Satu Hormon Banyak Manfaat | ethicaldigest

Satu Hormon Banyak Manfaat

Dulu orang menganggap penuaan adalah suatu proses alamiah, yang akan terjadi pada semua orang. Kini, paradigm itu sudah berubah. Menurut Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And dari FK Universitas Udayana, Denpasar (Bali), penuaan dianggap sebagai suatu penyakit yang dapat dicegah, diobati atau dikembalikan ke keadaan semula. "Orang menua karena kadar hormone menurun, tetapi hormone tidak turun karena penuaan," ujarnya.

Mulai usia 25 tahun, ada beberapa jenis hormone yang kadarnya menurun dalam tubuh, salah satunya testosterone. Akibatnya, terjadi penurunan fungsi organ tubuh. Pada pria, penurunan hormone testosteron akan membawa pada masa andropause. Tetapi, tidak semua pria mengalaminya.

Mekanisme yang mendasari terjadinya andropause, adalah karena menurunnya fungsi sistem reproduksi pria yang selanjutnya menyebabkan penurunan kadar testosteron sampai dengan di bawah angka normal fisiologis. Ini disebut juga hipogonadisme, sebagian besar terjadi atau dialami pria sekitar usia 40-50 tahun.

Testosterone terdiri dari free testosteron dan bound testosterone. Bound testosterone berikatan dengan albumin dan globulin. Bersamaan dengan bertambahnya usia, testosterone lebih berikat banyak pada globulin. Akibatnya, testosterone yang berikat pada albumin menurun dan free testosteron dalam darah menurun. "Kita ketahui dari penelitian-penelitian bahwa free testeoteron adalah yang memegang peranan terpenting, terutama dalam seks arousal," kata Prof. Dr. dr. Arif Adimoelja, Sp.And  dari FK Universitas Hang Tuah, Surabaya.

Itu sebabnya, penuaan sering dihubungkan dengan penurunan fungsi seksual pada pria. Hubungan yang erat antara penuaan dan penurunan fungsi seksual, sudah diketahui dari penelitian di tahun 1979 yang menunjukkan, sekitar 75% laki-laki berusia lanjut mengalami ejakulasi dini. Dari penelitian lain, MMAS, tahun 1994, ditemukan bahwa lebih dari 50% pria diatas umur 40 tahun mengalami masalah seksual.

Menurut Prof. Arif, disfungsi ereksi sebenarnya merupakan suatu pintu gerbang bagi kesehatan pria. Itu karena disfungsi ereksi berhubungan erat dengan penyakit lain, seperti sindroma metabolik, hipertensi, diabetes, dislipidemia dan sindrom defisiensi testosterone. "Komorbiditas yang menyertai disfungsi ereksi, misalnya penyakit jantung, yang mempunyai prevalensi sama besarnya dengan merokok, mestinya perlu kita waspadai juga," imbuh Prof. Arif. 

Sebuah penelitian menunjukkan, rendahnya kadar testosterone berhubungan erat dengan sindroma metabolik dan obesitas (terutama obesitas di abdomen). Dan obesitas dihubungkan dengan hipogonadisme dan disfungsi ereksi. Setelah melakukan penyesuaian usia, pria dengan hipogonadisme mengalami peningkatan risiko  resistensi insulin dan diabetes sebesar 2,3 kali.

Intervensi dengan memberikan testosterone menyebabkan penurunan kadar lemak (visceral), meningkatkan lean body mass, memperbaiki kontrol glikemia dan profil ipid. Namun, perbaikan ini tidak dicapai dalam waktu singkat. Dibutuhkan waktu sekitar 6 bulan, setelah memulai terapi dengan testosterone.

Prof. Arif menambahkan, “Pemberian Testosteron juga telah dibuktikan mampu mempercepat penyebuhan pada luka penderita diabetes setelah digunakan selama 3 minggu." Testosteron juga berperan penting dalam tulang, terutama bagi penderita osteoporosis. Pemberian testosteron juga menyebabkan efek yang sangat bagus pada tunica albuginea, di mana dihasilkan ereksi yang keras. Bila tubuh pria kekurangan testosteron akan mengakibatkan beberapa gangguan kesehatan.

Penggunaan testosteron undecanoate 1000 mg larut dalam minyak castrol, efektif dan mudah digunakan karena dengan hanya 4x suntikan dalam setahun, dapat mengembalikan kadar testosteron dalam kisaran normal, meningkatkan kualitas hidup pria dan aman jika digunakan secara benar. Terapi ini dindikasikan untuk orang dengan sindrom defisiensi testosterone dan memiliki kadar testosterone di pagi hari di bawah 12nmol/dibawah nilai normal menengah.

Berbagai penelitian menunjukkan, pemberian testoteron TU 1000mg (Nebido) dapat meningkatkan kadar testosterone dalam serum dan meningkatkan konsentrasi estradiol dalam serum pada 14 pria dengan hipogonadisme. Penelitian lain menunjukkan, pemberian testosterone dapat meningkatkan hasrat seksual. Sementara pada penelitian Yassin A dan kawan-kawan, terbukti bahwa pemberian Nebido pada 22 pasien hipogonadisme dapat meningkatkan fungsi ereksi. 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.