Mengatasi DE pada Penderita DM | ethicaldigest

Mengatasi DE pada Penderita DM

Dalam kondisi normal, ereksi terjadi saat ada stimulus berupa sentuhan, gambar, suara, ingatan erotis, fantasi, serta kondisi lain yang menyebabkan rangsangan seksual. Stimulus ini akan mencetuskan sinyal dari nucleus paraventricular di otak. Sinyal kemudian berjalan melewati persarafan otonom khusus di sumsum tulang, saraf pelvis, dan saraf cavernosa di sepanjang kelenjar prostat sampai corpus cavernosum, serta arteri yang memberikan suplai darah kedalamnya.1 Pada proses ini, nervus parasimpatis melepaskan sejumlah neurotransmitter ke jaringan penis. Salah satunya yang paling penting adalah nitric oxide (NO).2

Sebagai respon terhadap sinyal, serat-serat otot di corpus cavernosum akan mengalami relaksasi, sehingga darah masuk mengisi ruang di dalamnya. Tunika muskularis pada arteri yang memberi suplai darah ke penis, juga mengalami relaksasi. Dengan demikian, ada peningkatan aliran darah ke penis sebanyak 8 kali lipat. Peningkatan aliran darah akan melebarkan rongga sinusoid di  corpus, kemudian meregangkan tunika yang membungkusnya.

Dengan teregangnya tunika, maka aliran vena di dalam corpus cavernosum akan terhambat. Akibatnya darah terperangkap di dalam penis, sehingga tekanan menjadi sangat tinggi dan penis menjadi ereksi. Selama ereksi, tekanan di penis sedikitnya dua kali lipat dibanding tekanan darah pada sirkulasi utama. Hal ini dimungkinkan karena otot-otot pada dasar panggul yang berkontraksi di sekitar pangkal corpus cavernosum.1

Saat terjadi orgasme, akan terjadi perubahan sinyal secara dramatis dari otak. Terjadi peningkatan produksi nor adrenaline secara mendadak dari persarafan genitalia. Kondisi ini selanjutnya mencetuskan timbulnya orgasme dan kontraksi otot pada corpus cavernosum, serta arteri di dalamnya. Akibatnya aliran darah ke dalam penis akan berkurang. Tekanan di dalam corpus menurun, tunika mengalami relaksasi, dan darah dapat mengalir keluar dari penis. Ini mengakibatkan penis menjadi lemas kembali.1

Disfungsi ereksi (DE) akan terjadi, bila salah satu dari proses di atas mengalami gangguan. Menurut Prof. Dr. dr. Arif Adimoelja, MSc, SpAnd, FSS, dari Universitas Hang Tuah, Surabaya, “Yang dimaksud dengan disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan seorang pria, dalam mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup, untuk melakukan hubungan seksual.”

Disfungsi ereksi merupakan hal yang kompleks dan dapat disebabkan oleh berbagai hal. Di antaranya hipertensi, penyakit ginjal, penyalahgunaan alkohol, penyakit pembuluh darah, pembedahan di daerah kelamin dan diabetes. “Sedentary life style merupakan risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler dan DE,” katanya. Obesitas dan merokok masing-masing dapat meningkatkan risiko DE hampir 2 kali lipat. Selain itu, beberapa faktor seperti penggunaan obat tertentu, faktor psikologis dan hormonal, juga memberi sumbangsih dalam terjadinya disfungsi ereksi.

Disfungsi ereksi merupakan salah satu komplikasi diabetes yang paling sering dijumpai, namun juga paling sering terlewatkan. Disfungsi ereksi diperkirakan terjadi pada 35-75% pria dengan diabetes. Sekitar 75% diabetisi akan mengalami disfungsi ereksi (gangguan ereksi) dalam berbagai derajat, semasa hidupnya. Hal ini senada dengan pengalaman klinik, yang didapatkan Prof. Arif. Menurutnya, prevalensi DE berbagai derajat yang disebabkan oleh diabetes type 2 mencapai sekitar 80 %, dengan usia rata-rata di atas 42 tahun. Umumnya, keluhan muncul setelah pasien menderita rerata 6 bulan. “Angka ini mungkin lebih kecil, karena tidak semua yang menderita diabetes type-2  dan DE melakukan pemeriksaan,” tambah Prof. Arif. Ini mungkin karena pasien merasa malu, atau terlewat oleh dokter yang merawat.

