Terapi Nyeri Radiofrequency Ablation

Terapi Nyeri Radiofrequency Ablation

RFA dapat digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan nyeri, akut atau kronik. Di antaranya low back pain, nyeri leher dan nyeri yang berkaitan dengan penyakit degeneratif seperti penyakit sendi arthritis.

Radiofrequency ablation (RFA) merupakan prosedur minimally invasive, yang digunakan untuk mengurangi nyeri. Secara sederhana, arus listrik yang dihasilkan oleh gelombang radio dari alat ini, kemudian digunakan untuk membaalkan area di jaringan saraf, yang selanjutnya mampu menghentikan pengiriman sinyal nyeri dari area tertentu pada tubuh ke otak.

RFA yang merupakan bagian dari interventional pain management (IPM), dapat digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan nyeri, yang bersifat akut atau kronik seperti di antaranya low back pain (nyeri pinggang), nyeri leher, atau nyeri yang berkaitan dengan penyakit degeneratif seperti penyakit sendi arthritis.

Kita ketahui bersama bahwa derajat nyeri yang dialami seseorang berbeda-beda, hal ini terutama didasari oleh penyebab dan lokasinya. Penggunaan RFA setidaknya mampu mengurangi rasa nyeri pasien dan dapat bertahan mulai 6-12 bulan, bahkan pada pasien-pasien tertentu teknik ini manjur dalam mengatasi nyeri hingga jangka waktu yang cukup lama, hingga bertahun-tahun. Dari data yang ada, 70% pasien yang diterapi dengan metode RFA merasa puas, karena teknologi ini mampu menghilangkan rasa nyeri yang dialami.

Seperti dikatakan dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, Jakarta, “RFA terbukti aman dan efektif untuk pengobatan nyeri.” Prosedur ini secara umum juga cukup mudah diterima oleh pasien, dengan sedikit sekali kemungkinan untuk terjadi komplikasi, seperti infeksi dan perdarahan. Namun kompetensi dan juga pengalaman dokter dalam melakukan hal ini, menjadi salah satu faktor semakin berkurangnya angka komplikasi yang bisa terjadi. Ada baiknya, sebelum dokter melakukan tindakan ini, bicarakan dengan pasien tentang kemungkinan terjadinya komplikasi. RFA juga tidak direkomendasikan dilakukan pada mereka dengan penyakit inveksi aktif, atau mereka yang memiliki gangguan pada sistim pembekuan darah.

Pada mereka dengan penyakit diabetes yang menggunakan terapi insulin, mungkin diperlukan penyesuian dosis insulin pada beberapa hari sebelum prosedur RFA dilakukan. Demikian juga pasien yang menggunakan terapi non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAID); harus dihentikan 3 hari sebelum prosedur dilakukan. Setelah prosedur RFA, tidak disarankan untuk mengemudi kendaraan atau alat berat setidaknya dalam waktu 24 jam.

Prosedur RFA

Pertama-tama sebuah intravenous line akan ditempatkan pada pembuluh darah di lengan pasien, sebelum anastesi lokal disuntikan pada pasien. Dokter kemudian akan membersihkan bagian kulit punggung, pinggang atau leher pasien, bergantung pada kemungkinan lokasi nyeri itu berada.

Dengan bantuan X-Ray dan fluoroscopy, dokter akan memasukan jarum radiofrequency khusus (mikroelectrode) pada area yang dituju, dan dimulailah proses stimulasi yang bertujuan membaaalkan daerah sendi faset yang mengalami inflamasi, atau yang menjadi sumber nyeri tersebut. Selama prosedur dilakukan, dokter mungkin menanyakan ada tidaknya sensasi kesemutan. Hal ini untuk memastikan bahwa prosedur dilakukan pada lokasi yang tepat. Melalui bantuan elektrode, dihantarkanlah arus listrik frekwensi tinggi. RFA dihantarkan pada sendi faset dan saraf selama 90 detik, untuk memanaskan dan membakar saraf yang mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak.

Mungkin prosedur ini akan diulang pada beberapa lokasi. Dengan hilangnya peradangan, saraf tidak bisa mengirim sinyal rasa sakit ke otak. Alhasil rasa sakit yang timbul berkurang atau hilang sama sekali. Setelah prosedur RFA selesai dilakukan, jarum dan elektrode dicabut kembali, setelah itu dokter atau perawat akan menempelkan perban pada lokasi bekas penyuntikan jarum. Pasien yang mengalami nyeri dapat pulang pada hari itu juga, dengan nyeri yang berkurang bahkan hilang.

Pada hari pertama hingga hari ke-4 setelah prosedur RFA dilakukan, mungkin pada lokasi penyuntikan dapat terjadi pembengkakan atau rasa sakit. Hal ini disebabkan karena spasme otot. Namun, kondisi ini akan hilang pada 7-14 hari setelah prosedur dilakukan.

Dalam sebuah penelitian mengenai nyeri yang mengikutsertakan 28 pasien dengan nyeri pinggang, dikatakan bahwa penggunaan RFA terbukti mampu mengatasi nyeri pada pasien secara lebih baik dibanding kontrol (placebo). Sebanyak 79% pasien pada follow up setelah 6 bulan merasa puas dengan hasil RFA. Dan pada 1 tahun follow up, hanya 2 pasien kelompok perlakukan yang menunjukan nyeri yang persisten. (ant)

 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.