Risiko Bunuh Diri Penderita Bipolar | ethicaldigest

Risiko Bunuh Diri Penderita Bipolar

Bencana atau musibah, dalam bentuk apa pun, dapat mendatangkan beban yang sangat berat bagi korban. Menurut dr. Mahar Agusno Sp.KJ (K) dari Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa, Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada / RSUP DR. Sardjito Yogyakarta, penderitaan yang dialami korban berupa kecacatan fisik dan pengalaman traumatis, dapat berpengaruh pada kondisi kejiwaan. Jika tanpa intervensi yang adekuat, dapat berlanjut menjadi gangguan mental serius. Bisa juga berakhir dengan upaya bunuh diri.

“Sebagian besar korban akan menunjukkan gejala psikiatri, tetapi sering tidak memenuhi kriteria sebagai suatu diagnosis,” ujar dr. Mahar. Salah satu gejalanya adalah perasaan sedih mendalam, yang mengakibatkan gangguan jiwa serius. Menurut Summerfield (2001), sebanyak 1/3 korban bencana akan mengalami gangguan jiwa serius. Bencana juga menyebabkan terjadinya relaps pada orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan sebelumnya, karena terputusnya pengobatan pada penderita gangguan jiwa kronis.

Bencana menyebabkan peningkatan resiko gangguan bipolar sebesar 15-27%. Ganguan bipolar dicirikan dengan adanya episode mania (mood yang meningkat) dan depresi (mood yang menurun), yang terjadi secara bergantian. Perubahan dari episode mania menjadi depresi dan sebaliknya, dapat berjalan lambat atau cepat (rapid cycling) dan bahkan sangat cepat (ultra rapid cycling dan ultradian cycling). Publikasi Mann JJ et al. di JAMA 2003 menunjukan, risiko bunuh diri pada penderita bipolar mencapai angka 25-50%.

Permasalahan yang timbul dalam penanganan gangguan bipolar, adalah kesulitan dalam melakukan diagnosis lebih dini. Akibatnya, pengobatan menjadi tidak optimal. Hanya sekitar 20% pasien yang dapat didiagnosis secara tepat dalam satu tahun sejak konsultasi yang pertama. Gangguan bipolar sering salah diagnosis menjadi gangguan depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, gangguan kepribadian, penyalahgunaan narkotika mau pun gangguan skizoafektif.

Gangguan bipolar cenderung berlangsung seumur hidup dan terjadi secara berulang-ulang (rekuren). Penderitanya kerap kali mencoba melakukan bunuh diri. “Angka bunuh diri pada gangguan ini, sebanding dengan pada kasus depresi berat,” ujar dr. Mahar. Menurutnya, tingginya angka bunuh diri dan rawat inap pada penderita disebabkan kurang optimalnya pengobatan. Selain itu, banyak penderita tidak patuh terhadap pengobatan atau tidak mendapatkan pengobatan.

Ada beberapa intervensi yang bisa dilakukan, meliputi farmakologi, psikoterapi dan perawatan lanjutan setelah penderita berusaha bunuh diri. Menurut dr. Ign. Darmawan B, Sp.KJ(K), dokter harus berhati-hati dalam menggunakan monoterapi antidepresan. Sebab, jika antidepresan digunakan sebagai monoterapi, malah akan memperburuk keinginan bunuh diri. ”Pertimbangkan untuk mengombinasikan dengan mood stabilizer, seperti Lithium (Li), Divalproex (DVP) dan Carbamazepine (CBZ),” ujar dr. Ign. Darmawan.

Penggunaan obat-obatan mood stabilizer secara signifikan dapat menurunkan angka kejadian bunuh diri. Juga menurunkan angka rawat inap pada penderita gangguan bipolar. Suatu penelitian yang dilakukan terhadap 140 pasien menunjukkan, penggunaan Divalproex dan Carbamazepin dapat melindungi dan mengurangi angka percobaan bunuh diri pada penderita bipolar, serupa dengan penggunaan Lithium. Dosis anjuran untuk Divalproex adalah satu kali sehari dengan dosis permulaan sebesar 25mg/kg berat badan. Dosis bisa ditingkatkan 5-10mg/kg berat badan, dengan dosis maksimum 60mg/kg berat badan.

Mayoritas pasien bipolar 1 memerlukan terapi rumatan dalam jangka panjang. Terapi rumatan juga memiliki tantangan tersendiri. Sebab, pasien merasa sudah baik, sehingga tidak minum obat. Farmakoterapi rumatan direkomendasikan untuk semua semua pasien bipolar 1, yang minimal mengalami episode manik hebat yang sifatnya moderat. CANMAT guideline 2005 merekomendasikan Litium dan Divalproex sodium sebagi terapi rumatan lini pertama. Untuk lini kedua bisa diberikan Carbamazepine, lithium + Divalproex sodium dan  lithium + karbamazepin.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.