Terapi spesifik Hipertensi Paru | ethicaldigest

Terapi spesifik Hipertensi Paru

Peran dan indikasi untuk terapi spesifik HP pada pasien dengan PPOK, masih belum jelas. Namun, terapi spesifik HP harus dipertimbangkan ketika hipertensi paru terus berlanjut, meski telah diberi terapi sebelumnya dan ketika hipertensi paru diyakini menyebabkan sumbatan aliran udara. Sebagian besar obat spesifik hipertensi paru, memiliki efek vasodilator dan antiproliferatif yang membantu menurunkan ventrikel kanan pada pasien hipertensi paru.

Vasodilator

Vasodilator seperti kalsium bloker, angiotensin-converting enzim inhibitor, nitrat dan hydralazine telah digunakan untuk mengurangi PAP dan PVR. Obat ini tidak selektif untuk pembuluh darah paru-paru dan memiliki efek samping. Obat ini tidak direkomendasikan untuk digunakan dalam mengobati HP terkait PPOK.

Agen Vasoaktif

Mengingat dampak negatif HP pada parameter klinis PPOK, beberapa peneliti berusaha mengkaji dampak obat vasoaktif pada pasien dengan HP terkait PPOK. Sayangnya, penelitian-penelitian ini terdiri dari kasus serial atau tunggal dengan kriteria inklusi atau sampel yang sangat kecil.

Oksida nitrat adalah suatu dilator otot halus vaskuler langsung. Obat ini digunakan sebagai obat hirup. Penelitian membuktikan adanya peningkatan ventilasi-perfusi mistmach dan menstabilkan PaO2, pada pasien dengan PPOK terkait HP saat latihan fisik. Penelitian juga  menunjukkan perbaikan oksigenasi dan hemodinamik jangka pendek dan panjang, pada pasien dengan HP terkait PPOK, yang menerima terapi oksigen dan oksida nitrat.

Sebagai pilihan terapi, kombinasi antara terapi oksigen dan oksida nitrat agak rumit digunakan jangka panjang dan perlu penelitian lebih lanjut. Penelitian single center selama 12 minggu, secara acak memberikan bosentan pada 30 pasien dengan PPOK berat (hanya 6 di antaranya yang mengalami HP saat istirahat), tidak menunjukkan perbaikan fungsional secara signifikan. Bahkan oksigenasi arteri dan kualitas hidup menurun pada pasien yang menggunakan bosentan, dibandingkan dengan mereka yang memakai plasebo.

Sildenafil merupakan penghambat selektif phosphodiesterase type 5 (PDE5). PDE5 terdapat di seluruh tubuh dan di paru terdapat dalam konsentrasi yang tinggi. Penghambatan pada PDE5 akan meningkatkan efek vasodilatasi nitric oxide pada hipertensi pulmonal, dengan mencegah pemecahan dari cyclic guanosine monophosphate (cGMP), yang mencetuskan relaksasi otot halus vaskular dan meningkatkan aliran darah.

Pada hewan coba dan penelitian pada manusia, sildenafil diketahui menghasilkan penurunan selektif pada tekanan arteri pulmonal secara relative, tanpa meningkatkan efek samping sistemik. Penghambatan PDE5 juga meningkatkan aktivitas anti-agregrasi trombosit nitric oxide dan menghambat pembentukan trombus.

Ada penelitian oleh Ghofrani dan kawan-kawan, yang bertujuan mengevaluasi keamanan dan efektivitas sildenafil oral, baik sebagai terapi tunggal maupun terapi kombinasi dengan inhalasi iloprost pada penderita hipertensi pulmonal. Penelitian ini menggunakan metode acak, berkontrol dan open label.

Yang diikutsertakan adalah pasien hipertensi arteri pulmonal (n=16), hipertensi pulmonal tromboembolik kronis (n=13), atau hipertensi pulmonal yang disebabkan aplasia dari arteri pulmonal kiri (n=1). Keseluruhan diagnosis ini mengacu pada klasifikasi New York Heart Association, tergolong ke dalam kelas III atau IV.

Hasilnya ditinjau dari potensi vasodilator pulmonal (penurunan maksimum resistensi pembuluh darah pulmonal dan peningkatan indeks kardiak), 50 mg sildenafil plus iloprost paling efektif, diikuti sildenafil 12,5 mg plus iloprost. Iloprost dosis tunggal dan sildenafil 50 mg memiliki efektivitas sebanding namun kurang poten dibanding pemberian kombinasi, dan yang paling kurang poten adalah sildenafil dan nitric oxide.

Pada pasien yang menerima sildenafil 50 mg plus iloprost, perubahan maksimum potensi vasodilator pulmonal adalah −44,2% (95% CI, −49,5% to −38,8%), disbanding nitric oxide −14,1% (CI, −19,1% to −9,2%). Dengan pemberian sildenafil 50 mg dan iloprost, area under curve untuk penurunan resistensi vasodilator pulmonal lebih besar, dibanding dengan pemberian sildenafil 50 mg dan iloprost. Efek vasodilatasi menetap hingga lebih dari 3 jam, dan tekanan arteri sistemik dan oksigenasi arteri dipertahankan. Tidak ada efek samping yang dilaporkan.

Prostaglandin E1 dan I2 memiliki efek vasodilator pada sirkulasi paru. Analog prostaglandin telah dibuktikan mengurangi mPAP dan PVR, meningkatkan curah jantung dan pengantaran oksigen pada pasien dengan PPOK. Namun, ada kekhawatiran parenteral analog prostanoid dapat memperburuk ventilasi-perfusi mismatch dan hipoksia pada pasien-pasien ini, terutama jika diberikan dalam kondisi dekompensasi akut.

SUPLEMENTASI OKSIGEN JANGKA PANJANG PADA PASIEN DENGAN RESTING ATAU EXERTIONAL HIPOKSEMIA

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.