RS Tentara Dr. R. Hardjanto, Balikpapan Pelayanan Unggulan Terapi Methadon | ethicaldigest

RS Tentara Dr. R. Hardjanto, Balikpapan Pelayanan Unggulan Terapi Methadon

Di Rumah Sakit Tentara dr. R. Hardjanto, Balikpapan, Kalimantan Timur, terdapat sebuah ruangan berukuran 5x5 m2. Di ruangan inilah Program Terapi Rumatan Methadon (PTRM), yang merupakan pelayanan unggulan rumah sakit ini dilakukan.

“Pelayanan methadon adalahu pelayanan kesehatan dan konseling bagi klien yang mengalami gangguan kejiwaan, akibat ketergantungan obat-obatan psikotropika disertai perawatan dan dukungan secara professional oleh dokter yang berpengalaman. Privacy pasien terjaga,” ujar Kepala RST Dr. Harjanto Kolonel CKM dr. Agus Yogaswara.

WHO mendapati bahwa penyebab meningkatnya kasus HIV/AIDS terutama akibat penggunaan narkoba melalui jarum suntik rame-rame. Terapi methadon telah dilakukan di beberapa Negara, termasuk Amerika Serikat, dan berhasil menurunkan angka kematian 30%, dibanding pengguna jarum suntik yang tidak menjalani terapi methadon. PTRM mulai dibuka 15 Juli 2013.

Methadon adalah agonis parsial opioid sintetik yang kuat, dan secara oral diserap dengan baik. Methadon berkhasiat sebagai suatu analgetik dan euphoria, bekerja pada reseptor opioid mu (µ) dan mirip ikatan agonis opioid mu (µ) yang lain, misalnya morfin. Methadon dipilih sebagai terapi utama substitusi, karena efeknya menyerupai morfin dan kokain dengan masa kerja lebih panjang, sehingga dapat diberikan 1x sehari dan penggunaannya melalui oral. Efek yang ditimbulkan mirip dengan yang ditimbulkan heroin atau putau, tapi sifat ketergantungannya tidak seburuk heroin dan gejala withdrawal yang ditimbulkan tidak seberat heroin.

Efek methadon antara lain sebagai analgetik, sedatif, depresi pernapasan dan euforia. Efek lain adalah menurunkan tekanan darah, konstriksi pupil dan efek pada saluran cerna, yaitu memperlambat pengosongan lambung karena mengurangi motilitas, meningkatkan tonus sfingter pilori, dan meningkatkan tonus sfingter Oddi yang berakibat spasme dari saluran empedu.

Efek samping: gangguan tidur, mual-muntah, konstipasi, mulut kering, berkeringat, vasodilatasi dan gatal-gatal, menstruasi tidak teratur, ginekomastia dan disfungsi seksual pada pria, serta retensi cairan dan penambahan berat badan. Efek samping tidak banyak dialami oleh mereka yang telah menggunakan heroin.

Onset efek methadon terjadi sekitar 30 menit setelah diminum. Konsentrasi puncak dicapai 3-4 jam setelah diminum. Rata-rata waktu paruh methadon adalah 24 jam. Obat ini mencapai kadar tetap dalam tubuh setelah penggunaan 3-10 hari. Setelah stabilisasi dicapai, variasi konsentrasi methadon dalam darah tidak terlalu besar dan supresi gejala putus obat lebih mudah dicapai. Terapi dilakukan minimal selama 1 tahun.

Metadon banyak diikat oleh protein plasma dalam jaringan seluruh tubuh, dapat diketemukan dalam darah, otak dan jaringan lain seperti ginjal, limpa, hati, serta paru-paru. Konsentrasi methadon dalam jaringan tersebut lebih tinggi daripada dalam darah. Ikatan tersebut menyebabkan terjadinya akumulasi methadon dalam badan cukup lama, bila seseorang berhenti menggunakannya.

 

Alur Pelayanan PTRM

PTRM buka setiap hari, jam 10.00 – 12.00. Setiap kali minum obat, pasien cukup membayar Rp.5.000 untuk menggantikan sirup yang digunakan mencampur  methadon, cup dan snack. Pertama kali datang, terhadap pasien dilakukan anamnesis oleh Kapten CKM dr. Ragu Raman, SpKJ, untuk mengetahui jenis psikotropika yang digunakan. Jika menggunakan zat opiat atau putau, pasien bisa menjadi kandidat peserta PTRM. Setelah dilakukan anamnesis secara mendalam, dilakukan pemeriksaan urin untuk mengetahui kandungan opiat di urin pasien. Jika hasil urin positif, dilakukan edukasi dan persetujuan dari pasien dan keluarga, pendamping atau wali dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau Dinas Sosial setempat. Pelaksanaan pelayanan methadon diawasi langsung oleh spesialis kesehatan jiwa,  dibantu dokter umum.

