Kelainan Gingiva pada Ibu Hamil | ethicaldigest

Kelainan Gingiva pada Ibu Hamil

Pada masa kehamilan, terjadi perubahan hormonal, ditandai meningkatnya kadar hormon estrogen dan progesteron. Siklus peningkatan produksi hormon estrogen dan progesteron seringkali mengubah komposisi mikrobiota biofilm, biologis jaringan gingiva dan pembuluh darah. “Secara umum, respon peradangan berlebihan dengan tanda-tanda klinis dan gejala yang dapat terlihat pada gingiva,” ujar drg. Mira Madjid, SPH, SpPerio, dari Amara Skin & Aesthetic Center RSU Bunda, Jakarta.

Peningkatan kadar hormon estrogen dan progesteron pada masa kehamilan, diyakini dapat mempengaruhi kesehatan gingiva, salah satunya menyebabkan pelebaran pembuluh darah sehingga terjadi pembesaran gingiva ibu hamil. Perubahan paling menonjol yang berkaitan dengan jaringan periodontal, adalah adanya gingivitis kehamilan dan epulis gravidarum. “Gingivitis kehamilan terjadi sebagai hasil dari peningkatan kadar hormon progesteron dan estrogen,” papar dr. Mira. Hormon progesteron dan estrogen dapat merangsang pembentukan prostaglandin pada gingiva ibu hamil. Perubahan hormonal juga dapat menekan limfosit T dan mempengaruhi peningkatan P. intermedia.

Gingivitis kehamilan merupakan manifestasi oral yang paling sering terjadi. Gingivitis kehamilan  gambaran klinisnya berupa marginal gingiva dan papila interdental berwarna merah terang sampai merah kebiruan, permukaannya licin dan mengkilap, berkurangnya kekenyalan dan mudah berdarah. Perubahan jelas terlihat pada bulan kedua kehamilan, mencapai puncaknya pada bulan kedelapan dan berkurang setelah melahirkan. Selain gingivitis kehamilan, salah satu bentuk perubahan yang terjadi pada gingiva saat hamil adalah epulis gravidarum, yang disebut juga granuloma pyogenic.

Berbeda dengan gingivitis, epulis gravidarum merupakan kelainan gingiva yang jarang terjadi pada masa kehamilan; prevalensinya 0,2 - 5%. Epulis gravidarum merupakan lesi yang tumbuh cepat dan jinak, biasanya terjadi pada trimester pertama kehamilan. Epulis gravidarum ditandai lesi berwarna merah cerah dan banyak vaskularisasi, yang kadang memiliki flek putih di permukaan. Biasanya bertangkai dan dapat mencapai diameter 2 cm, tidak menimbulkan rasa sakit sehingga tidak menimbulkan keluhan berarti. Meskipun dapat timbul pada setiap lokasi di gingiva, epulis gravidarum kebanyakan timbul di papila interdental, umumnya lebih sering di daerah labial pada rahang atas. Gigi yang berdekatan dengan epulis dapat bergeser dan mudah goyang, meskipun kerusakan tulang jarang terjadi di sekitar gigi yang berdekatan dengan epulis.

Mekanisme kerusakan jaringan periodontal Interaksi antara bakteri dan hormon, dapat menimbulkan perubahan pada komposisi plak dan berperan penting pada proses peradangan gingiva. Konsentrasi bakteri subgingiva berubah menjadi bakteri anaerob dan jumlahnya meningkat selama masa kehamilan. Bakteri yang meningkat drastis adalah P. intermedia. Peningkatan ini erat kaitannya dengan tingginya kadar estrogen dan progesteron dalam tubuh. Selain itu, terdapat penurunan sel limfosit-T  matang yang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan perubahan respon jaringan terhadap plak.

Selain peningkatan jumlah P. intermedia, kadar progesteron yang meningkat dapat memicu terjadinya peradangan gingiva, dengan menghambat produksi interleukin-6 (IL-6). Interleukin-6 berfungsi menstimulasi diferensiasi limfosit B, limfosit T dan mengaktifkan sel makrofag dan sel NK. Sel-sel ini  menyerang dan memfagositosis bakteri yang masuk ke sirkulasi darah. Dihambatnya produksi IL-6 mengakibatkan gingiva rentan terhadap peradangan. Progesteron juga merangsang produksi prostaglandin (PGE2), dimana PGE2 merupakan mediator yang poten dalam respon inflamasi.

Bakteri seperti Actinobacillus actinomycetemcomitans, Phorpyromonas gingivalis, Tannerella forsythensis dan Treponema denticola, sering ditemukan dengan jumlah yang tinggi pada periodontitis. Sebuah penelitian yang dilakukan University of North Carolina, ibu hamil dengan tingkat keparahan periodontitis sedang sampai berat berisiko melahirkan sebelum waktunya, 7 kali lebih tinggi dibanding ibu hamil dengan keadaan jaringan periodontal yang sehat. Penelitian ini melibatkan 850 ibu hamil.

“Selain mengonsumsi makanan bergizi, ibu hamil dianjurkan rutin membersihkan gigi setiap habis makan dan menjelang tidur, serta menghindari makanan-makanan keras yang berpotensi mencederai gusi,” ujar drg. Mira.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.