Penyakit THT Tersering | ethicaldigest

Penyakit THT Tersering

Rhinosinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktek dokter sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyakit tersering di seluruh dunia. Di Indonesia, prevalensi rinosinusitis termasuk tinggi. Hal ini dapat diketahui berdasarkan data DEPKES RI tahun 2003 yang menyebutkan, penyakit tersebut berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama.

Di Amerika Serikat, 1 dari 7 orang dewasa terkena sinusitis, dengan lebih dari 30 juta penderita didiagnosis setiap tahunnya. Di sana, sinusitis sering terjadi pada awal musim gugur hingga awal musim semi. Sementara, berdasarkan data National Ambulatory Medical Care Survey (NAMCS), kira-kira 14 persen orang dewasa dilaporkan memiliki episode rinosinusitis setiap tahunnya dan didiagnosis ke-5 terbanyak berdasarkan peresepan antibiotik, serta 0,4% didiagnosa rawat jalan.

Berdasarkan data Global Research In Allergy (2009), insidensi rinosinusitis di Amerika pada tahun 1997 sekitar 14,7% atau 31 juta kasus per tahun, dengan angka kejadian yang meningkat dalam kurun waktu 11 tahun terakhir. European Position Paper on Rinosinusitis on Nasal Polyps atau EP30S (2007) memaparkan pada studi perbandingan di Skotlandia Utara dan di Kepulauan Karibia bahwa jumlah populasi rinosinusitis kronis kurang lebih sama, dengan persentase 9,6% dan 9,3%.

Data dari Divisi Rinologi Departemen THT Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Januari–Agustus 2005 menyebutkan, jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435 pasien, 69% nya (300 pasien) adalah rinosinusitis kronis.

Di Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL FK Universitas Hasanuddin Makassar, jumlah kasus rinologi periode tahun 2003 sampai tahun 2007 adalah 12.557 kasus pada pasien rawat jalan, dan 1.092 kasus pada pasien rawat inap. Perbandingan antara pria dan wanita hampir sama (46:54). Kasus rawat inap yang terbanyak yaitu rinosinusitis (41,5%) dan kasus pada kelompok umur 30 – 39 tahun sebanyak 23,3%.

Pada penelitian di poliklinik THT-KL RS Hasan Sadikin, Bandung, periode Januari 2007 sampai Desember 2007, didapatkan 168 pasien rinosinusitis (64,29%) dari seluruh pasien rinologi. Di Bagian THT-KL Fakultas Kedokteran UGM/RS Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2006 – 2007, didapatkan 118 penderita rinosinusitis kronis (42%) dari seluruh pasien rinologi.

 

Definisi

Johnson dan Ferguson (1998) mengatakan, karena mukosa kavum nasi dan sinus paranasal saling berhubungan sebagai satu kesatuan, inflamasi yang terjadi pada kavum nasi biasanya berhubungan dengan inflamasi dalam sinus paranasal.

Secara histologi, mukosa kavum nasi dan mukosa sinus memiliki beberapa kesamaan. Mucous blanket sinus memiliki hubungan dengan kavum nasi. Dalam suatu penelitian menggunakan CT-Scan untuk common cold, terlihat bahwa mukosa kavum nasi dan sinus secara bersamaan mengalami proses inflamasi. Alasan lainnya, karena sebagian besar penderita sinusitis juga menderita rinitis, jarang sinusitis tanpa disertai rinitis, gejala pilek, buntu hidung dan berkurangnya penciuman ditemukan pada sinusitis mau pun rinitis.

Hal ini menunjukkan, sinusitis merupakan kelanjutan dari rinitis, yang mendukung konsep “one airway disease”. Yaitu bahwa penyakit di salah satu bagian saluran napas akan cenderung berkembang ke bagian yang lain. Beberapa guideline menyetujui pernyataan tersebut. Sehingga, terminologi yang lebih diterima hingga kini adalah rinosinusitis daripada sinusitis.

