Peran Astaxanthin dalam Stres Oksidatif | ethicaldigest

Peran Astaxanthin dalam Stres Oksidatif

Reactive Oxygen Species (ROS) adalah reaksi normal tubuh sebagai hasil metabolisme, namun dalam kondisi berlebih menjadi sesuatu yang patologis (stes oksidatif). Mempengaruhi apoptosis dan fibrosis sel, juga membuat berkurangnya jumlah nitric oxide (NO) dan menyebabkan disfungsi endotel.

“ROS akan membuat disfungsi endotel, mdembuat makrofag mudah berikatan dan menembus masuk ke sub endotel. LDL juga menjadi gampang menyusup ke sub endotel. Secara beruntun, ROS merangsang LDL berubah menjadi foam cells dan fatty streak, dan terjadilah aterosklerosis,” ujar dr. Marulam M. Panggabean, SpPD-KKV, SpJP, dari Divisi Kardiologi Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, padaLunch Symposium KOPAPDI XVI 2015 di Bandung, 12 September 2015.

Ada pun Prof. Dr. dr. Askandar Tjokroprawiro, SpPD-KEMD, FINASIM, Ketua Pusat Diabetes & Nutrisi Surabaya RSUPD Dr. Soetomo menyatakan, ada 5 jaringan yang rusak akibat stres oksidatif: dinding sel lemak; protein yang berdampak pada tidak maksimalnya produksi enzim sehingga mengganggu metabolism; DNA yang menyebabkan 7 kanker yang banyak diderita pasien diabetes mellitus (kanker lever, colon, rektum dan payudara); mitokondria (pusat pembentukan ATP), dan endotel yang melapisi pembuluh darah.

“Pada kasus diabetes, ROS mengganggu fungsi pancreas, dengan merusak sel beta, sekresi insulin, jalur kerja insulin,” papar Prof. Askandar. “Pada pasien diabetes yang terawat baik saat makan dimetabolisme di mitokondria menjadi energi (ATP). Pada diabetesi yang tidak terkontrol menjadi oksidan. Maka, pasien diabetes yang tidak terkontrol kadar oksidannya tinggi.”

Peran Astaxantin

Penelitian menunjukkan stres oksidatif  dapat dilawan” dengan antioksidan. Ini didasari fakta bahwa, “Penggunaan obat-obatan pada penyakit kardiovaskular, misalnya penurun kolesterol yang maksimal pun hanya mampu menurunkan profil lipid 30-35%,” papar dr. Marulam. “Perlu pendekatan lain.”

Astaxanthin adalah antioksidan yang sedang naik daun. Sumber alami astaxanthin adalah kelompok ganggang yang disebut Haematococcus pluvialis. Journal of Human Nutrition & Food Science 2013 menjelaskan, astaxanthin memiliki efek positif untuk pencegahan penyakit inflamasi, diabetes, kardiovaskular, nonalkohol fatty liver dan nonalkohol steatohepatitis.

Pada beberapa penyakit yang berhubungan dengan ROS, peneliti menyimpulkan astaxanthin mampu melindungi mitokondria dan menghalangi inflamasi, juga bersifat anti apotosis.

Pada kasus diabetes, menurut Prof. Askandar, antioksidan mencegah / memblok AGE (advance glycosylated endproduct) agar tidak merusak pembuluh darah yang dapat menyebabkan komplikasi.

“AGE terjadi setelah kondisi hiperglikemi berlangsung >7 hari. Menyebabkan prolifeasi sel dan matriks, vasokonstriksi focal thrombosis,” ujarnya. 

Jurnal Medical Food 2011 menyebutkan, astaxantin mengurangi biomarker-biomarker peroksidasi lipid pada perokok berat (merokok >7 tahun). Studi menggunakan metode randomized-double-blind pada 39 subyek berusia 25 tahun, selama 3 minggu. Pada level biomarker plasma MDA terjadi penurunan 32% dari 2,8 umol/L menjadi 1,9 umol/L. Sementara pada plasma isoprotane dari 18 ng/mL menjadi 2 ng/mL; turun 89%.

Pada studi lain, ada penurunan biomarker peroksidasi lipid pada subyek overweight. Dengan metode penelitian yang sama (randomized-double-blind) pada 23 subyek, usia 25-37 tahun, BMI > 29 kg/m², juga selama 3 minggu. Level plasma MDA turun dari 2,71 mmol menjadi 1,77 mmol atau 35%. Di satu sisi ada kenaikan pada total kapasitas antioksidan, yakni dari 1080 mmol uric acid equiv. menjadi 1320 mmol uric acid equiv., atau naik 22%. Demikian pula pada level plasma SOD, naik dari 794 U/mL menjadi 1540 U/mL (naik 93%).  Studi ini ditulis dalam Phytotherapy Research 2011.

Vincent Wood, MRes PhD, General Manager Fuji Chemical Group AstaReal Co., Ltd., menyatakan, astaxanthin memiliki 2 gugus hydroxyl yang akan mengikat membran sel, sehingga berperan sebagai antioksidan yang kuat. Astaxanthin memiliki sturktur bipolar dan mekanisme unik antioksidan. Pertama dengan physical quenching, membenturkan diri pada ROS dan mengambil energi darinya sehingga ROS menjadi normal kembali. Kedua dengan chemical scavenging, mencari ion pada radikal bebas yang tidak mempunyai pasangan dan mendonasikan elektronnya, sehingga radikal bebas kembali normal.

Dalam penelitian oleh dr. Martin, professor dari Dusseldorf University, antioksidan diklasifikasi berdasar rerata oksidasinya. Didapatkan, beta karoten, likopen dan zeaxantin tergolong sebagai anti sekaligus pro-oksidan. Sementara astaxanthin tanpa properti pro-oksidasi, yang berarti antioksidan murni. Asupan yang dianjurkan adalah 6-12 mg /hari.  (jie)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.