Terapi untuk NAFDL dan NASH1 | ethicaldigest
Terapi_untuk_NAFDL

Terapi untuk NAFDL dan NASH1

Meski telah ditemukan beberapa terapi untuk NAFLD dan NASH, belum ada satu pun modalitas terapi yang efektif. Karenanya, pengobatan lebih ditujukan terutama pada pasien NASH untuk mencegah progresifitas penyakit menjadi fibrosis, sirosis dan kanker hati. Bukan berarti orang dengan penyakit liver bentuk lain tidak perlu diobati. Sebab, mereka juga berisiko mengalami komplikasi terkait sindroma metabolik yang diderita. Pengobatan ditujukan untuk mengatasi komponen sindroma metabolik.

Ada beberapa agen farmaseutikal, yang bisa digunakan untuk mengobati NASH. Meski begitu, pengelolaan awal harus difokuskan ada modifikasi gaya hidup dan membalikkan kondisi terkait NAFLD. Strategi pengobatan meliputi pengobatan obesitas, resistensi insulin, hiperlipidemia, stres oksidatif dan mekanisme lain yang bertanggung jawab pada patogenesis NASH.

Strategi Pengobatan NASH melalui Penurunan Berat Badan.

Siapakah yang harus mendapatkan pengobatan? “Pada penderita steatosis, penglolaan ditujukan hanya untuk mencegah komplikasi ekstrahepatik dan melakukan monitoring pada hati,” kata Prof. Vlad Ratziu dari Université Pierre et Marie Curie dan Hôpital Pitié-Salpêtrière Medical School, Paris, Perancis. Sementara untuk penderita steatohepatitis, pengelolaan ditujukan untuk mencegah terjadinya fibrogenesis.

“Pada steatohepatitis tanpa fibrosis atau dengan fibrosis ringan, tidak ada pengobatan spesifik. Hanya dianjurkan menjalani modifikasi gaya hidup dan diet,” kata Prof. Ratziu pada konfrensi APASL 2013, di Jakarta. Tapi, untuk penderita dengan fibrosis signifikan, diberikan terapi farmakologis spesifik. 

Penurunan berat badan adalah tahap pertama dalam pengelolaan sindroma metabolik, resistensi insulin, NAFLD dan NASH. Terapi ini bertujuan untuk menurunkan lemak viseral, sehingga mediator peradangan juga berkurang di dalam jaringan adipose dan hepatosit. Latihan fisik dapat meningkatkan sensitivitas insulin perifer dan mengurangi hiperinsulinemia.

Penurunan berat badan dapat dilakukan melalui intervensi medik, meliputi diet, modifikasi gaya hidup, penggunaan obat-obat penurun berat badan dan intervensi pembedahan. Beberapa studi telah dilakukan untuk mengetahui efek diet, dengan atau tanpa akivitas fisik pada NAFLD dan NASH. Hasilnya menunjukkan perbaikan enzim transaminase, penurunan resistensi insulin, bahkan perbaikan parameter histologis (Skor NASH sedikitnya 2 point).

Digestive Disease and Science tahun 2007 memuat sebuah penelitian, melibatkan 100 orang pasien yang diberikan modifikasi gaya hidup dan UDCA x 4 bulan. Intervensi gaya hidup yang diberikan meliputi olah raga aerobik dan penurunan berat badan (10% dari baseline x 6 bulan). Ada sebanyak 64 pasien mencapai respon biokimia lengkap, 10 pasien lainnya menunjukklan respon biokimia parsial. Kelemahan dari pendekatan diet dan olah raga, adalah sulitnya mencapai target dan mempertahankan diet dan gaya hidup dalam jangka panjang.

Penelitian efek obat-obat penurun berat badan (sirbutramin dan orlistat) pada pasien NAFLD dan NASH, tidak memberikan hasil yang konklusif, karena tidak melakukan evaluasi histologi dari hati. Penelitian yang dilakukan  Harrison dan kawan-kawan memperlihatkan perbaikan parameter histologis dari terapi diet dan vitamin E, dengan atau tanpa orlistat pada pasien NASH selama 36 minggu. Tapi, perbaikan histologis ini berhubungan dengan penurunan berat badan dan bukan dengan terapi orlistat.

Pembedahan bariatik pada obese morbid, efektif mengurangi BB sedikitnya 50%. Perbaikan resistensi insulin dan semua komponen sindroma metabolik , termasuk perbaikan steatosis dan keradangan juga dapat dicapai pada pasien NASH setelah pembedahan bariatrik.

Insulin Sensitizers

Resistensi insulin mempunyai peranan yang sentral pada patogenesis dan progresi NAFLD. Banyak penelitian dilakukan untuk membuktikan pengaruh terapi pada perbaikan resistensi insulin dengan berbagai obat insulin sensitizer, seperti metformin, selective agonis PPAR-¡ (troglitazon,rosiglitazon dan pioglitazon), agonist glukagon-like peptide-1 (exenatide), agonist reseptor acylated glucakon-like peptide-1 (liraglutide) dan insulin secretagogue generasi kedua (nateglinide).

Terapi obat diberikan jika intervensi gaya hidup tidak mendapatkan hasil. Metformin efektif untuk mencapai respon biokimia, pada pasien dengan NAFLD. Ada beberapa penelitian efek metformin pada pasien NAFLD/NASH dengan evaluasi histology. Dari 9 penelitian, 4 penelitian melaporkan perbaikan histology. Lima penelitian lainnya tidak menunjukkan perbaikan histologi hati. Sehingga, masih belum jelas benar adanya perbaikan histologi pada pasien NASH, meski pun terdapat perbaikan transaminase, profil lipid dan glukosa, resistensi insulin dan berat badan. Meski manfaat langsung metformin pada NAFLD dan NASH masih diperdebatkan, keamanan dan efektivitas dalam memperbaiki resistensi insulin, salah satu faktor risiko kardiometabolik yang mendasari NAFLD, tidak diragukan lagi.

Obat lainnya yang bisa digunakan adalah selective agonis PPAR gamma, seperti pioglitazone. Penelitian penggunaan obat-obatan ini pada NAFLD dan NASH menunjukkan perbaikan transaminase, steatosis, dan peradangan. Tapi, pada studi lain tidak menunjukkan adanya perbaikan fibrosis. Kekurangan dari penelitian-penelitian ini adalah disain penelitian yang terbuka dan menggunakan sampel yang kecil.

Vlad Ratziu dan kawan-kawan tahun 2010 melaporkan hasil studi dengan metode yang lebih baik (RCT) dan jangka panjang (2 tahun). Kesimpulan mereka, PPAR-¡ memperbaiki transaminase dan resistensi insulin secara bermakna pada pasien NASH, tetapi tidak memperbaiki parameter histologi (NAFLD activity score). Sehingga manfaat jangka panjang pengobatan dengan TZD (tiazolidindione) masih dipertanyakan, sampai ada penelitian lebih lanjut.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.