Peran Progesteron Receptor Modulators | ethicaldigest

Peran Progesteron Receptor Modulators

Abnormal uterine bleeding (AUB) merupakan penyebab tersering perdarahan abnormal per vaginam, pada masa reproduksi wanita. Sekitar 30% wanita datang ke pelayanan kesehatan dengan keluhan AUB selama masa reproduktif. Penyebab AUB mencakup spektrum yang luas, dari berbagai penyakit. Klasifikasi utama yang digunakan untuk AUB berdasarkan FIGO, terdapat 9 kategori penyebab yang dikenal dengan istilah “PALM-COEIN” yaitu: Polyp, Adenomyosis, Leiomyoma, malignancy & hyperplasia – Coagulopathy, Ovulatory Dysfunction Endometrial, Latrogenic dan Not yet classified.

Menurut dr. Beeleonie, SpOG, peningkatan prolaktin yang tinggi menyebabkan terjadinya penurunan kisspeptin, pada ARC maupun AVPV di hipotalamus. Hal ini mengakibatkan penurunan GnRH yang berperan dalam penurunkan sekresi gonadotropin. “Jelas, hiperprolaktinemia pada kasus AUB merupakan masalah disfungsi ovulasi,” ujarnya.

Pada hiperprolaktinemia yang terjadi  sebelum menarche, gangguan yang dapat terjadi berupa amenorrhea primer dan delay pubertas. Jika terjadi setelah menarche, masalah yang sering terjadi adalah AUB, amenorrhea sekunder dan infertilitas. “Beberapa literatur menyebutkan, 15-20% mereka dengan infertilitas ternyata mengalami gangguan prolaktin,” jelas dr. Leonie. Dengan demikian, jika ada pasien datang dengan gangguan amenorrhea, primer maupun sekunder, ada baiknya dilakukan pemeriksaan prolaktin hormon. Jika nilai prolaktin hormon kurang dari 25 mg/dl, dikategorikan normal. Bila nilainya antara 25-100 mg/ dL, sejawat dapat melakukan pemeriksaan ulang (2 x berturut-turut). “Jika nilainya tetap sama diatas 25, perlu dicurigai pasien mengalami mikroprolaktinoma,” ujar dr. Leonie. Dan, jika nilainya diatas 250 mg/ dL, dapat dipastikan pasien mengalami mikroprolaktinoma.

Progesterone Receptor Modulator pada AUB

Awalnya, pasien dengan fibroid dan AUB diterapi menggunakan levonorgestrel intrauterine system (LNG-IUS), untuk menghentikan  perdarahan. Penelitian menunjukkan, progestin yang dilepas oleh LNG-IUS terbukti memicu terjadinya apoptosis pada endometrium. Pasien merasa senang dengan penurunan AUB, saat diberi progestin. “Tapi, apakah penurunan perdarahan ini diikuti dengan menurunnya volume dari mioma,” tanya dr. Kanadi Sumapradja, SpOG, MSc. Atas hasil tersebut, pasien kemudian di follow up selama 6 bulan, kemudian dilakukan MRI. Hasilnya ternyata inkonsisten, dimana volume fibroid tidak mengecil.

Dalam kondisi ini, para pakar bertanya-tanya tentang peran esterogen dan progesteron dalam sel leiomyoma. Dilakukan penelitian untuk  melihat indikator proliferating cell nuclear antigen (PCNA). Hasilnya, pada sel leiomyoma dengan adanya progesteron dilepaskanlah epidermal growth factor. Penelitian juga menemukan bahwa esterogen bertanggung jawab memicu pembetukan epidermal growth factor receptor.  “Disimpulkan, terjadi simbiosis yang memicu pembentukan proliferasi sel leiomyoma,” jelas dr. Kanadi.

Melihat fakta ini, selective progesteron receptor modulators (SPRMs), dapat menjadi harapan baru terapi. Menurut dr. Kanadi, penggunaan PRMs dalam penelitian yang dilakukan Xu Q dan kawan-kawan, dipublikasikan dalam Journal Human Reprod tahun 2016. Dalam penelitian tersebut, PRMs mampu mencegah ekspresi vascular endothelial growth factor (VEGF) dan vascular endothelial growth factor receptor pada sel leiomyoma, tetapi tidak menekan VEGF pada sel normal myometrial.

PEARL studi, penelitian di Eropa yang dilakukan untuk melihat efikasi progesteron receptor modulator dalam hal ini ulipristal acetate (UPA), menunjukkan penggunaan UPA lebih baik dibanding plasebo. Hal ini bisa dilihat dari volume fibroid yang mengecil, dibandingkan kelompok yang hanya diberi plasebo.

Dalam penelitian lanjutan PEARL II, UPA dibandingkan dengan gonadotropin-releasing hormone (GnRH) analog. Hasilnya hampir sama baik, dilihat dari volume AUB maupun volume fibroid. “Namun, penggunaan GnRH analog angka kejadian hot flushes jauh lebih tinggi dibanding kelompok UPA,” ujar dr. Kanadi.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.