Sebuah studi menyatakan bahwa disfungsi ereksi dapat merupakan pertanda terjadinya diabetes, terutama pada pria berusia kurang dari 45 tahun. Ini karena pria dengan diabetes cenderung mengalami disfungsi ereksi, 10-15 tahun lebih dini dibanding mereka yang tidak mengalami diabetes. Kecenderungan ini akan meningkat, seiring dengan bertambahnya usia. Pada usia di atas 50 tahun, kecenderungan gangguan ereksi mencapai 50-60%. Bahkan pada usia di atas 70 tahun, 95% pria dengan diabetes akan mengalami disfungsi ereksi. “DE pada penderita diabetes, umumnya disebabkan karena terjadinya proses penuaan dini, yang mengakibatkan terjadinya percepatan hypogonadism dan insulin resistance,” kata Prof. Arif. Dampaknya, kualitas hidup pasien ikut menurun.

Penyebab DE pada penyandang diabetes

Patofisiologi DE pada penderita diabetes mellitus bersifat multifaktorial, meliputi gangguan vaskular mau pun neurologis. Beberapa faktor yang diduga berperan, antara lain gangguan pada Nitric Oxide (NO), penumpukan produk glikosilasi, serta adanya gangguan pada arteri dan persarafan di penis. Selain itu, pria dengan diabetes juga memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya hipogonadisme. Kadar testosterone yang rendah ini, dapat menyebabkan penurunan hasrat seksual dan disfungsi ereksi, baik secara langsung mau pun tidak langsung.3

  • 1. Peran NO dalam terjadinya DE pada diabetes mellitus

Nitric Oxide (NO) adalah suatu gas radikal bebas, merupakan regulator kuat yang berperan dalam sirkulasi (sebagai vasodilator endogen) dan merupakan suatu neurotransmitter. NO dibentuk dari L-arginine oleh Nitric Oxide Synthase (NOS).4

Setidaknya terdapat 3 jenis NOS yaitu NOS 1, NOS 2, dan NOS 3. NOS 1 berada di persarafan sebagai neurotransmitterl; dikenal juga sebagai bNOS. NOS 2 disebut juga iNOS, yang memroduksi NO saat terjadinya cedera dan infeksi. Sedangkan NOS 3 atau yang disebut sebagai ecNOS (Endothelial Cell NOS), berada pada lapisan dalam pembuluh darah. Fungsinya untuk mempertahankan diameter pembuluh darah, agar terjadi perfusi yang optimal.4

Pada penderita diabetes, baik tipe 1 mau pun tipe 2, sering terjadi gangguan NO. Dapat disebabkan karena penumpukan inhibitor alami NOS akibat penurunan fungsi ginjal, perubahan pH yang menjadi lebih asam sehingga produksi NO berkurang, serta gangguan sirkulasi yang menurunkan kadar oksigen. Selain itu, peningkatan kadar glukosa darah akan meningkatkan glikosilasi hemoglobin. Hemoglobin yang terglikosilasi akan berikatan kuat dengan NO, sehingga NO yang ada tidak bisa bekerja dengan bebas.4

Saat terjadi ereksi, NO diperlukan sebagai neurotransmitter mau pun sebagai vasodilator. Dengan demikian, rendahnya kadar NO yang beredar pada penderita diabetes, akan mengganggu proses berlangsungnya ereksi secara normal.

  • 2. Peranan Advance Glycation Endproducts (AGE) dan Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) terhadap kerusakan vaskuler

Faktor lain yang menyebabkan disfungsi ereksi pada penderita diabetes adalah kerusakan vaskuler, terutama pada penis. Kerusakan vaskular ini diduga terjadi akibat penumpukan advance glycation endproducts (AGE), dan penurunan vascular endothelial growth factor (VEGF). Dalam studi yang dilakukan oleh Seftel AD dan kawan-kawan, yang dipublikasikan di PubMed 1997, ditemukan adanya penumpukan AGE pada jaringan penis, terutama di jaringan collagen, tunika dan corpus cavernosum pada penderita diabetes. AGE berperan dalam menyebabkan disfungsi ereksi melalui up regulasi iNOS, dan down regulasi eNOS.5

VEGF merupakan protein yang merangsang pertumbuhan endotel pembuluh darah.6 Pada penderita diabetes mellitus terjadi abnormalitas sistem penyampaian sinyal VEGF di penis, yang diduga dapat menyebabkan kerusakan vaskuler, sehingga produksi nitric oxide (NO) berkurang. Kemudian terjadi apoptosis pada jaringan yang memiliki peran, terhadap terjadinya ereksi.7

  • 3. Peranan neuropati terhadap terjadinya disfungsi ereksi

Salah satu komplikasi diabetes yang sering terjadi adalah neuropati. Neuropati merupakan hal yang bersifat multifaktorial. Ini dapat dipengaruhi oleh tingginya kadar glukosa darah, mikroangiopati, dan faktor komorbid seperti merokok, hipertensi, dislipidemi dan lain-lain. Salah satu dampaknya adalah neuropati otonom, terutama persarafan urogenital. Akibatnya terjadi gangguan hantaran stimulus, yang mengakibatkan terjadinya disfungsi ereksi.

