Beta Blocker Aman Pada Gagal Jantung | ethicaldigest

Beta Blocker Aman Pada Gagal Jantung

Berbagai penelitian menunjukkan, beta bloker memiliki manfaat yang sangat besar untuk pengobatan gagal jantung kongestif. Sebelumnya, pemberian agen ini dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung kongestif. Beta bloker dapat menurunkan angka mortalitas dan morbiditas pasien gagal jantung. “Sehingga, memberi harapan lebih baik dalam pengobatan pasien gagal jantung,” ujar Prof. dr. Emilio Vanolli dari Fondazione Policlinico di Monza, Monza, Italia.

Dalam penelitian CIBIS II, misalnya, ditunjukkan bahwa beta blocker (bisoprolol) dapat menurunkan angka kematian akibat berbagai sebab (all-cause mortality) sampai 34%. Sementara kematian mendadak turun sampai 44%, masuk rumah sakit akibat berbagai sebab sampai 20% dan masuk rumah sakit karena WHP sampai 36%.

Begitu juga penelitian MADIT II yang menunjukkan, pasien yang mendapatkan beta blocker dengan dosis yang lebih tinggi  (dosis kuartile teratas) mengalami penurunan signifikan risiko VT atau VF yang membutuhkan terapi ICD, dibandingkan pasien yang tidak mendapatkan beta blocker (hazard ratio 0,48, p = 0,02).

Kelebihan Beta Blocker

Manfaat beta blocker didasari kemapuannya menghambat aktifasi sistim neuroendokrin. Sebagaimana diketahui, pada gagal jantung terjadi peningkatan sistim neurohormon, yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan pada jantung, jika tidak diobati. “Jadi, peranan neurohormonal ini yang perlu kita perhatikan, karena inilah yang menyebabkan buruknya prognostik pada pasien,” ujar dr. Rachmad Romdoni, Sp.JP dari Universitas Airlangga, Surabaya.

Sistim neurohormonal mengaktifkan sistim RAAS dan sistim saraf simpatetik. Beta blocker bisa menghambat keduanya. Bahkan dikatakan, aktifasi sistim saraf simpatik mendahului RAAS. “Jadi, memberikan beta bloker pada pasien gagal jantung tidaklah salah. Hanya, beta blocker yang mana?” kata dr. Rachmad. Menurutnya, beta blocker terbaik adalah yang memiliki selektifitas tertinggi pada beta 1. Dari berbagai beta bloker, bisoprolol paling banyak bekerja pada beta 1 dan sedikit pada beta 2.

Beta blocker ini diberikan pada semua pasien dengan infark miokard atau riwayat infark miokard, dengan atau tanpa gagal jantung. Direkomendasikan pula pada semua pasien stabil dengan gejala gagal jantung atau pernah mengalami gejala gagal jantung dan penurunan LVEF, kecuali berkontraindikasi. Meski belum banyak diteliti, beta blocker diindikasikan pada semua pasien tanpa riwayat infark miokard yang mengalami penurunan LVEF tanpa gejala gagal jantung.

CIBIS III

Pada penelitian ini, pasien diberi bisoprolol atau enalapril sebelumnya selama 6 bulan Kemudian ditambahkan bisoprolol atau enalapril, selama 6 - 18 bulan. Hasilnya, selama 6 bulan pertama tidak ada perbedaan. Tetapi setelah satu tahun, angka kematian lebih kecil pada kelompok pasien yang diberi bisoprolol lebih dulu, dan kemudian ditambahkan enalapril. Jadi, sebaiknya, bisoprolol diberikan kepada pasien CHF sampai ada kontraindikasi.

Beta Bloker pada Pembedaan Non Jantung

Penyulit akibat gangguan pada jantung, merupakan masalah besar pada pembedahan besar non jantung. Karena merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas perioperatif dengan risiko sampai 5,8%. Infark perioperatif terjadi pada sekitar 3% penderita, terutama risiko tinggi. Dan pada penderita penyakit jantung koroner, insiden infark perioperatif berkisar antara 4,7-5,6%.

Menurut dr. Otte J. Rachman, Sp.JP dari RSJ Harapan Kita, intervensi yang dapat mengurangi kejadian iskemik perioperatif adalah beta blocker dan statin. Auerbach dan kawan-kawan memperlihatkan, pemberian beta blocker dapat menurunkan kematian, infark, henti jantung atau henti hantar perioperatif dari 0,4-1% menjadi <1% pada penderita tanpa faktor risiko. Pada orang dengan 1-2 faktor risiko, menurun dari 2,2-6,6% menjadi 0,8-1,6%. Sementara pada penderita dengan 3 atau lebih faktor risiko, dari 9% menjadi >3%.

Pada penelitian DECREASE (1999), pemberian bisoprolol terhadap penderita dengan faktor resiko penyakit jantung seperti penyakit jantung koroner (PJK), HF dan serebrovaskuler, yang juga menjalani pembedahan vaskuler, ternyata 90% resiko kombinasi kematian dan infark non fatal dapat dikurangi dari 34% menjadi 3,4%, dibandingkan penderita tanpa bisoprolol. Dengan begitu, pemberian bisoprolol efektif mencegah morbiditas dan mortalitas perioperatif akibat gangguan jantung.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.