Makin Rendah LDL, Makin Baik Atherosklerosis (2) | ethicaldigest

Makin Rendah LDL, Makin Baik Atherosklerosis (2)

Statin dan Atherosklerosis

Obat-obatan statin adalah obat kardiovaskuler terbaik yang pernah diciptakan, karena berpotensi mencegah plak atherosclerosis dan komplikasinya. Juga memiliki potensi besar menghentikan pembentukan plak. Karenanya, dapat mencegah kejadian atherosclerosis lain. Meski begitu, obat ini masih belum banyak digunakan dan dosis pemberiannya belum optimal.  Banyak bukti menunjukkan, terapi statin, terutama pada pasien berisiko tinggi, memperlambat progresi atherosklerosis. Penelitian klinis terbaru mengonfirmasi bahwa terapi penurunan lipid secara agresif dengan statin, menurunkan kolesterol LDL sampai di bawah 100mg/dl pada pasien berisiko tinggi. Karena itu, efektif mencegah kejadian kardiovaskuler.

Ada hubungan langsung antara kadar kolesterol LDL dan perubahan pada ketebalan intima media carotid dan ukuran plak. Dalam satu penelitian, 615 pasien yang mencapai kadar kolesterol LDL di bawah 70 menunjukkan regresi ketebalan intima media carotid, dibandingkan 29% pasien dengan kadar kolesterol LDL >114mg/dl. Penelitian lain menunjukkan hubungan linear positif, antara persentasi perubahan plak setiap tahun dari daerah cross sectional media dengan kadar kolesterol LDL. Pasien dengan kadar kolesterol LDL > 120mg/dl menunjukkan progresi plak tahunan dan reduksi lumen yang lebih besar, dibandingkan mereka dengan kolesterol LDL yang lebih rendah.

Data ini mengindikasikan, pasien yang mencapai target dari National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel (ATP) III untuk pasien berisiko tinggi, yakni <70mg/dl lebih besar kemungkinannya mengalami regresi atherosclerosis. Ini seharusnya dapat memberikan perlindungan dari kejadian kardiovaskuler.

Terapi penurunan lipid dengan suatu statin menurunkan progresi dan meregresi atherokslerosis, dibandingkan pengobatan menggunakan placebo. Pendekatan penurunan lipid, secara agresif dapat memberi manfaat yang lebih besar pada atherosklerosis dibandingkan pendekatan yang lebih moderat. Penelituan Post Coronary Bypass Graft (POST-CABG)  adalah penelitian pertama, yang secara langsung menilai efek terapi statin agresif (lovastatin dengan dosis rerata 76mg/hari untuk mencapai kolesetrol LDL<100mg/dl) dan moderat (lovastatin dengan dosis rerata 4mg/hari untuk mencapai kolesterol LDL<140mg/dl), pada progresi atherosklerosis setelah dilakukan operasi bypass.

Pengobatan agresif versus moderat, dihubungkan dengan penurunan sebesar 31% endpoint primer dan lebih rendahnya prosedur revaskularisasi, yaitu sebesar 29%. Selain itu, kejadian lesi dan cangkokan baru secara signifikan memiliki persentase yang lebih rendah pada pasien yang mendapat pengobatan agresif. Beberapa penelitian telah memperluas temuan post CABG pada pasien-pasien dengan kondisi lainnya, menggunakan teknik pengukuran yang berbeda.

Penelitian The arterial Biology for the Investigation of the Treatment Effects of Reducing Cholesterol  (ARBITER) melibatkan pasien yang membutuhkan terapi penurun lipid. Terjadi penurunan sekitar 48,5% kolesterol LDL setelah 1 tahun diberi terapi agresif. Hal ini dihubungkan dengan regresi signifikan ketebalan intima media carotid (-0,034+0,021 mm), ketika diukur dengan ultrasound B mode. Sementara itu, penurunan kolesterol LDL sebesar 27,2% dengan terapi moderat dihubungkan dengan progresi ketebalan intima media carotid yang kecil (0,025+ 0,017). Analisa post hoc dari penelitian tersebut menunjukkan, regresi ketebalan intima media terjadi pada 61% pasien yang mencapai kadar kolesterol LDL <70mg/dL.

Yang terbaru, penelitian the Reversal of Atherosclerosis with Agresive Lipid Lowering Therapy, yang melibatkan pasien dengan indikasi klinis untuk angiografi koroner dan >20% stenosis pada angiografi, memberikan bukti lebih langsung berkurangnya progresivitas atherosclerosis setelah 18 bulan terapi statin agresif versus moderat. Penurunan 46,3% kolesterol LDL dengan terapi agresif,  secara signifikan lebih besar daripada 25,2% pada terapi moderat.

Penelitian ESTABLISH, yang melibatkan pasien dengan sindroma koroner akut yang menjalani angiografi koroner emergensi, menggunakan serangkaian analisa ultrasound intravaskuler untuk membandingkan efek volume plak dari pengobatan statin dini versus pengobatan biasa. Penurunan 41,7% kolesterol LDL dengan terapi statin pada 6 bulan (sampai 70mg/dl), dihubungkan dengan perubahan signifikan volum plak (-13,1+12,8%; p<0,0001) dan volume lumen  (+5,8 + 15,5%; p=0,045). Tingkat penurunan volume plak, secara positif berhubungan persentase penurunan kolesterol LDL, bahkan pada pasien dengan kadar baseline normal.

Yang menjadi perhatian saat ini, apakah perlu memberikan statin pada orang dengan atherosclerosis, meski kadar LDL masih normal. Misalnya, pasien berisiko rendah yang memiliki kadar kolesterol LDL yang tidak begitu tinggi, tidak dianggap kandidat untuk terapi obat. Dibuktikan,  sebagian besar pasien berisiko rendah ini ternyata telah memiliki aterosklerosis subklinis. Deteksi dini serta pengobatan lebih awal, dapat memerbaiki prognosis pasien-pasien tersebut.

Baca Juga Makin Rendah LDL, Makin Baik Atherosklerosis (1)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.