dasar genetik yang ditandai kecenderungan individu untuk membentuk antibodi berupa imunoglobulin E (IgE) spesifik bila terpapar allergen. Bila anak makin bertambah usia, biasanya bintik-bintik dapat ditemukan pada lipatan lengan dan tungkai. Rasa gatal akan bertambah pada malam hari.

Rasa gatal juga muncul, bila ada rangsangan dari garukan, rangsangan keringat, udara kering, bahan iritan (sabun, detergen), atau bila terinfeksi oleh bakteri. Sebanyak 50 persen kasus penderita dermatitis atopi pada anak, dapat menghilang saat remaja. Tapi, dapat juga menetap atau bahkan baru terjadi pada usia dewasa.

Kortikosteroid topical dianggap sebagai pengobatan utama, pada penderita dengan dermatitis atopik. Kadang, kepada penderita juga diberikan antigatal dan antibiotik untuk dermnatitis yang disertai infeksi bakteri atau jamur. Untuk reaksi dermatitis atopik yang berat, dibutuhkan steroid untuk menekan peradangannya. Bila basah, perlu dikompres dengan kassa yang dibasahi cairan PK lebih dulu. Setelah kering, baru dioleskan salep steroid.

Kortikosteroid dijadikan pilihan utama, karena merupakan imunosupressan yang kuat dan sebagai anti inflamasi. Kekuatan kortikosteroid yang dipilih, harus memperhatikan tingkat keparahan gejala dan lokasi lesi. Sebagai contoh, pemakaian kortikosteroid topikal dengan potensi kuat harus dihindarkan dari daerah wajah, genitalia dan daerah lipatan tubuh. Khusus untuk daerah-daerah tersebut, obat yang secara umum direkomendasikan merupakan salep steroid dengan potensi ringan. Tujuannya untuk menghidari adanya potensi efek samping, yang mungkin muncul.

Semakin tinggi potensinya, semakin besar kemungkinan terjadi efek samping. Penggunaan steroid topical, juga hanya ditekankan pada daerah lesi dermatitis atopi saja. Sedangkan pada kulit yang tidak terlibat, cukup dengan emolient (pelembab), untuk menghindari kulit kering dan proses inflamasi.

Lebih dari 10 tahun lalu, diflucortolone valerate (Nerisone, Nerisona) diperkenalkan di Jerman  dan tidak lama kemudian juga di negara-negara Asia dalam konsentrasi 0,1% dalam bentuk krim, salep dan salep berlemak. Dalam satu penelitian pertama di Asia Tenggara ,sebanyak 897 pasien secara acak diberi 3 sediaan diflucortolone valerate. Hasilnya diflucortolone valerate memiliki efikasi dan tolerabilitas yang baik, serta memiliki onset kerja yang cepat. Hasil-hasil ini kemudian dikonfirmasikan di Indonesia, dalam suatu penelitian follow up yang melibatkan 1.295 pasien.

Suatu kombinasi 0,1% diflucortolone valerate dengan 1,0% chlorquinaldol diperkenalkan di pasaran, setelah keluar hasil penelitian multicenter Asia Tenggara  melibatkan 8.668 pasien dengan alergi kulit atau inflamasi kulit, di mana pengobatan dengan antiinfeksi, untuk profilaksis atau terapi, diindikasikan. Penelitian ini mencapai hasil yang sangat baik berkenaan efikasi pengobatan, tolerabilitas dan tampilan kosmetik dari kulit.

Sementara penelitian lain dengan disain acak buta ganda, membandingkan preparasi ini dengan kombinasi yang disebut 'shotgun', mengandung 0,05% betamethasone 17-valerate, 0,1% gentamicin, 1,0% tolnaftate dan 1,0% clioquinol pada 288 pasien di Filipina. Hasilnya terlihat, preparasi  kombinasi diflucortolone valerate dengan  chlorquinaldol memiliki efikasi yang lebih baik pada 80 pasien dengan penyakit kulit yang terinfeksi bakteri atau jamur.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.