Terbaru dari GOLD untuk PPOK | ethicaldigest

Terbaru dari GOLD untuk PPOK

Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) sering datang sudah dalam kondisi lanjut. “Banyak yang belum diobati sama sekali, atau belum menggunakan terapi yang seharusnya, atau pasien yang sudah mendapat pengobatan yang lama, atau sudah pernah datang ke sejawat spesalis paru. Kekurangan dari GOLD 2016 yang mematok pengobatan dengan mengelompokkan pasien menjadi ABCD, menjadi sesuatu yang kurang lengkap,” ucap DR. dr. Susanthy Djajalaksana, Sp.P, dari FK Universitas Brawijaya, Malang.

Selain itu, jarang sekali pasien PPOK hanya menggunakan satu jenis obat. Sering pengobatan dilakukan dengan beberapa jenis obat. “Apalagi pada kondisi yang sudah sangat lanjut,” terangnya pada Pertemuan Ilmiah Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi 2017 di Hotel Shangrilla, Jakarta, 16-18 Februari 2017. Bukan berarti pengobatan yang demikian tidak aman. Umumnya pengobaan PPOK dilakukan jangka panjang dan penanganan pasien PPOK bersifat individual.

Tahun 2017, GOLD mengeluarkan panduan baru penanganan PPOK. Ada beberapa perbedaan antara GOLD 2016 dengan GOLD 2017. Dimulai dari definisi, GOLD 2016 menekankan pada respon inflamasi. Sedangkan GOLD 2017 lebih menekankan pada abnormalitas saluran nafas dan alveolar. Dan hal ini mendapatkan perhatian dalam penanganannya.

Panduan 2016 mengelompokkan pasien berdasarkan gejala dan eksaserbasi. Juga, FEV1 adalah parameter dalam assessment pasie. “Yang menjadi parameter dalam assessment pasien adalah limitasi saluran nafas, gejala saluran nafas dan eskaserbasi,” kata DR. dr. Susanthy. Pada kenyataannya itu tidak mudah, karena FEV1 tidak berhubungan dengan eksaserbasi dan tidak berhubungan dengan gejala sesak. Sehingga, obstruksi saluran nafas yang berat tidak selalu berhubungan dengan keluhan sesak.

Pada GOLD 2017, berdasarkan peneltian-penelitian dan praktik di lapangan, assessment tidak memasukkan faal paru atau spirometri. Jadi hanya berdasarkan eksaserbasi dan gejala saja. Alat untuk mengukur gejala adalah dengan skala dispnea MRC dan skor CAT.  Sedangkan jika berdasarkan pada eksaserbasi, jika tidak ada atau satu kali eksaserbasi dalam satu tahun masuk kelompok A atau B. Kalau ada 2 atau lebih masuk kelompok C atau D.

Tujuan pengobatan pada GOLD 2017 tidak berubah, yaitu untuk menurunkan gejala dan risiko eksaserbasi. Tapi, terapinya ada perbedaan. Pada kelompok A, terapinya adalah bronkodilator kalau perlu. Kalau kebutuhan bronkodilatornya setiap hari, maka terapi bronkodilator setiap hari. Bronkodilator yang digunakan adalah yang aksi cepat beta 2 agonist, atau short-/long- acting antikolinergik  atau antimuskarinik, atau LAMA atau LABA. Kalau penggunaannya tidak setiap hari, cukup dengan short acting saja, tetapi kalau penggunaannya setiap hari maka short acting dengan frekuensi 3 atau 2 kali, atau long acting.

Kelompok B keluhannya memang setiap hari, walau jarang eksaserbasi. Sehingga kebutuhan bronkodilator sudah setiap hari. Yang dianjurkan adalah LABA atau LAMA. Kalau dengan satu long acting bronkodilator gejalanya masih ada, bisa diberikan kombinasi long acting bronkodilator. “Jadi pada B tidak didahului kombinasi, tapi oleh salah satu long acting bronkodilator. Kalau tidak cukup boleh dikombinasi. Kalau kombinasi tidak lebih baik dibandngkan single, tidak perlu diteruskan cukup satu saja,” kata dr. Susanthy.

Pada kelompok C, pengobatan dimulai dengan salah satu long acting bronchodilator. Dan karena kelompok C sudah ada eksaserbasi, maka berdasarkan penelitian LAMA lebih baik dalam mencegah eksaserbasi. Karena itu, pada C kalau disarankan menggunakan single bronkodilator, pilihannya adalah LAMA. Kalau dengan monoetarpi LAMA masih ada keluhan, bisa ditambahkan LABA.

Pada kelompok D, kalau memang bisa dimulai dengan LAMA maka berikan. Tetapi, sering  standarnya adalah kombinasi LAMA dan LABA, walau hanya sedikit pasien yang bisa terkover. Kalau dengan LABA dan LAMA masih berlum teratasi eksaserbasinya, bisa ditambahkan obat ketiga. Kalau dengan kombinasi tiga obat belum teratasi, bisa ditambahkan roflumilast, terutama kalau ada bronchitis kronik atau pertimbangakan makrolid sebagai antiinflamasi. Pilihannya adalah azithromicin. Atau menghentikan steroidnya. Karena penelitian menunjukkkan, jika dengan kombinasi tiga obat steroid dihentikan, inflamasi jadi lebih baik.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.