Fuda Cancer Hospital Pasien Serasa di Rumah Sendiri | ethicaldigest

Fuda Cancer Hospital Pasien Serasa di Rumah Sendiri

Bendera berbagai negara berkibar di bawah langit musim panas yang cerah. Bendera Tiongkok, Belanda, Australia, Kanada, Indonesia, dan lain-lain.  Ini bukan pemandangan di depan gedung PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), melainkan di Fuda Cancer Hospital (FCH), Guangzhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok.  Barisan bendera tersebut mewakili kewarganegaraan pasien yang telah berobat ke rumah sakit (RS) khusus kanker ini. Hingga kini, FCH telah melayani pasien dari 76 negara.

FCH merupakan RS bertaraf internasional yang telah meraih akreditasi JCI (Joint Commition International) pada 21 Maret 2014. FCH menjadi RS ke 31 di Tiongkok yang mendapat akreditasi JCI, dan merupakan RS khusus pertama milik swasta di Guangzhou yang mendapatkannya. Ada lebih dari 1.200 elemen penilaian; bila ada >40 item yang tidak memenuhi persyaratan, akreditasi akan ditolak.

Menurut dr. Liu Zhengping, Konsultan Direktur RS Fuda dan Representative Office Indonesia, berdirinya FCH berawal tahun 1998 ketika Prof. Xu, Direktur Utama sekaligus pendiri FCH, bertemu Menteri Kesehatan Tiongkok kala itu, Dr. Minzhan Chen. Menteri Chen berujar bahwa kanker telah menjadi masalah yang sangat serius. “Saya harap Anda dapat membangun institusi medis yang dapat memenuhi harapan orang di China Selatan,” ucapnya kepada Prof. Xu. FCH mulai dirintis awal tahun 2000, berawal dari sebuah RS milik pemerintah di Guangzhou, sebagai center khusus kanker.

Jumlah pasien makin banyak. Pada 2012, FCH memiliki gedung sendiri dengan kapasitas 400 tempat tidur, bertempat di distrik Tianhe dan Haizhu, Guangzhou. “Pemerintah Guangdong yang memberikan tanahnya,” ujar Fanny Suriono, Asisten Direktur Fuda Medical Group, Representative Office Indonesia. Fuda Cancer Hospital terafiliasi dengan Chinese Academy of Sciences' Guangzhou Institute of Biomedicine and Health dalam riset kanker, dan Jinan University School of Medicine. Agustus 2014, OTC Digest beserta beberapa wartawan dari Indonesia diundang ke RS yang terletak di distrik Tianhe.

Melayani kesehatan rakyat Tiongkok yang berjumlah >1,3 milyar, bukan perkara mudah. Tercatat ada >23.000 RS di Tiongkok pada 2012, bahkan ada RS yang kapasitasnya mencapai 2.000 tempat tidur. Namun, pasien yang penyakitnya tidak dianggap parah tidak dirawat karena begitu banyak yang antre. Kondisi ini akhirnya  menciptakan budaya menyogok untuk bisa masuk RS. Hal ini membuat Prof. Xu bertekad untuk membuat RS yang berbeda. Ia dengan tegas membuat peraturan yang melarang gratifikasi. Sekedar uang tips pun tidak boleh diterima oleh supir RS yang menjemput pasien di bandara. Dan pasien yang sudah sembuh dan ingin berterima kasih dengan memberikan makanan / bingkisan kepada suster, ditolak dengan halus. “Banyak pasien yang memaksa, hingga petugas melapor ke atasan. Akhirnya diputuskan hadiah diterima. Bbingkisan berupa barang dipajang di RS, makanan dibagikan kepada pasien,” ungkap Fanny.

Dedikasi Prof. Xu dalam mengelola RS membuatnya disegani dan dihargai. Ia dinobatkan sebagai satu dari 10 Direktur RS terbaik di Tiongkok. Ia juga mendapat Bethune Medal, penghargaan setara Nobel di Tiongkok, yang diberikan pemerintah bagi mereka yang berjasa besar di bidang kedokteran. Dedikasinya dalam pengobatan kanker, mengantarkannya menerima penghargaan Role Model of Times dari Publicity Department, Tiongkok, 27 Mei 2014.

 

Terapi invasif minimal

FCH dikenal dengan terapi invasif minimal dan inovatif, seperti cryosurgery dan kemo lokal atau TACE (transarterial chemo-embolization). Namun metode konvensional kemoterapi, radioterapi dan operasi juga dilakukan di sini. Pendekatan pengobatan di FCH fokus pada 3C+P: CSA (cryosurgical ablation), CMI (cancer microvascular interventional therapy), CIC (combined immunotherapy for cancer), dan personalized cancer therapy. “Artinya, setiap orang berbeda, tidak dipukul rata menggunakan metode apa. Disesuaikan dengan kondisi tubuh,” terang Fanny. Pengobatan di FCH menganut konsep green cancer treatment, yakni pengobatan tidak semata bertujuan menyembuhkan, tapi juga mempertimbangkan kualitas hidup pasien. Segala terapi yang dilakukan tidak boleh sampai membuat pasien terlalu menderita.

Umumnya, pasien yang datang ke FCH sudah dalam stadium lanjut. “Ini yang membuat nilai survival pasien tidak terlalu bagus. Seandainya datang dari awal, hasilnya sangat bagus,” ujar Fanny. Meski begitu, tidak sedikit yang bisa bertahan hingga bertahun-tahun, meski sudah stadium lanjut. Misalnya Hardi Mustakim Tjiong (69 tahun), pasien asal Indonesia yang didiagnosa kanker hati stadium 4B pada Juni 2010. Pengobatan cryosurgery dan TACE berhasil menghilangkan kankernya. Akhir 2013, ditemukan titik kanker baru di livernya, dan ia kembali berobat ke FCH. Selama 3 tahun usai pengobatan pertama, Hardi bisa hidup nyaman seperti orang lain. Saat dijumpai di FCH ketika berobat untuk kedua kali, ia tampak segar. “Kalau tidak sedang diinfus, saya jalan-jalan,” ujarnya.

