Keamanan Insulin Lantus | ethicaldigest

Keamanan Insulin Lantus

Human insulin telah digunakan secara luas selama beberapa dekade dan keamanannya sudah tidak diragukan lagi. Namun, pada 26 Juni 2009, keluar publikasi di Diabetologia, jurnal resmi The European Association for The Study of Diabetes (EASD) yang menyebutkan, ada hubungan antara insulin analog, yang disebut insulin glargine (Lantus), dengan kejadian kanker.

Tiga dari empat penelitian yang dilakukan di Jerman, Swedia dan Skotlandia mengonfirmasi hal ini. Penelitian pertama di Jerman, melibatkan 127.000 pasien yang tercatat di satu database asuransi. Dibandingkan dengan orang yang menggunakan human insulin dalam dosis yang sama, satu dari setiap 100 orang yang menggunakan Lantus, rata-rata selama satu setengah tahun terdiagnosa kanker.

Risiko ini berhubungan linear dengan dosis. Untuk pasien yang mendapatkan dosis 10U, insulin Lantus meningkatkan risiko kanker sampai 9% dibanding human human insulin. Tetapi, untuk dosis 50U, peningkatan risiko menjadi 31%.

Kemudian dilakukan penelitian menggunakan database dari Swedia, Skotlandia dan Inggris. Penelitian di Swedia menemukan, dibanding pasien yang menggunakan insulin selain Lantus, pasien yang hanya menggunakan Lantus mengalami peningkatan risiko kanker payudara dua kali lipat. Begitu juga penelitian di Skotlandia, walau peningkatannya tidak signifikan. Tetapi, satu penelitian yang dilakukan di Inggris tidak menemukan hubungan tersebut.

Prof. Edwin Gale, Editor Diabetologia, dan Professor Ulf Smith, President EASD, mengakui ada keterbatasan dari penelitian ini. Satu yang utama, meski data-data ini disesuaikan untuk sejumlah variable, karakteristik kelompok pasien yang hanya menggunakan Lantus, berbeda dengan mereka yang menggunakan insulin jenis lain (umumnya berusia lebih tua, memiliki tekanan darah lebih tinggi dan berat badan lebih besar). Jadi, perbedaan risiko kanker bisa disebabkan karakteristik pasien sebelum pengobatan, bukan pada terapinya.

Selain itu, jumlah kasus kanker payudara pada penelitian Swedia dan Skotlandia sangat kecil. Berarti, kemungkinan, kasus-kasus ini hanya suatu kebetulan. Keduanya menyatakan, Lantus dan insulin lain tidak menyebabkan kanker. Tetapi penelitian-penelitian ini menunjukkan, Lantus mungkin bisa memicu kanker yang memang sudah ada sebelumnya, untuk berkembang lebih cepat.

Menurut Prof. Dr. Ketut Swastika SpPD-KEMD dari Universitas Udayana, Denpasar, Bali,  secara alamiah insulin paling tidak akan mengikat reseptor IGF-1. “Kita ketahui bahwa IGF 1 dapat memicu proliferasi. Bagi orang yang sudah punya kanker, jika IGF 1-nya dirangsang maka kanker akan cepat tumbuh,” katanya.

“Secara alamiah, kecuali metformin, sulfonylurea juga bisa menyebabkan kanker. Jadi, secara teoretis, semua obat-obatan yang mengikat IGF-1 bisa menyebabkan kanker. Tapi, kemungkinan itu sangat rendah,” tambah Prof. Ketut.  “Pada prinsipnya, sampai saat ini, pemberian insulin Glargin masih bisa dilakukan untuk pasien-pasien kita.”

Berdasar data yang ada saat ini, Badan Obat dan Makanan Amerika menganjurkan untuk tidak menghentikan penggunaan insulin tanpa konsultasi ke dokter. Sebab, menurut mereka, kadar gula darah yang tidak terkendali justru bisa memberi dampak serius dalam jangka panjang atau pendek.

Sementara itu EMEA menyatakan, keempat penelitian tersebut tidak konsisten. Dalam dua penelitian (di Skotlandia dan Swedia) hubungan antara kanker payudara ditemukan pada kelompok pasien yang menggunakan insulin Glargine sebagai monoterapi, tetapi tidak pada kelompok lain yang menggunakan insulin Glargin bersama dengan insulin jenis lainnya. Untuk kanker lain, tidak ditemukan hubungan terebut.

Penelitian ketiga yang dilakukan di Jerman, melaporkan hubungan yang dose dependen antara insulin Glargine dengan malignansi. Tetapi, tidak disebutkan jenis kanker yang ditemukan dalam penelitian tersebut. Dalam penelitian keempat yang dilakukan di Inggris, tidak ada hubungan antara kanker (kanker payudara, kolorektal, pankreas atau kanker prostat) dengan penggunaan insulin Glargine atau insulin lainnya. Committe Medicinal Products for Human Use (CHMP) menyimpukkan, data yang ada tidak perlu dikhawatirkan dan tidak perlu dilakukan perubahan peresepan.

Insulin Lantus telah dipasarkan tahun 2000. Sejak itu, 24 juta pasien pertahun yang menggunakannya dan dianggap aman, sampai saat ini. Sebuah penelitian yang dilakukan Stammberger pada hewan pengerat, tidak menunjukkan adanya efek karsinogenik pada Lantus. Penelitian 5 tahun yang melibatkan 1024 pasien, juga tidak menemukan adanya efek samping serius dari kedua jenis insulin, termasuk kejadian kanker.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.