Terapi simptomatis Otitis Media Akut | ethicaldigest

Terapi simptomatis Otitis Media Akut

Penatalaksanaan OMA harus mempertimbangkan masalah nyeri. Jika terdapat nyeri, pasien harus diberi terapi untuk mengurangi nyeri. Penanganan nyeri harus dilakukan terutama dalam 24 jam pertama onset OMA, tanpa memperhatikan penggunaan antibiotik. Penanganan nyeri telinga pada OMA dapat menggunakan analgetik seperti asetaminofen, ibuprofen, preparat topikal seperti benzokain, naturopathic agent, homeopathic agent, analgetik narkotik dengan kodein atau analog, dan timpanostomi / miringotomi.

Di bagian THT-KL RSUP Dr. M. Djamil, Padang, penderita OMA khususnya stadium presupurasi dan supurasi diberi analgetik, karena pada stadium ini umumnya penderita merasa nyeri pada telinga. Pada stadium supurasi bila membran timpani menonjol dan masih utuh, dianjurkan  melakukan miringotomi.

Antihistamin dapat membantu mengurangi gejala, pada pasien dengan alergi hidung. Dekongestan oral berguna untuk mengurangi sumbatan hidung. Tetapi, antihistamin maupun dekongestan tidak memperbaiki kesembuhan atau meminimalisir komplikasi dari OMA, sehingga tidak rutin direkomendasikan. Manfaat pemberian kortikosteroid pada OMA, juga masih kontroversi.

Dasar pemikiran penggunaan kortikosteroid dan antihistamin, karena obat tersebut dapat menghambat sintesis atau melawan aksi mediator inflamasi, sehingga membantu meringankan gejala pada OMA. Kortikosteroid dapat menghambat perekrutan leukosit dan monosit ke daerah yang terkena, mengurangi permeabilitas pembuluh darah, dan menghambat sintesis atau pelepasan mediator inflamasi dan sitokin. Tapi, penelitian Chonmaitree dan kawan-kawan memperlihatkan, tidak ada manfaat yang jelas dari pemakaian kortikosteroid dan antihistamin, yang digunakan sebagai monoterapi atau kombinasi, pada pasien yang memakai antibiotik.

Terapi antibiotik

Antibiotik direkomendasikan untuk semua anak di bawah 6 bulan, 6 bulan-2 tahun jika diagnosis pasti, dan untuk semua anak usia lebih dari dua tahun dengan infeksi berat (otalgia sedang atau berat atau suhu tubuh lebih dari 39oC ). Jika perlu memberi antibiotik, lini pertama adalah amoksisilin dengan dosis 80-90 mg/kg/hari. Pada pasien dengan penyakit berat dan terinfeksi β-laktamase positif Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis, terapi dimulai dengan amoksisilin-klavulanat dosis tinggi (90 mg/kg/hari untuk amoksisilin, 6,4 mg/kg/hari klavulanat dibagi 2 dosis).

Jika pasien alergi amoksisilin dan reaksi alergi bukan reaksi hipersensitifitas (urtikaria atau anafilaksis), dapat diberi cefdinir (14 mg/kg/hari dalam 1 atau 2 dosis), cefpodoksim (10 mg/kg/hari 1 kali/hari) atau cefuroksim (20 mg/kg/hari dibagi 2 dosis). Pada kasus reaksi tipe I (hipersensitifitas), bisa diberikan azitromisin (10 mg/kg/hari pada hari 1, diikuti 5 mg/kg/hari untuk 4 hari, sebagai dosis tunggal harian) atau klaritromisin (15 mg/kg/hari dalam 2 dosis terbagi). Obat lain yang bisa digunakan eritromisin-sulfisoksazol (50 mg/kg/hari eritromisin) atau sulfametoksazol-trimetoprim (6-10 mg/kg/hari trimetoprim. Alternatif terapi pada pasien yang alergi penisilin atau diduga terinfeksi S.pneumoniae yang resisten terhadap penisilin, dapat diberi klindamisin 30-40 mg/kg/hari dalam 3 dosis terbagi. Pada pasien yang muntah atau tidak tahan obat oral, dapat diberikan dosis tunggal parenteral ceftriakson 50 mg/kg.

Hoberman dan kawan-kawan menunjukkan, terapi dengan amoksisilin-klavulanat selama 10 hari pada anak usia 6 – 23 bulan, dapat menurunkan waktu penyembuhan gejala dan tanda infeksi akut pada pemeriksaan otoskop. Demikian juga hasil penelitian Tahtinen dan kawan-kawan pada anak usia 6-35 bulan, menunjukkan outcome yang lebih baik pada anak yang diterapi dengan antibiotik dibanding plasebo.

Jika pasien tidak menunjukkan respon pada terapi inisial dalam 48 -72 jam, harus diperiksa ulang untuk mengonfirmasi OMA dan menyingkirkan penyebab lain. Jika OMA terkonfirmasi pada pasien yang pada awalnya diterapi dengan observasi, harus dimulai pemberian antibiotik. Jika pasien pada awalnya sudah diberi antibiotik, harus diganti dengan antibiotik lini kedua, seperti amoksisilin-klavulanat dosis tinggi, sefalosporin dan makrolid.

Waktu yang optimum dalam terapi OMA masih kontroversi. Terapi jangka pendek (3 hari azitromisin, 5 hari antibiotik lain), adalah pilihan untuk anak usia diatas 2 tahun dan terapi paket penuh (5 hari azitromisin, 7-10 hari antibiotik lain) lebih baik untuk anak yang lebih muda. Terdapat beberapa keuntungan dari terapi jangka pendek yaitu biaya lebih kecil, efek samping lebih sedikit, komplian lebih baik dan pengaruh terhadap flora komensal dapat diturunkan.

Terapi antibiotik jangka panjang dapat mencegah rekurensi dari OMA. Pertanyaan antibiotik apa yang akan digunakan, untuk berapa lama, dan berapa episode OMA untuk menilai terapi, belum dievaluasi secara adekuat.

Terapi bedah

Walaupun observasi yang hati-hati dan pemberian obat merupakan pendekatan pertama dalam terapi OMA, terapi pembedahan perlu dipertimbangkan pada anak dengan OMA rekuren, otitis media efusi (OME), atau komplikasi supuratif seperti mastoiditis dengan osteitis. Beberapa terapi bedah yang digunakan untuk penatalaksanaan OMA termasuk timpanosintesis, miringotomi dan adenoidektomi.

BACA JUGA OBSERVASI PILIHAN PERTAMA PADA OMA YANG TIDAK BERAT

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.