PTRM bertujuan untuk menilai, apakah substitusi methadon dapat diterima sebagai salah satu pilihan untuk pengobatan ketergantungan opiate seperti morfin. Tujuan khususnya adalah menurunkan pemakaian NAPZA suntik, untuk mencegah penularan penyakit melalui darah seperti HIV/AIDS, Hepatitis B dan C, dengan cara mengurangi pemakaian obat melalui suntikan dan bertukar jarum suntik. Juga untuk membantu pemakai mencapai keadaan bebas obat dengan cara detoksifikasi serta meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan status kesehatan pengguna narkotika dan zat aditif sehingga dapat kembali hidup normal dan produktif.

Saat ini, jumlah peserta PTRM wajib lapor di Dinas Kesehatan Kota Balikpapan  35 orang. Peserta PTRM saat ini 4 orang, berusia 36-37 tahun, berjenis kelamin laki-laki. Sebelumnya mereka menggunakan putaw dan semuanya berasal dari kelas ekonomi menengah. Peserta merasa terbantu dengan adanya PTRM, satu-satunya di Balikpapan.

Program PTRM berupa harm reduction, yaitu upaya untuk mengurangi dampak buruk penggunaan NAPZA dan terapi terhadap ketergantungan kronis opium atau heroin suntik. Program terdiri dari beberapa kegiatan.

Kegiatan Biologik berupa: Layanan Methadon oral; Pemantauan kesehatan atau fisik oleh dokter umum; Sistem rujukan ke poliklinik atau bagian lain di RST Dr. R. Hardjanto; Pemeriksaan laboratorium darah: LFT (Tes Fungsi Hati), Hepatitis B dan C, HIV (VCT), darah lengkap, dan urine opiate; Distribusi kondom gratis dengan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi).

Kegiatan Psikologik: Pemeriksaan oleh psikiater; Layanan konseling (umum, adiksi, dan dukungan); Layanan VCT (Voluntary Counseling and Testing); Support Group (kelompok dukungan); CBT (Cognitive Behaviour Therapy); Pertemuan klien; Family Support (dukungan keluarga).

Kegiatan Sosial: Bakti social; Pelestarian lingkungan; Kegiatan lain yang didukung organisasi klien; Kegiatan pelatihan keterampilan bekerjasama dengan Depsos.

Kegiatan Budaya-Spiritual: Pengembangan potensi dan bakat; Siraman rohani semua umat; Sembahyang bersama.

 

Kriteria Peserta

Untuk menjadi peserta PTRM, klien lebih dulu dinilai oleh dokter yang diberi ijin untuk meresepkan methadon. Penilaian mencakup kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi bagi pengguna, yaitu:

  1. Memenuhi kriteria DSM-IV untuk diagnosa psikiatri klien dengan ketergantungan zat, yaitu:
    • - Toleransi (kebutuhan akan penambahan dosis yang mencolok, agar diperoleh keadaan intoksikasi atau efek yang diinginkan, berkurangnya efek secara mencolok karena penggunaan berulang dengan dosis yang sama).
    • - Gejala putus obat (sindrom putus zat yang khas pada zat tersebut. Zat yang sama harus digunakan untuk menyembuhkan atau menghindari gejala putus obat)
    • - Zat-zat yang digunakan lebih banyak atau lebih lama, daripada yang dimaksudkan.
    • - Adanya keinginan menetap atau usaha yang tidak berhasil, untuk  menghentikan atau mengendalikan penggunaannya.
    • - Sebagian besar waktu habis untuk mencari, menggunakan atau pulih dari zat.
    • - Berkurang atau berhentinya kegiatan sosial, pekerjaan, rekreasi karena penggunaan zat.
    • - Penggunaan zat berlanjut walau ada masalahan jasmani dan psikologi.
      Bila tanpa gejala toleransi atau putus obat, disebut tidak disertai ketergantungan fisik. Ketergantungan zat bila didapatkan 3 atau lebih dari yang tersebut di atas, dan terjadi kapan saja dalam periode 12 minggu yang sama.
  2. Usia 18 tahun atau lebih
  3. Penggunaan Jarum Suntik (Penasun) kronis dengan kriteria:
    • - Lama ketergantungan heroin minimal 1 tahun sejak pertama kali menggunakan.
    • - Berat berdasarkan perkiraan toleransi terhadap heroin (fisik dan psikologi).
    • - Pernah ikut modalitas terapi lain tetapi gagal.
  4. Penasun yang kambuh atau beresiko kambuh sesudah mengikuti PTRM sebelumnya.
  5. Usia kurang dari 18 tahun dengan alasan khusus

