Hubungan Kalsium - Preeklamsi | ethicaldigest

Hubungan Kalsium - Preeklamsi

Hipertensi, salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu hamil dan bayi, dialami sekitar 10% wanita hamil. Kondisi ini mengakibatkan preeklamsia, yaitu tingginya tekanan darah setelah 20 minggu masa gestasi dan menyebabkan ekskresi protein urin >300mg/hari. Dibandingkan dengan hipertensi transient (nonproteinurik) pada kehamilan, preeklamsia menyebabkan tingginya insiden gangguan pertumbuhan janin dan kematian janin/ibu hamil.

Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara defisiensi kalsium dengan penyakit ini. Gangguan metabolisme kalsium dilaporkan adalah faktor penting untuk terjadinya hipertensi pada manusia dan model eksperimental binatang hipertensif. Penelitian juga menunjukkan, defisiensi kalsium berperan pada patogenesis peningkatan tekanan darah. Sementara itu, ada bukti lain yang menunjukkan bahwa regulasi kalsium menjadi tidak normal pada penderita preeklamsia.

Mengapa? Karena pada wanita hamil terjadi peningkatan kebutuhan kalsium, terutama di akhir masa kehamilan. Janin dalam kandungan membutuhkan kalsium untuk pembentukan tulang. Untuk memenuhi kebutuhan kalsium, janin mengambil kalsium dari ibunya. Sekitar 200mg/hari kalsium tersimpan dalam tulang rangka pada trimester ketiga, hingga mencapai 25 sampai 30g. Selain itu, ekskresi kalsium melalui urin pada akhir kehamilan, rata-rata meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya menurunnya kadar mineral kalsium pada wanita hamil.

Data-data paling meyakinkan yang menunjukkan gangguan metabolisme kalsium menjadi faktor preeklamsia, berasal dari penelitian klinis suplementasi kalsium selama kehamilan. Misalnya, penelitian acak buta ganda yang membandingkan 1,5g kalsium karbonat versus plasebo pada 52 wanita hamil menunjukkan, kelompok yang mendapat pengobatan memiliki tekanan darah trimester ketiga yang lebih rendah secara signifikan dan penurunan  insiden hipertensi yang diinduksi kehamilan dibanding plasebo (11,1% vs 4,0%).

Peneliti yang sama memperluas penelitian mereka, terhadap remaja wanita yang hamil. Mereka menemukan insiden kelahiran prematur dan berat lahir rendah yang lebih sedikit, pada kelompok yang menggunakan suplemen kalsium dibanding kelompok plasebo. Data ini memacu peneliti lain untuk mengevaluasi efek klinis suplementasi kalsium pada kehamilan, dan beberapa penelitian mendapatkan hasil yang sama.

Suatu tinjauan terbaru dari 6 penelitian yang melibatkan lebih dari 1700 wanita menunjukkan, suplementasi kalsium dihubungkan dengan penurunan hampir 50% risiko hipertensi yang diinduksi kehamilan. Risiko preeklamsia lebih rendah, antara 45% dan 74%, pada wanita yang mendapatkan suplementasi kalsium dibanding wanita yang tidak mendapat kalsium. Peneliti menyimpulkanm bahwa suplementasi kalsium selama kehamilan, juga menurunkan  risiko persalinan prematur. Karenanya, data yang ada berkenaan efek suplementasi klasium oral memberikan harapan untuk mengendalikan tekanan darah, mencegah preeklamsia dan menurunkan persalinan prematur.

Sebuah penelitian yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melibatkan lebih dari 8.300 wanita dengan asupan kalsium yang rendah— kurang dari 600 mg per hari - yaitu setengah dosis dari yang dianjurkan pada kehamilan. Subyek secara acak dibagi menjadi dua kelompok yang memiliki usia gestasi, karakteristik demografik dan tekanan darah normal yang sama sebelum pengobatan. Setengahnya diberikan 1,5g suplemen kalsium perhari dan setengahnya lagi diberi plasebo.

Meski suplementasi 1,5 gram kalsium/hari tidak menurunkan insiden preklamsia keseluruhan secara signifikan, kalsium secara signifikan menurunkan risiko komplikasi preeklamsia yang lebih serius. Termasuk morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal. Selain itu, insiden hipertensi gestasional berat secara signifikan lebih rendah. Persalinan preterm dan preterm awal—yaitu kurang dari 32 minggu—cenderung menurun pada wanita di bawah 20 tahun.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.