PPI untuk Tatalaksana Gastro-esophageal Reflux Disease (GERD) dan Cegah Komplikasi | ethicaldigest

PPI untuk Tatalaksana Gastro-esophageal Reflux Disease (GERD) dan Cegah Komplikasi

Prevalensi GERD (gastro-esophageal reflux disease) cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Dampaknya terhadap kehidupan pasien cukup berat. Risiko yang bisa ditimbulkan antara lain ulkus esofagus, perdarahan dan striktur/penyempitan pada esofagus, Barrett’s esofagus, hingga adenokarsinoma. Biaya yang diperlukan tidak sedikit.

Heartburn dan regurgitasi adalah gejala khas sindrom refluks tipikal. Dalam praktik klinis, pasien harus menentukan apakah gejala refluksnya mengganggu. “Sindrom refluks tipikal bisa didiagnosis berdasarkan gejala khas, tanpa uji diagnostik,” ujar dr. Ali Djumhana, Sp.PD-KGEH, dalam satu sesi symposium di IDDW 2018, Jakarta.

Telah dikembangkan metode diagnosis GERDQ, kuesioner yang diisi pasien sebagai alat bantu untuk diagnosis GERD akurat di layanan primer. Pertanyaan-pertanyaan dalam GERDQ berasal dari RDQ (Reflux Disease Questionnaire),GSRS (Gastrointestinal Symptom Rating Scale), dan GIS (Gastro-oesophageal reflux disease Impact Scale). GERDQ telah disaring melalui uji validitas konten yang berulang-ulang, pada grup fokus pasien.

“GERDQ bisa digunakan untuk diagnosis GERD, akurasinya sama dengan gastroenterolog,” ujar dr. Ali. Kuesioner ini juga bisa digunakan untuk menilai dampak penyakit terhadap hidup pasien dan membantu pilihan pengobatan. Juga bisa digunakan untuk mengukur respons terhadap pengobatan.

Saat ini untuk mempermudah akses masyarakat dalam penggunaan GERD Q maka pada tahun 2017 Perkumpulan Gastroenterologi Indoneisia (PGI) bersama dengan PT. AstraZeneca membuat sebuah aplikasi yang bisa digunakan untuk mendeteksi penyakit GERD.

Tujuan dari pembuatan aplikasi GERD Q ini adalah untuk meningkatkan kesadaran orang Indonesia terhadap penyakit GERD. GERDQ merupakan sebuah aplikasi yang berisi kuesioner, yang dilengkapi oleh pasien dan dalam pengawasan dokter untuk identifikasi dan manajemen pasien dengan GERD. Adapun beberapa manfaat dari penggunaan aplikasi GERDQ terhadap tiga kategori pengguna yaitu: untuk pasien, mengetahui dan ekspresi masalah GERD; untuk tenaga kesehatan, memonitor respons terapi dan mengidentifikasi pasien; untuk rumah sakit atau pemerintah, mengetahui pengobatan yang tepat untuk pasien dan tingkat diagnosa GERD.

Diagnosis modern GERD dirumuskan dalam Diamond Study tahun 2009. Secara empiris, GERD didiagnosis dan diobati dalam praktik klinis, berdasarkan penilaian gejala oleh dokter. Indikasi tes meliputi kegagalan pengobatan, ketidakpastian diagnostik, dan mengobati (atau mencegah) komplikasi. “Fokus tatalaksana GERD sekarang,yakni mengobati sistem mukosa dan mengatasi gejala,” ujar Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, Dekan FK Universitas Indonesia.

Kata Dr. dr. Ari, penting untuk mengatasi gejala karena bila pasien stres akibat keluhan GERD, maka stres akan memicu produksi asam lambung. Akhirnya, gejala GERD akan selalu dirasakan pasien.

Bila berdasarkan GERDQ pasien dicurigai mengalami GERD, lanjutkan dengan tes PPI. Kapan endoskopi perlu dilakukan? “Bila pengobatan dengan PPI gagal dan pasien kehilangan berat badan dalam dua – tiga minggu,” ujar Dr. dr. Ari. Bila kemudian hasil endoskopi normal, lakukan pemeriksaan manometri.

Dijelaskan oleh Prof. Dr. dr. Dadang Makmun, Sp.PD-KEMD, dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, penetrasi asam dan pepsin menghasilkan kontak dengan ujung-ujung saraf. “Masuknya asam ke sel melalui membran basolateral, menyebabkan bengkak dan nekrosis. Pada akhirnya timbul gejala nyeri,” tuturnya.

Berdasarkan 2006 New Global Definition and Classification of GERD, tatalaksana GERD berpusat pada pendekatan pasien. Sebagian besar GERD tidak disertai dengan esofagitis erosive (Non Erosive Reflux Disease = NERD). Dengan kata lain, GERD tanpa erosive esofagitis bisa ditanggulangi dengan fokus pada menghilangkan gejala saja. Pasien dengan gejala GERD tanpa komplikasi, secara empiris diobati dengan modifikasi gaya hidup dan obat penekan asam (PPI). “Penting untuk memiliki instrumen yang sensitif dan bisa diandalkan, yang kita sebut GERDQ,” lanjutnya.

Setelah itu, PPI bisa digunakan sebagai alat diagnosis. Dibanding obat penekan asam lambung lainnya, PPI lebih poten dalam menekan asam. Onset lebih cepat dengan aksi kerja lebih lama, dan lebih superior dalam meredakan gejala/remisi dibandingkan H2RA dan antasida.

Dengan PPI, tercipta supresi asam secara agresif. Ini akan menurunkan inflamasi aktif pada esofagus, yang bisa meningkatkan caliber luminal, dengan mengurangi edema mukosa. GERD jarang menyebabkan kejadian fatal, tapi bisa muncul komplikasi jangka panjang. Bila dibutuhkan, PPI jangka panjang aman diberikan. “Tidak hanya meredakan gejala dan mengobati lesi, PPI juga mencegah komplikasi GERD,” papar Prof. Dadang.

Castell, dkk, meneliti sejumlah besar pasien GERD yang dibagi secara acak, mendapat lansoprazole 30 mg atau esomeprazole 40 mg. Setelah perawatan empat minggu, pasien di kedua kelompok mengalami hari bebas heatburn sekitar 70% dari periode studi. Perbaikan gejala di malam hari terjadi setelah satu hari; resolusi gejala di siang hari tercapai setelah dua hari.

Akan tetapi dalam hal ini esomeprazole merupakan satu-satunya PPI dalam bentuk sediaan S-Isomer tunggal yang diformulasikan dengan teknologi MUPS (Multiple-Unit Pellet System), menjadikan obat ini resisten terhadap asam lambung dan interaksi makanan. Esomeprazole cepat terdispersi di lambung, dan diserap cepat di duodenum, sehingga memberikan kontrol asam yang lebih baik diantara jenis PPI lainnya.

Data penelitan dari Rohss, K. et. al. 2004 menunjukan bahwa Esomeprazole 40mg lebih cepat menghilangkan gejala dihari pertama dan konsisten sampai dengan hari ke-5 pada pasien dengan erosive esofagitis dibandingkan dengan Rabeprazole, Omeprazole, Lansoprazole dan Pantoprazole. Selain itu, data penelitian dari Richter, et. al. 2001, Castell, D. et. al 2002, dan Labenz, et. al. 2005 menunjukan bahwa Esomeprazole 40 mg memberikan angka kesembuhan lebih tinggi (90%) dibandingkan dengan Omeprazole, Lansoprazole dan Pantoprazole pada pasien yang mengalami erosive esofagitis. (nid)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.