Memperbaiki Managemen Infeksi Rumah Sakit 1 | ethicaldigest

Memperbaiki Managemen Infeksi Rumah Sakit 1

Dalam satu dekade terakhir, telah terjadi peningkatan resistensi antimikrobial di rumah sakit di Indonesia, terutama di intensive care unit (ICU). Kondisi ini tidak hanya meningkatkan morbiditas dan mortalitas pasien rawat inap, tetapi juga meningkatkan biaya perawatan di rumah sakit. Sebab, pasien menjadi lebih lama sembuh dan semakin lama di rawat di rumah sakit. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk membeli obat-obatan.

 Menurut Prof. dr. Djoko Widodo, Sp.PD-KTI, Ketua Perhimpunan Pengendali Infeksi Indonesia (PERDALIN), satu faktor penting penyebab meningkatnya resistensi antibikrobial adalah penggunaan antibiotika yang tidak tepat. Ini bisa terjadi karena penggunaan antibiotika yang berlebihan, atau antibiotik yang digunakan tidak sesuai dengan pola kuman di suatu rumah sakit. Maka, data pelaporan pola kuman di suatu rumah sakit menjadi sangat penting, untuk mengendalikan infeksi.

“Penanganan infeksi di masing-masing rumah sakit berbeda, karena pola kuman di setiap rumah sakit juga berbeda,” ujar Prof. Djoko. PERDALIN sendiri tidak akan pernah bisa membuat suatu pedoman atau panduan penanganan infeksi secara nasional. Penanganan infeksi di masing-masing rumah sakit, didasarkan pada pola kuman yang ada di rumah sakit tersebut.

Managemen Infeksi Terbaik

Pada 30 September 2009, dilakukan peluncuran AstraZeneca Infection Management Award (AZIMA), ditandai dengan penandatanganan kerjasama antara PERDALIN dengan AstraZeneca.  “Ini  adalah suatu penghargaan yang diberikan pada dokter atau tim dokter dengan managemen infeksi rumah sakit terbaik,” kata Rick GH. Gouw, Presiden Direktur PT AstraZenca Indonesia. “Kami harap ada respon positif terhadap program ini, sehingga penanganan infeksi di Indonesia akan lebih baik lagi.”

“Kami harapkan, program ini akan mendorong pemakaian antibiotika yang tepat di rumah sakit, karena merupakan bagian dari penanganan infeksi,”  kata Prof. Djoko. Ada berapa hal penting yang mensyaratkan, siapa yang bisa ikut kompetisi ini. Yang paling penting, di rumah sakit tersebut sudah ada program pengendalian infeksi. “Untuk sementara, akan dikompetisikan rumah sakit yang seimbang, rumah-rumah sakit besar dengan keadaan yang sama,” tambahnya.

“Saya piker, ini adalah suatu kegiatan yang bagus sekali. Dengan adanya AZIMA, kita akan bisa meningkatkan aktivitas pengendalian infeksi di rumah sakit,” kata dr. Lantre Buntaran, Sekretaris Jendral PERDALIN. Sehingga, mereka yang terlibat dalam pengendalian infeksi di rumah sakit, seperti dokter, staf perawat dan sebagainya, terangsang untuk memperlihatkan yang terbaik, akan apa yang mereka sudah lakukan dalam hal pengendalian infeksi di rumah sakit.

“Tujuan akhirnya adalah didapatkannya penurunan angka infeksi nosokomial di Indonesia,” kata dr. Lantre. Menurutnya, jika pencegahan infeksi dilakukan secara terus menerus, akan berdampak positif, karena mereka dituntut berkompetisi memberikan yang terbaik. Akibatnya, akan terjadi peningkatan pelayanan pasien di rumah sakit, sehingga pasien yang masuk rumah sakit tidak terbebani dengan hal-hal lain, yang justru akan menambah biaya secara keseluruhan.

Dalam penilaian, ada beberapa poin yang ditinjau. Peserta bisa menuliskan program mereka dalam bentuk makalah, yang nanti akan ditinjau tim juri. “Bisa juga, nanti akan kami panggil para finalis untuk mempresentasikan di depan para juri yang ada, sehingga nanti akan terpilih yang terbaik yang merepresentasikan tim pengendali infeksi rumah sakit di Indonesia.

“Dengan kompetisi ini diharapkan para dokter akan memikirkan  kualitas pelayanan. Kualitas pelayanan sendiri tidak hanya diukur dari kesembuan pasien, tetapi juga dari lamanya pasien di rawat inap dan komplikasi penyakitnya,” ujar dr. Alex K. Ginting S, dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.