Terapi Nonfarmakologis Bell’s palsy | ethicaldigest

Terapi Nonfarmakologis Bell’s palsy

Di samping  terapi  obat-obatan, pada kasus Bell’s palsy  juga  dilakukan  perawatan  mata  dan fisioterapi. Perawatan  mata tujuannya untuk  mencegah terjadinya  kekeringan  pada  kornea, karena kelopak mata yang  tidak  dapat  menutup  sempurna  dan  produksi  air mata  yang  berkurang.  Perawatan  ini  dapat  dilakukan menggunakan artificial  tear  solution, pada  waktu pagi  dan  siang  hari,  dan  salep  mata  menjelang tidur. Pasien  juga  dianjurkan  menggunakan  kacamata  bila keluar  rumah.  Bila  telah  terjadi  abrasi  kornea  atau keratitis, dibutuhkan penatalaksanaan bedah untuk melindungi  kornea, misalnya dengan partial  tarsorrhaphy.

Pada pasien  ini,  tidak  diberikan  perawatan  mata  karena mata kanan  pasien  masih dapat tertutup sempurna. Dengan  usaha  maksimal  dan  setelah  3  hari  pemberian terapi,  produksi  air  mata  pasien  sudah  kembali  normal. Dibuktikan  dengan  tes  Schirmer, telah sama antara mata kiri dan mata kanan.

Prognosis  Bell’s  palsy  tergantung  pada  jenis  kelumpuhannya,  usia  pasien  dan  derajat  kelumpuhan.  Kelumpuhan  parsial  (inkomplit),  mempunyai  prognosis  yang  lebih  baik.  Anak-anak  juga   mempunyai  prognosis yang  baik,  dibanding  orang  dewasa  dan  sekitar  96,3% pasien  Bell’s palsy dengan House-Brackmann  kurang dari Derajat II dapat sembuh sempurna. Sedangkan pada  House-Brackmann  lebih  dari  derajat IV, sering  terdapat deformitas wajah yang permanen.

Pada pasien ini, hari ketiga  pengobatan  sudah  terdapat  perbaikan  walau belum maksimal.  Pada hari kesepuluh, kelumpuhan saraf fasialisnya  sudah mencapai House-Brackmann derajat  II. Lokasinya  setinggi  infra  khorda  dan  fungsi  motorik yang terbaik meningkat  menjadi 76%. Setelah  3 minggu terapi, kelumpuhan saraf fasialisnya sudah tidak terlihat  lagi  (HB  I)  dan  fungsi  motorik  otot  wajahnya sudah normal.

 Diperlukan  pemeriksaan  untuk  menentukan prognosis  penyakit  ini.  Pemeriksaan  tersebut  direkomendasikan  pada  kelumpuhan  komplit,  atau  bila  tidak terdapat tanda-tanda   kesembuhan  dalam   3 minggu dari onset penyakit. Menurut Yeo dan kawan-kawan, ENoG merupakan  alat  yang  dapat  membantu  memperkirakan prognosis  penyakit.  Alat  ini  dapat  mencatat compound action  potential  dari  otot  fasialis,  setelah  diberi stimulasi  elektrik  supramaksimal  pada  saraf  fasialis bagian distal dari foramen stilomastoid. 

Rekurensi  pada  kasus  Bell’s  palsy  jarang  dilaporkan,  terutama  pada  anak-anak.  Chen  dkk 19 melaporkan,  terdapat  6% kasus  Bell’s  palsy  yang mengalami  rekurensi.  Rekurensi  ini  dapat  disebabkan karena terserang virus  kembali,  atau  aktifnya  virus  yang indolen dalam saraf fasialis. Bila rekurensi terjadi pada sisi  yang  sama  dengan  sisi sebelumnya, biasanya disebabkan  oleh  virus  Herpes  Simpleks.  Rekurensi  meningkat pada pasien dengan riwayat Bell’s palsy dalam keluarga. Umumnya, rekurensi terjadi  setelah 6 bulan dari onset penyakit. 

MANFAAT KORTIKSOTEROID DAN ANTIVIRAL PADA BELL’S PALSY

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.