Terapi PCI vs. Terapi Fibrinolitik | ethicaldigest

Terapi PCI vs. Terapi Fibrinolitik

Jika seorang pasien datang dengan nyeri dada iskemik akut atau terjadi dengan cepat, dia mungkin akan didiagnosa mengalami sindroma koroner akut (SKA). Karena, meski penyakit-penyakit yang masuk dalam sindroma ini memiliki gejala dan tanda yang luas, sindroma koroner akut merupakan suatu diagnosis kerja untuk beberapa kondisi yang mememiliki suatu patofisiologis yang sama.

Berdasarkan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) 12 lead standar yang dilakukan saat pasien masuk rumah sakit, mereka dibedakan antara pasien dengan infark miokard ST elevasi (STEMI) dengan infark miokard non ST elevasi. Pada penderita STEMI, terjadi oklusi total arteri koroner epikardial, yang memerlukan terapi reperfusi sesegera mungkin. Sedangkan pada penderita NSTEMI arteri koroner tidak tersumbat total, tapi ada penurunan aliran darah yang menyebabkan iskemia.

Guideline baru pengelolaan STEMI dipublikasikan di European Society of Cardiology 2012, dan American College of Cardiology Foundation /American Heart Association 2013. Dalam guideline itu disebutkan, pasien dengan peningkatan segmen ST persisten kandidat terapi reperfusi, untuk mengembalikan aliran darah pada arteri yang tersumbat.

PCI primer harus dilakukan pada pasien: 1) STEMI dan gejala iskemia dengan durasi kurang dari 12 jam; 2) STEMI dan gejala iskemia dengan durasi kurang dari 12 jam, yang berkontraindikasi terhadap terapi fibrinolitik, terlepas dari waktu tertunda dari kontak medis pertama; 3) STEMI dan syok kardiogenik atau gagal jantung berat akut, terlepas dari waktu tertundari dari onset IM pertama.

“Pasien dengan STEMI, harus dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas memadai, di mana tindakan PCI primer bisa dilakukan dalam batas waktu yang dianjurkan,” kata dr. Hasudungan Sibuea, Sp.PJ, staf pengajar FK Universitas Lampung, Lampung. Saat tiba di rumah sakit, pasien harus segera dibawa ke laboratorium kateter, tanpa harus melewati unit gawat darurat.

Jika pasien datang ke rumah sakit tanpa fasilitas PCI dan menunggu transportasi untuk PCI primer atau rescue, mereka harus ditempatkan di tempat yang bisa dimonitor dengan baik dan ditemani staf rumah sakit.

Jika diagnosis STEMI belum dilakukan oleh kru ambulan, dan ambulan tiba di rumah sakit tanpa fasilitas PCI, ambulan harus menunggu diagnosis. “Jika, kemudian  STEMI terkonfirmasi, ambulan harus membawa pasien menuju rumah sakit dengan fasilitas PCI,” kata dr. Sibuea.

Kriteria seleksi PCI primer vs. terapi Fibrinolitik

Penelitian menunjukkan, outcome klinis akan memburuk jika terjadi keterlambatan tindakan PCI primer. Sehingga, pemilihan seleksi strategi PCI primer vs. reperfusi farmakologis, tergantung pada lama waktu antara mulai gejala dan kontak medis pertama (KMP), waktu dari KMP sampai laboratorium kateterisasi, waktu dari KMP ke insersi sheath dan waktu KMP ke inflasi balloon.

PCI primer harus dikerjakan dalam waktu 2 jam setelah KMP. Dan, walau pun belum ada penelitian spesifik, keterlambatan waktu maksimal 90 menit setelah KMP, tampaknya menjadi rekomendasi yang reasonable pada pasien dengan presentasi dini, dengan infark luas dan risiko perdarahan rendah.

PCI primer juga diindikasikan pada pasien syok, dan terdapat kontraindikasi terhadap terapi fibrinolitik. PCI rescue harus dipertimbangkan setelah kegagalan terapi fibrinolisis, berdasarkan tanda klinis dan bukti infark luas, jika tindakan dapat dikerakkan dalam waktu 12 jam setelah onset gejala.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.