Dehidrasi Picu Resistensi Insulin | ethicaldigest

Dehidrasi Picu Resistensi Insulin

Asupan cairan tidak semata-mata untuk mencegah dehidrasi. Ternyata juga berpotensi mencegah penyakit kronis, salah satunya diabetes melitus, dengan resistensi insulin sebagai bagian utama patofisiologi DM.

Riset di Indonesia (THIRST ;The Indonesian Hydration Regional Study) mengungkapkan bahwa kejadian dehidrasi ringan dialami oleh 46,1% responden. Kejadian lebih tinggi pada remaja (49,5%) dibanding pada orang dewasa (42,5%).

THRIST dilakukan dengan pemeriksaan berat jenis urin (urine specific gravity) terhadap 1200 sampel di Jakarta, Lembang (Bandung), Surabaya, Malang, Makasar dan Malino.

“Studi juga menyatakan sekitar 21 juta orang Indonesia (4%) adalah low drinker. Mereka minum kurang dari 1,2 liter per hari,” terang Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, Ketua Indonesian Hydration Working Group (IHWG).

Ia menjelaskan, dehidrasi akan memicu reaksi kompensasi tubuh dengan mensekresikan hormon agrinine vasopressin (AVP) dari hipofisis posterior. Vasopresin akan menjaga osmolalitas plasma dengan mereabsorbsi air di ginjal.

Kenaikan produksi AVP -yang ditunjukkan dengan biomarker kopeptin - menstimulasi glikogenolisis dan glukoneogenesis melalui reseptor vasopressin 1a (V1aR) di hati, serta memicu pelepasan insulin atau glukagon pada pankreas melalui reseptor vasopressin 1b (V1bR).

“Selanjutnya, jika vasopressin naik akan menyebabkan pelepasan hormon-hormon yang berhubungan dengan stres. Memediasi pelepasan hormon adrenokortikotropik (ACTH) selanjutnya kortisol naik. Terjadi resistensi insulin,” terang Prof. Budi dalam acara The 2nd Indonesian Hydration and Health Conference,  yang berlangsung di gedung IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta (7/11/2018). 

Pada studi yang dilakukan oleh Roussel, dkk (2016), pada 5.110 responden didapati tingginya kadar kopeptin berhubungan signifikan dengan sensitivitas insulin yang lebih rendah. Studi ini juga menemukan adanya peningkatan insidens hiperglikemia yang signifikan pada subyek dengan variasi gen arginine vasopressin-neurophysin II (AVP).

Pada studi kohort lainnya (n = 3.702), didapatkan subyek yang mengalami new-onset DM setelah follow up selama 12,6 tahun memiliki median kadar kopeptin yang lebih tinggi 40% dibandingkan kontrol pada baseline (6,74 vs 4,9 pmol/L). Riset yang dilakukan oleh Fujiwara Y, dkk., ini dipublikasikan dalam     The Journal of Physiology 2007.

Risiko munculnya DM yang berkaitan dengan kadar kopeptin selanjutnya diteliti pada studi kohort (n = 3.226) pada laki-laki berusia 60 – 79 tahun. Risiko DM meningkat terutama pada laki-laki dengan kadar kopeptin plasma yang tinggi > 6,79 pmol/L (adjusted HR = 1,78, 95%CI 1,34 – 2,37).

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.