Mikrobiota Usus dan Risiko Kanker | ethicaldigest

Mikrobiota Usus dan Risiko Kanker

Jumlah bakteri di tubuh manusia jauh melampaui jumlah sel tubuh. Terdapat 10 triliun sel bakteri di tubuh kita, dan ‘hanya’ 1 triliun sel manusia. Usus termasuk organ yang paling banyak dihuni bakteri dan mikroba lain. Kini diketahui, mikrobiota usus memberi banyak pengaruh kesehatan terhadap pejamu. Manfaat ini tidak terbatas pada kesehatan saluran cerna.

Kini mulai diteliti hubungan antara mikroba penghuni usus dengan kanker. Seperti disebutkan oleh peneliti di Universitas California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat (AS) bahwa selama jutaan tahun, bakteri usus telah berevolusi menjadi tipe baik dan jahat. Bakteri bertipe baik memiliki manfaat antiinflamasi, sedangkan yang jahat memicu inflamasi. Pada studi yang dilakukan UCLA ditemukan, bakteri tertentu mengurangi kerusakan gen dan mengurangi inflamasi, yang merupakan kunci bagi berbagai penyakit termasuk kanker.

Kanker dan inflamasi

Kanker adalah momok bagi dunia kesehatan secara global, terutama di negara berkembang.  Kanker terjadi akibat mutasi sel, di mana sel normal berubah sifat menjadi ganas. Penyebab mutasi ini belum dipahami dengan jelas. Namun, diduga turut dipengaruhi oleh respon inflamasi. Kemampuan mikrobiota usus memengaruhi inflamasi, bersifat sistemik. Dengan memahami  hubungan yang kompleks dan dinamis antara mikroba usus dengan sistem imun tubuh manusia dan pola makan, bisa diketahui mekanisme pembentukan kanker. Sehingga di masa depan, mungkin bisa diketahui strategi pencegahan dan pengobatan kanker yang lebih baik.

Probiotik dan berbagai jenis kanker

 Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang paling banyak menyerang laki-laki dan perempuan di seluruh dunia. Ishikawa, dkk (2005) meneliti manfaat pemberian serat dan L. casei Shirota strain, terhadap kekambuhan tumor kolorektal. Penelitian melibatkan 398 orang  (laki-laki dan perempuan, usia 40-65 tahun), yang memiliki 2 tumor kolorektal atau lebih, tapi sudah diangkat. Pasien dengan 2 tumor kolorektal atau lebih, berisiko lebih tinggi mengalami kanker kolon, ketimbang yang hanya satu tumor.

Mereka secara acak dibagi menjadi empat kelompok: yang mendapat bekatul gandum (kelompok A), mendapat probiotik L. casei Shirota strain (kelompok B), mendapat bekatul dan probiotik (kelompok C), dan yang tidak mendapat bekatul maupun probiotik (kelompok D).

Bekatul gandum dipilih untuk mewakili serat pangan; sejumlah studi case-control menunjukkan bahwa serat dapat mencegah kanker kolorektal. Namun laporan dari studi kohort skala besar gagal menunjukkan hasil yang serupa. Adapun L. casei Shirota strain diketahui mengurangi kesusakan DNA yang diinduksi karsinogen kimia dalam studi lab, dan mencegah karsinogenesis dalam penelitian pada hewan. Pada manusia, dilaporkan bahwa lactobacilli mengurangi level mutagen di tinja.

Di akhir studi, 95 orang di kelompok A menyelesaikan studi; kelompok B 96 orang, kelompok C 96 orang, dan kelompok D 93 orang. Di akhir tahun kedua dan keempat studi, dilakukan kolonoskopi untuk melihat ada/tidaknya tumor.

Total peserta yang mendapat bekatul yakni 191 orang, dan yang tidak mendapat bekatul 189 orang. Hasilnya, setelah 2 tahun, tidak ada perbedaan dalam kemunculan tumor berukuran >10 mm, antara pemberian bekatul dan yang tanpa bekatul. Namun setelah 4 tahun, tumor ini muncul pada 7 orang yang mendapat bekatul (3,7%), tapi tidak muncul pada kelompok tanpa bekatul.

Sedangkan total peserta yang mendapat probiotik berjumlah 192 orang, vs 188 yang tidak mendapat probiotik. Setelah 2 dan 4 tahun, kemunculan sedikitnya satu tumor lebih rendah pada peserta yang mendapat probiotik, ketimbang yang tidak mendapatkan, meski tidak signifikan. Namun untuk kemunculan tumor dengan atipia sedang atau berat, penurunannya signifikan pada mereka yang mendapat probiotik. OR (odds ratios)-nya 0,80 (2 tahun) dan 0,65 (4 tahun).

Manfaat probiotik juga diteliti pada kanker payudara. Toi M, dkk (2013) mengevaluasi efek dari minuman dengan kandungan L. casei Shirota strain dan isoflavon kedelai sejak remaja terhadap kanker payudara. Penelitian dilakukan berdasarkan studi populasi pada perempuan Jepang, dengan rentang usia 40-55 tahun.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.