Peran Bedah pada Kasus Endometriosis | ethicaldigest

Peran Bedah pada Kasus Endometriosis

Pengobatan endometriosis bergantung pada beberapa hal, termasuk berat ringannya gejala, dan apakah pasien berencana untuk punya anak atau tidak. Dalam hal mengurangi rasa nyeri, terapi hormon yang ada saat ini terbukti efektif. Juga dapat menurunkan kadar estrogen tubuh, yang selanjutnya akan mengecilkan implan endometriosis. Sementara bagi penderita yang berencana punya anak, pengobatan bisa dilakukan melalui operasi dan menggunakan obat-obatan untuk mengatasi infertilitas, atau keduanya.

Terapi menggunakan obat-obatan pada kasus endometriosis minimal atau ringan, sampai saat ini belum terlihat meningkatkan angka kehamilan. Sementara pada penderita dengan endometriosis moderat sampai berat, harus diatasi melalui operasi.

Pada penderita endometriosis, pilihan lain untuk mencapai kehamilan adalah dengan inseminasi intrauterin, superovulasi dan fertilisasi in vitro. Dalam sebuah case control study, angka kehamilan dengan injeksi sperma intrasitoplasmik, tidak terpengaruh dengan adanya endometriosis. Semantara analisis lain menunjukkan adanya perbaikan angka kehamilan melalui IVF pada endometriosis stage 3 dan 4, dengan menggunakan agonist gonadotropin-releasing hormone (GnRH).
 

Terapi

Kombinasi pil kontrasepsi oral (KPKO), danazol dan analog GnRH, merupakan terapi medis utama, seperti dijelaskan pada pembahasan sebelumnya. Semua terapi tersebut memiliki efikasi serupa, dalam menurunkan rasa nyeri. KPKO bekerja dengan menekan ovarium dan administrasi progestin secara terus menerus. Dalam suatu penelitian, awalnya KPKO diberikan secara terus menerus atau siklik selama 3 bulan. Jika rasa sakit menghilang, pengobatan diteruskan selama 6-12 bulan. Angka kehamilan setelah penghentian penggunaan pil, adalah 40-50%.

Medroxyprogesterone acetate memiliki efikasi dalam menekan rasa sakit, dalam bentuk oral atau suntik. Dosis oral 10-20 mg/hari, dapat diberikan secara terus menerus. Waktu untuk terjadinya ovulasi kembali, lebih lama dan bervariasi. Efek sampingnya meliputi penambahan berat badan, retensi cairan, depresi dan pendarahan. Agen lainnya adalah Megestrol acetate, yang digunakan dalam dosis 40 mg dengan hasil yang sama baik. Sementara levonorgestrel intrauterine system (LNG-IUS), terbukti dapat menurunkan rasa sakit akibat endometriosis.

Analog GnRH menghasilkan kondisi hipogonadotropik-hipogonadik dengan men-downregulasi kelenjar pituitaiy. Saat ini, goserelin dan leuprolide acetate adalah kelas agonist yang paling banyak digunakan. Efikasi obat ini, hanya terbatas menekan rasa sakit. Sementara angka fertilitas, tidak ada perbaikan. Winkel dan kawan-kawan dalam penelitiannya mengklaim, terapi GnRH dapat memperbaiki rasa nyeri pada 85-100% wanita. Juga dinyatakan berkurangnya rasa sakit, bisa bertahan selama 6-12 bulan setelah penghentian pengobatan. Pengobatan biasanya dilakukan dengan penyuntikan, setiap bulan selama 6 bulan.

Terkait menurunnya kepadatan tulang yang disebabkan GnRH, hal ini bisa kembali setelah 2 tahun penghentian terapi. Efek samping lain adalah hot flashes dan kekeringan pada vagina. Yang menjadi perhatian saat ini, apakah kombinasi dengan terapi lain bisa membantu mencegah osteoporosis dan gejala-gejala hipoestrogenik. Terapi sulih hormon, progestin, tibolone maleate dan bisphosphonates, dari berbagai penelitian terbukti efektif untuk mencegah keropos tulang. Terapi tambahan terbukti dapat mencegah penurunan kepadatan tulang, tanpa menurunkan efikasi regimen GnRH. Suatu penelitian klinis menunjukkan, pemberian GnRH secara empiris selama 3 bulan efektif dalam kasus endometriosis. Terapi menggunakan GnRH juga terbukti dapat mengurangi rasa sakit dan perdarahan, yang diakibatkan endometriosis ekstrapelvik.

