Probiotik Berpotensi untuk Tangkal HIV/AIDS | ethicaldigest

Probiotik Berpotensi untuk Tangkal HIV/AIDS

Virus HIV/AIDS telah merenggut jutaan nyawa di seluruh dunia, sejak pertama kali diperkenalkan pada 1981. Pengobatan dengan ARV mampu menekan replikasi virus, membuat penderitanya mampu bertahan lebih lama. Meski begitu, para ahli terus mencari alternatif terapi, yang lebih efektif dan aman. Penelitian-penelitian telah menemukan, pelepasan reseptor CD4 oleh Lactobacillus memungkinkan bakteri ini berikatan dengan HIV dan mencegah virus tersebut menginfeksi. Temuan ini membuat para peneliti optimis melakukan riset mengenai manfaat probiotik terhadap pasien HIV/AIDS; baik untuk mempertahankan fungsi imun pasien maupun memperbaiki masalah yang berkaitan dengan usus.

Salah satunya, studi preliminer oleh Katia Falasca, dkk (2013), yang meneliti efek probiotik terhadap kadar sitokin pada pasien HIV. Penelitian ini melibatkan 30 laki-laki HIV+ yang menjalani terapi ARV. Mereka diberi probiotik yang mengandung L. casei Shirota strain, 2x sehari selama 4 minggu. Hasilnya, L. casei Shirota strain berhubungan dengan peningkatan limfosit T dan sel-sel CD56+; menurut sebuah studi, CD56+ bekerja sebagai mekanisme protektif yang memperlambat progresi penyakit HIV. Turunnya peradangan dan risiko kardiovaskular juga diobservasi. Pada pasien HIV, inflamasi berlangsung persisten. Mengurangi sitokin inflamatori dan translokasi mikroba dengan strain probiotik tertentu, bisa dipertimbangkan menjadi cara untuk memperbaiki kondisi pasien HIV.

Carter GM, dkk (2016) membuat ulasan sistematik mengenai manfaat dan keamanan probiotik, untuk pasien HIV. Pasien HIV kerap mengonsumsi suplemen makanan termasuk probiotik. Ada kekhawatiran, apakah mengonsumsi organisme hidup aman mengingat rendahnya imunitas mereka. Dari 2.068 referensi, dilakukan analisis pada 27 referensi. Ditemukan kemungkinan manfaat probiotik terhadap jumlah CD4, rekurensi/tatalaksana BV, dan tatalaksana diare. Selanjutnya, diselidiki studi-studi yang menilai sepsis pada populasi pasien. Dari 39 studi dengan 9.402 subyek, tidak ditemukan adanya bakterimia atau fungimia yang terkait suplementasi. Laporan dampak buruk bersifat ringan atau tidak ada.

Universitas Roma La Sapienza, Italia, meneliti efek pemberian probiotik selama 6 bulan terhadap translokasi mikroba pada 10 laki-laki positif HIV yang mendapat terapi ARV. Ditemukan, pemberian probiotik memulihkan populasi sel TH17 dan TH1 di usus maupun di perifer. Juga ditemukan penurunan penanda selular pada aktivasi imun. Semua ini menunjukkan manfaat potensial probiotik untuk menurunkan inflamasi sistemik. Studi ini termasuk satu dari sekian banyak studi mengenai peranan mikroba terhadap pathogenesis dan prograsi HIV, yang dipaparkan dalam CROI (The Conference on Retrovirus and Opportunistic Infections) Februari 2016 di Boston, AS.

Untuk anak-anak

ASI (air susu ibu) merupakan sumber bakteri asam laktat, yang menstimulasi pertumbuhan dan kolonisasi bakteri bermanfaat di usus. Pada kasus HIV, ASI bisa menjadi media transmisi HIV-1 dari ibu ke bayi. Dulu, WHO menyarankan agar ibu dengan HIV+ tidak menyusui bayinya. Namun penelitian di Afrika Selatan menunjukkan, kombinasi ASI eksklusif dan pengobatan dengan ART secara signifikan bisa menurunkan risiko transmisi HIV ke bayi melalui ASI. Sejak 30 November 2009, WHO mengeluarkan rekomendasi baru berdasarkan data tersebut. Direkomendasikan, ibu dengan HIV+ atau bayinya, menjalani ART selama periode menyusui atau sampai bayi berusia 12 bulan. Ini berarti, si anak mendapat manfaat ASI dengan risiko terinfeksi HIV sangat kecil.

Studi oleh Virginia Martin, dkk (2010) mengevaluasi, apakah bakteri asam laktat (38 strain) yang diisolasi dari perempuan sehat mampu menghambat infeksi HIV-1 in vitro. Hasilnya, tampak inhibisi yang signifikan terhadap HIV-1 R5-tropik,  utamanya dari strain Lactobacillus dan Pediococcus. Disimpulkan, bakteri asam laktat pada ASI mampu menghambat infeksi HIV-1 in vitro. Ini menunjukkan potensi bakteri dalam proteksi mucosal terhadap HIV-1, pada anak yang mendapat ASI.

Peranan suplementasi probiotik untuk anak, ditunjukkan dalam studi Gautam N, dkk (2014). Sebanyak 127 anak usia <15 tahun yang terinfeksi HIV disertakan dalam studi. Mereka dibagi 2 kelompok; sebagian menerima mikronutrisi selama 6 bulan, sebagian lagi probiotik selama 3 bulan. Sebagai kelompok kontrol yakni anak-anak yang tidak menerima suplemen. Di akhir 6 bulan, diambil data mengenai perubahan dalam stadium klinis WHO, stadium imunologis, jumlah CD4 dan status IMT (indeks massa tubuh). Pada kelompok probiotik, rerata jumlah CD4 diambil.

Hasilnya, tampak perbaikan signifikan dalam stadium klinis WHO pada kelompok mikronutrisi, dibandingkan kelompok kontrol. Pada kelompok probiotik, terjadi peningkatan jumlah CD4 secara signifikan dibanding kelompok kontrol pada anak >5 tahun.

Ilmu mengenai efek positif probiotik untuk pasien HIV masih relatif baru. Berdasarkan studi-studi yang ada, bisa disimpulkan bahwa probiotik bisa menjadi cara yang murah dan praktis untuk mendukung fungsi imun pasien HIV.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.