 

Selain memenuhi kriteria inklusi, calon peserta harus tidak memiliki salah satu kriteria eksklusi. Seperti memiliki penyakit fisik berat, psikosis yang jelas, retardasi mental yang jelas dan kelebihan dosis (intoksikasi opiate).

 

Sejarah

RS Tentara Dr. R. Hardjanto Balikpapan awalnya rumah sakit militer Belanda, diperkirakan berdiri pertengahan 1945, dikepalai Kapten Dr. V. De Meer. Semula,  rumah sakit berupa kemah yang difungsikan sebagai poliklinik dan kamar operasi. Seiring berjalannya waktu, rumah sakit terus berkembang. RS ini khusus melayani para prajurit. Pada 6 Mei 1950, dilakukan serah terima dari Belanda kepada Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD).

Pihak Belanda diwakili Kapten Dr. Slachten, dan dari pihak TNI-AD diwakili  Kapten Dr. Moeljoto. Pada saat itu RS dalam keadaan kosong personil, alat perlengkapan dan obat-obatan.

Rumah sakit bertujuan memberi pelayanan kesehatan bagi prajurit, Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan keluarganya serta masyarakat. Paradigma RS adalah menjadikannya sebagai rumah sehat, yang dalam memberikan pelayanan kepada pasien akan tercipta kondisi sehat jasmani dan rohani.

 

Rumah Sakit Tentara Dr. R. Hardjanto memiliki sumber daya manusia yang berkompeten sesuai bidangnya. SDM semua tingkatan diingatkan selalu berpegang pada Standard Operasional Prosedur (SOP), untuk menghindarkan kasus malpraktik. Pihak rumah sakit mendukung personel yang memiliki minat dan kemampuan untuk meningkatkan strata pendidikan ke diploma 3 (D3), Strata 1 (S1), Strata 2 (S2), atau program spesialisasi.

SDM berkualitas, selain agar dapat meningkatkan pelayanan terhadap pasien dan keluarga, juga agar dapat memenangkan persaingan rumah sakit. RS Tentara Dr. R. Hardjanto selain mempersiapkan SDM yang berkualitas, sarana dan prasarana serta layanan unggulan seperti unit Medical Check Up dan Klinik Methadone terus dikembangkan. Dan sebagai RS tentara, rumah sakit ini sangat memperhatikan kedisiplinan para personel, kebersihan dan kenyamanan lingkungan.

RST Dr. R. Hardjanto terdiri dari UGD 24 jam, Poli Imum, Unit Medical Check Up, Poli Penyakit Dalam, Poli Anak, Poli Jantung/ Paru, Poli Bedah, Poli Keswa, Poli Gigi, Poli THT, Poli Mata, Poli Kebidanan dan Kandungan, Poli Rehabilitasi Medik (fisioterapi), Unit Perawatan Intensif (ICU) untuk dewasa, anak dan neonates. Juga ada Unit Hemodialisa, Poli Voluntary Counselling and Testing (VCT)/HIV-AIDS, Poli Tuberculosis dan Directly Observed Therapy Short Course (DOTS). RS ini juga menjalankan peran sosial dengan mengadakan pengobatan massal, khitanan massal, operasi katarak dan operasi bibir sumbing secara cuma-cuma.

 

RS Tentara Dr. R. Hardjanto, Balikpapan

 

Gambar Penunjang:

Suasana Ruangan Pelayanan Methadon di RST Dr. R. Hardjanto, Balikpapan

Suasana Ruangan Pelayanan Methadon di RST Dr. R. Hardjanto, Balikpapan

 

Petugas Meracik Methadon untuk Pasien

Petugas Meracik Methadon untuk Pasien

 

Peserta Methadon yang sedang Minum Methadon Harian

Peserta Methadon yang sedang Minum Methadon Harian

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.