Terapi lain yang digunakan untuk mengatasi masalah endometriosis adalah Danazol. Obat ini  bekerja dengan cara menghambat follicle-stimulating hormone (FSH), dan peningkatan luteinizing hormone (LH). Juga, mencegah steroidogenesis pada corpus luteum. Obat ini merupakan agen yang paling banyak diteliti, untuk endometriosis. Danazol terbukti sama efektifnya dengan agen-agen yang baru, namun memiliki efek samping yang lebih besar. Dosis anjuran adalah 600-800 mg/hari. Namun, dosis yang lebih kecil bisa digunakan. Dalam laporan terkini melibatkan 21 pasien, danazol (200 mg/d) berhasil mengurangi rasa sakit akibat endometriosis.
 

Operasi

Pendekatan operasi secara luas bisa diklasifikasikan sebagai konservatif, semi konservatif dan radikal. Konservatif jika kemampuan reproduksi dipertahankan, semi konservatif jika kemampuan reproduksi dihilangkan, tetapi fungsi ovarium dipertahankan. Radikal jika uterus dan ovarium diangkat. “Usia, keinginan untuk hamil dan berkurangnya kualitas hidup, adalah pertimbangan utama untuk memutuskan melakukan operasi,” jelas dr. Andon Hestiantoro, SpOG(K).
 

Operasi konservatif

Tujuan operasi ini adalah menghancurkan implan endometriosis dan melisiskan adhesi peritubal dan periovarium, yang menjadi sumber rasa sakit dan dapat mengganggu transport ovum. Pendekatan laparoskopi adalah metode pilihan untuk mengobati endometriosis secara konservatif. Ablasi bisa dilakukan dengan laser atau elektrodiathermi. Secara keseluruhan, angka rekurensi adalah 19%, dan serupa untuk semua teknik. Operasi ablatif laparoskopi dengan bipolar diathermi atau laser untuk endometriosis, terlihat efektif untuk mengurangi rasa sakit di pelvis pada 87% pasien dalam satu penelitian.

Endometrisos ovarium bisa diatasi dengan drainase atau sistektomi. Sistektomi laparoskopi terbukti dapat mengurangi rasa sakit lebih baik, dan meningkatkan angka kehamilan lebih besar dibanding drainase. Terapi medis dengan agonist GnRH, mengecilkan ukuran kista tetapi tidak mengurangi rasa sakit. Pengaliran tuba dengan media larut minyak, pada satu penelitian bisa memperbaiki angka kehamilan pada wanita dengan infertilitas akibat endometriosis.

Nodularitas ligamen uterosakral dapat menyebabkan dyspareunia dan nyeri punggung bagian bawah. Transmisi jalur neural adalah melalui Lee-Frankenhãuser plexus. Ablasi saraf uterin laparoskopi (Laparoscopic uterine nerve ablation [LUNA]), dilakukan untuk menginterupsi serat rasa sakit. Tinjauan sistematis penelitian LUNA, tidak menemukan manfaat dalam mengurangi rasa sakit ketika dibandingkan plasebo. Namun, ketika dikombinasi dengan ablasi laparoskopik, LUNA secara signifikan mengurangi nyeri. Pada pasien dengan subfertilitas, ablasi jaringan secara signifikan meningkatkan angka kehamilan kumulatif. Tinjauan Cochrane terbaru, gagal menunjukkan adanya manfaat dari LUNA atau neurektomi presakral.

Untuk pasien dengan penyakit ringan, pengobatan hormonal adjunktif pasca operasi terlihat efektif mengurangi nyeri, tetapi tidak memiliki manfaat pada fertilitas. Analog GnRH, danazol dan medroxyprogesterone, diketahui bermanfaat untuk indikasi ini. Bagaimana pun, efikasi pengobatan hormonal preoperatif atau post operasi belum dapat ditegakkan.
 

Operasi Semikonservatif

Operasi ini mencakup histerektomi dan sitoreduksi endometriosis pelvis. Pasien yang menjalani histerektomi dengan konservasi ovarium, memiliki angka rekurensi 6x lipat, dibanding wanita yang menjalani oophorektomi.
 

Operasi Radikal

Operasi ini mencakup histerektomi dengan oophorektomi bilateral dan sitoreduksi endometriosis. Adhesiolisis dilakukan untuk mengembalikan mobilitas dan hubungan organ intrapelvik normal. Obstruksi ureter memerlukan tindakan operasi atau eksisi bagian yang rusak. Obstruksi usus memerlukan reseksi anastomosis atau reseksi sumbatan, jika sumbatan tersebut menetap di rektosigmoid anterior.
 

Perbandingan terapi Medis dan Operasi

Pada wanita yang berharap mempertahankan kemampuan reproduksinya, angka rekurensi gejala rasa sakit adalah 44% dengan operasi, dan 53% dengan obat-obatan. “Jangan anggap enteng nyeri haid pada wanita. Jika sampai mengganggu aktivitas sehari-hati segera konsultasi ke dokter. Bahaya jika terlambat,” ujar dr. Andon. (ant)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.