Terapi DE pada penderita DM

Langkah pertama dalam mengatasi disfungsi ereksi, adalah dengan melakukan perubahan gaya hidup dan modifikasi farmakoterapi yang dapat mempengaruhi terjadinya DE. Perubahan gaya hidup yang dianjurkan dalam hal ini meliputi olahraga teratur, penurunan berat badan sampai IMT < 30kg/m2 dan menghentikan kebiasaan merokok. Studi Effect of Lifestyle Changes on Erectile Dysfunction in Obese Men: Randomized control trial, menyatakan bahwa 1/3 pria dengan obesitas mengalami perbaikan disfungsi ereksi, setelah berhasil menurunkan berat badan dalam jumlah sedang, dan berolahraga secara teratur dengan durasi tertentu.8

Khusus pada penderita diabetes, studi menunjukan adanya kaitan antara disfungsi ereksi dengan kontrol glikemik, dalam hal ini HbA1C. Kontrol glikemik yang lebih baik, mungkin dapat menurunkan prevalensi dan beratnya disfungsi ereksi, terutama pada penderita diabetes tipe 2 yang berusia muda.

Untuk farmakoterapi, saat ini PDE-5i masih merupakan obat oral yang paling efektif, dalam terapi DE dan perlu dipertimbangkan sebagai terapi lini pertama. PDE5i berkerja dengan meningkatkan efek NO di penis. Ia bekerja dengan menghambat hidrolisis cyclic guanosine monophosphate (cGMP) menjadi guanosine 5'-monophosphate. Jug merangsang terjadinya relaksasi otot, meningkatkan aliran darah ke penis dan memungkinkan terjadinya ereksi.

Salah satu PDE5i yang telah disetujui penggunaanya pada penderita diabetes mellitus oleh FDA, adalah Tadalafil yang memiliki duration of action panjang (36 jam), dengan waktu paruh panjang mencapai 17,5 jam, dan onset hanya 1 jam. Dengan demikian, tadalafil dapat diberikan dalam dosis pemakaian 1 kali sehari pada pasien.9

Obat ini diekskresikan melalui ginjal, sehingga dosisnya perlu disesuaikan pada mereka yang mengalami gangguan fungsi ginjal. Interaksi farmakologis dapat timbul dengan obat lain, yang dimetabolisme melalui enzim sitokrom P450, misalnya anti jamur golongan azole dan erythromycin. Karena lama kerja tadalafil 8 kali lebih panjang dari PDE5i lain, efek samping nitratnya dapat menjadi lebih panjang.10

Efikasi dan keamanan

Efikasi dan keamanan Tadalafil pada pria dengan disfungsi ereksi, pertama kali dinilai pada tahun 2001 melalui studi multicenter, double blind, dengan kontrol placebo. Dalam penelitian ini dilibatkan sejumlah 179 pria (usia rata-rata 56 tahun), yang dipilih secara acak untuk mendapatkan placebo atau tadalafil dengan dosis 2, 5, 10 atau 25 mg, diminum sesuai kebutuhan, selama periode 3 minggu. Hasilnya, terdapat peningkatan respons yang signifikan berdasarkan International Index of Erectile Functions (IIEF). Tidak ditemukan perubahan yang signifikan pada hasil pemeriksaan laboratorium, ECG, atau pun tekanan darah.10

Percobaan juga dilakukan terhadap 1112 pria dengan usia rata-rata 59 tahun (range 22-82 tahun) dengan disfungsi ereksi ringan sampai berat, akibat berbagai sebab. Responden kemudian dipilih secara acak, untuk mendapatkan placebo atau tadalafil. Hasilnya, obat ini memberikan efikasi secara konsisten pada semua derajat disfungsi ereksi, etiologi, mau pun pada semua usia. Tadalafil dapat di toleransi dengan baik, dengan efek samping yang paling sering adalah sakit kepala dan dispepsia. Efikasi dan keamanan obat ini, juga terbukti pada berbagai etnis.10

Studi Cochrane meneliti manfaat penggunaan tadalafil pada pria dengan diabetes, baik tipe 1 atau tipe 2, dengan riwayat disfungsi ereksi minimal 3 bulan. Pada studi ini responden dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok yang mendapat placebo (n=71), tadalafil 10 mg (n=73), atau tadalafil 20 mg (n=72). Hasilnya, terdapat perbaikan disfungsi ereksi, tanpa dipengaruhi kadar HbA1C. Pengobatan dengan tadalafil, juga tidak mempengaruhi kadar HbA1C rata-rata.10

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.