Demikian pula dengan kanker paru dan kanker pankreas, yang harapan hidup pasien biasanya tipis. Cukup banyak pasien di FCH yang bisa bertahan hingga lebih dari 3 tahun. Untuk kanker payudara, banyak pasien memilih RS ini, karena memberi alternatif selain operasi sehingga payudara bisa tetap dipertahankan.

Pengobatan dikombinasi dengan TCM (Traditional Chinese Medicine), untuk membantu pasien memulihkan imunitasnya pasca terapi. Di lantai dasar, terdapat apotek yang terdiri dua bagian: obat-obatan Barat dan TCM. TCM umumnya sudah dikemas dalam bentuk sachet yang tinggal diseduh. Pasien yang ingin mendapat TCM akan diperiksa secara menyeluruh; obat yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing pasien.

 

Kenyamanan pasien dan keluarga

Kenyamanan pasien dan keluarga sangat diperhatikan. Untuk kunjungan dokter misalnya. Cukup banyak pasien dari Timur Tengah. Umumnya mereka meminta kunjungan dokter sore hari ketimbang pagi hari, meski sebenarnya sore adalah jam istirahat dokter. Kemungkinan, karena di pagi hari, pasien / keluarga pasien yang perempuan tidak mengenakan burqa di pagi hari. Sehingga, terasa tidak nyaman bila dokter masuk ke kamar. Di Tiongkok, dokter hanya boleh praktik di satu RS. Aturan ini membuat komunikasi antara dokter dan pasien / keluarga pasien terjalin baik. Saat kunjungan dokter, pasien bisa leluasa bertanya karena dokter tidak terburu-buru, dan selalu ada manakala dibutuhkan.  Dokter mendapat gaji bulanan dari RS dan bonus tahunan jika kinerjanya bagus, sehingga mereka berdedikasi tinggi dan tidak mencari pasien sebanyak-banyaknya.

RS menyediakan tempat mencuci dan menjemur pakaian bagi pasien dan keluarga, sehingga lebih praktis dan hemat. Yang menarik, tidak ada dapur di RS ini. Pasien, keluarga dan staf RS makan bersama di kantin yang terletak di lantai 6. Bila pasien terlalu lemah untuk bangun, keluarga bisa membeli makanan di kantin, atau minta tolong staf RS. Keluarga pasien juga bisa memasak sendiri di dapur yang disediakan khusus di lantai dasar. Di kantin, terdapat stan khusus untuk muslim yang menyajikan makanan halal.

Sebagai RS bertaraf internasional yang menerima pasien dari berbagai latar belakang ras dan agama, FCH dilengkapi fasilitas ibadah. Di lantai 7, terdapat ruangan peribadatan masing-masing 4x4 m2 untuk yang beragama Islam, Budha dan Nasrani. Mushola dilengkapi Al-Quran, peralatan shalat, buku-buku dan penunjuk waktu dan arah shalat. Ruang peribadatan Budha dilengkapi peralatan sembahyang, dan ruang peribadatan Nasrani difasilitasi kursi-kursi untuk bimbingan kerohanian. Di kamar, terdapat penunjuk arah kiblat. Di hari Jumat, disediakan mobil antar-jemput keluarga pasien untuk shalat Jumat ke masjid, yang berjarak 30-50 menit berkendara dari RS. Umat Nasrani juga bisa meminta agar pastor / pendeta datang ke kamar untuk bimbingan rohani. Pengobatan kanker membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Pasien mungkin harus menetap hingga berminggu atau bahkan berbulan-bulan. “Kami ingin pasien dan keluarga merasa nyaman selama berada di sini,” ujar dr. Liu.

Pasien yang kondisinya sudah membaik, boleh jalan-jalan keluar RS, dengan melapor dulu ke dokter yang bertugas. Bisa mengikuti kegiatan rekreasi yang diadakan setiap hari Minggu. Disediakan bus yang akan mengantar dan menjemput pasien dan keluarga ke tempat yang dituju, baik pusat perbelanjaan mau pun tempat wisata.

Perbedaan bahasa tidak menjadi kendala, karena ada penerjemah untuk berbagai bahasa. Antara lain bahasa Inggris, Indonesia, Arab, Thailand dan Vietnam. Tiap pasien memiliki nomor telepon penerjemah masing-masing, sehingga mudah menghubungi bila membutuhkan bantuan.

 

FCH di luar Tiongkok

Kantor perwakilan FCH di Indonesia, dibuka sejak 2006 karena pasien Indonesia yang berobat ke sana semakin  banyak. Pasien Indonesia biasanya menempati urutan 1 atau 2, sebagai pasien terbanyak dari luar Tiongkok. Dalam setahun, pasien dari Indonesia berkisar 500-1.000 orang. Jumlah ini kecil dibandingkan pasien Indonesia yang berobat ke Singapura. Kantor perwakilan FCH di Indonesia, selain di Jakarta juga ada di Surabaya, Balikpapan dan Medan.

FCH juga membuka kantor perwakilan di sejumlah negara. Misalnya di India, Filipina, Timur Tengah, Thailand, Vietnam, Australia, Rusia, Amerika dan Kanada. “Pasien dari negara-negara tersebut dirujuk ke FCH oleh dokter mereka untuk menjalani cryosurgery. Prosedur ini belum banyak dilakukan di negara lain,” terang dr. Liu. (nid)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.