Puasa Nyaman dengan GERD | ethicaldigest

Puasa Nyaman dengan GERD

Gejala sakit maag atau dispepsia umumnya dihubungkan dengan telat makan. Seseorang yang punya kecenderungan sakit maag, seperti penderita GERD, akan mengalami sakit ketika terlambat makan. Ketika datang bulan Ramadhan, dan umat Islam diwajibkan berpuasa, penderita khawatir tidak bisa berpuasa. Takut sdakit maagnya kambuh.

Menurut konsultan gastroenterology dari FK Universitas Indonesia, dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, “Tidak ada halangan bagi penderita GERD untuk berpuasa. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan, banyak pasien GERD yang membaik dengan puasa.”

Alasannya, karena dengan  berpuasa jadwal makan, yakni saat sahur dan berbuka menjadi teratur. Selain itu, mereka yang berpuasa tentunya tidak bisa ngemil dan merokok di siang hari. Secara teori, pasien yang menderita GERD akan membaik saat berpuasa Ramadhan.

Salah satu studi tentang manfaat ibadah puasa, dilakukan oleh Dr. Radhiyatam Mardhiyah dari  Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Indonesia. Dalam penelitiannya terlihat bahwa pada kelompok yang berpuasa Ramadhan, memiliki perbedaan median nilai  GERD-Q  yang  bermakna  secara  statistic,   antara  bulan  Ramadhan  dengan  nilai  median  0,  dan di luar bulan Ramadhan dengan nilai median yang meningkat menjadi 4. Dari penelitian ini peneliti menyimpulkan, pada subjek yang menjalani puasa  Ramadhan, keluhan GERD dirasakan lebih ringan dibandingkan di luar bulan Ramadhan.

Meski demikian, jika penderita merasa nyeri hebat hingga muntah saat berpuasa, maka perlu melakukan pengobatan dan puasa sebaiknya dibatalkan. Dan, bagi penderita yang masih belum bisa mengendalikan asam lambung secara alami, sebaiknya mengonsumsi obat yang dapat mengendalikan asam lambung, yang digunakan setengah atau satu jam sebelum makan sahur atau sesudah makan sahur. Jika penderita menggunakan dosis 2 kali sehari, dosis kedua digunakan setelah berbuka. Sebaiknya 30 menit atau 1 jam setelah berbuka dan sebelum makan besar, atau setelah makan besar atau menjelang tidur. 

Para ahli berpendapat, kunci dalam mengendalikan GERD adalah menurunkan lama paparan terhadap refluks asam. Durasi paparan esophagus terhadap refluk asam dengan pH 4.0 atau kurang, berhubungan dengan cidera pada mukosa dan menurunkan kemampuan mukosa yang cidera untuk sembuh. Karenanya, mengendalikan GERD dan penyebuhan erosive GERD, bisa dicapai dengan meningkatkan pH gastik hingga 4 atau lebih selama mungkin.

Standar pilihan pengobatan untuk mengendalikan GERD adalah obat-obatan dari golongan PPI. PPI efektif menghilangkan gejala dan menyembuhkan lesi esofagus pada GERD. PPI terbukti lebih cepat menyembuhkan lesi esofagitis dan menghilangkan gejala GERD, dibanding golongan antagonis reseptor H2 dan prokinetik. Salah satu kelas obat dari golongan PPI adalah Esomeprazole.

Banyak penelitian menunjukkan, esomperazole 40 mg sekali sehari lebih efektif menjaga pH intragastrik 4 atau lebih rendah dibandingkan PPI lain, yang diberikan dalam dosis standar. Penelitian yang sama menunjukkan bahwa esomeprazole 40mg sekali sehari, lebih baik dari PPI lain dalam mencapai pH intragastrik median yang lebih tinggi dalam 24 jam. Dan lebih banyak pasien yang mencapai pH intragastrik ≥4,0, setidaknya dalam 12 jam sehari.

Dalam salah satu penelitian, pH nokturnal diukur dengan membandingkan esomeprazole 40 mg dengan pantoprazole 40 mg dua kali sehari. Hasilnya memperlihatkan, jumlah pasien dengan pH intragastrik >4,0 adalah 85,4% dengan esomeprazole dan 63,6% dengan pantoprazole (p = 0.0001). Sedangkan jumlah pasien dengan pH intragastrik <4,0 untuk setidaknya satu jam antara jam 10 malam dan 6 pagi, teramati pada 26,7% subyek yang mendapatkan esomeprazole dan 73,3% pada mereka yang menggunaan pantoprazole (p = 0.009).

Dari sini disimpulkan bahwa tidak ada halangan bagi penderita GERD untuk berpuasa. Bahkan puasa bisa menghilangkan gejala GERD. Namun, bagi penderita yang masih membutuhkan bantuan obat, esomeprazole efektif mengendalikan asam lambung.                                                                                                                                               

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.