 

Kategori Penyakit

Rhinosinusitis bisa dikategorikan berdasarkan durasi infeksi, kemudian dibagi lagi berdasarkan patogen penyebabnya. Berkenaan durasi gejala, rhinosinusitis dibagi menjadi akut (<4 minggu), sub akut (4-12 minggu), kronis (>12 minggu), atau akut berulang (4 atau lebih kasus per tahun). Jika dikategorikan berdasar organisme penyebab, mayoritas kasus disebabkan virus, sisanya disebabkan bakteri dan jamur.

 

Akut

Rhinosinusitis akut dapat dibagi menjadi dua kategori, bergantung pada organisme penyebab, yaitu rinosinusitis akut virus dan rinosinusitis akut bakteri. Gejala keduanya bisa sama, sehingga sulit membedakannya. Namun, rinosinusitis akut virus bersifat sel limittng. Artinya, bisa sembuh dengan sendirinya dalam 7 sampai 10 hari. Komplikasi bakteri terjadi pada 0,5% sampai 2% rinosinusitis virus akut, ketika kavotas sinus yang meradang karena virus terinfeksi oleh bakteri.

Rinosinusitis virus akut bisa mencetuskan infeksi bakteri dengan menyumbat drainase sinus, memacu pertumbuhan bakteri dan perpindahan bakteri masuk ke dalam kavitas sinus saat mengeluarkan ingus. Patogen yang umumnya ditemukan adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis, dan Staphylococcus aureus. Sebanyak 74% kasus pada pasien dewasa disebabkan dua bakteri yang pertama.

Pola resistensi telah berubah, karena H influenza penghasil beta laktamase dan peningkatan penggunaan vaksin pneumokokal. Misalnya, resistensi amoxicillin pada H influenzae berbeda-beda, tergantung pada lokasi geografis. Daerah Amerika bagian tenggara memiliki resistensi 35%. Sementara bagian barat daya hanya memiliki pola resistensi 25%.

Guideline IDSA 2012 membantu membedakan rinosinusitis virus akut dari rinosinusitis bakteri akut dengan melihat tiga tanda klinis, yang mengidentifikasikan infeksi bakteri. Yaitu gejala selama lebih dari 10 hari tanpa perbaikan, gejala berat atau pemburukan gejala setelah perbaikan awal. Gejala berat ditegakkan dengan demam berat (≥ 39°C [102°F]) dan cairan nasal kental atau nyeri wajah selama setidaknya 3 hari berturut-turut. Pemburukan gejala, disebut juga "double sickening," dijabarkan sebagai onset baru demam, sakit kepala atau pengeluaran cairan nasal  setelah infeksi slauran nafas bagian atas yang bertahan 5 sampai 6 hari, ketika gejala awal membaik.

 

Subakut

Rinosinusitis subakut adalah kondisi antara rinosinusitis akut (<4 minggu)  dan rinosinusitis kronis (>12 minggu). Tidak ada data klinis untuk mengevaluasi atau pengobatan rinosinusitis subakut. Karenanya, tidak ada rekomendasi khusus bisa dibuat mengenai pengobatan rinosinusitis subakut.

 

Kronis

Menurut Kennedy tahun 1993 (pada Konferensi Internasional Penyakit Sinus, Princeton New Jersey), sinusitis kronik adalah sinusitis persisten yang tidak dapat disembuhkan hanya dengan terapi medikamentosa. Kondisi ini disertai adanya hiperplasia mukosa dan dibuktikan secara radiografik.

Pada orang dewasa, keluhan dan gejala berlangsung persisten selama delapan minggu atau terdapat empat episode atau lebih sinusitis akut rekuren, masing-masing berlangsung minimal sepuluh hari. Kondisi ini berkaitan dengan perubahan persisten pada CT-scan setelah terapi selama empat minggu, tanpa ada pengaruh infeksi akut.

Definisi rinosinusitis kronik terbaru dinyatakan dalam makalah EP3OS tahun 2007. Dinyatakan, rinosinusitis kronis adalah suatu inflamasi pada (mukosa) hidung dan sinus paranasal, berlangsung selama 12 minggu atau lebih disertai dua atau lebih gejala, di mana salah satunya adalah buntu hidung (nasal blockage / obstruction / congestion) atau nasal discharge (anterior / posterior nasal drip)

± nyeri fasial / pressure

± penurunan / hilangnya daya penciuman dan dapat di dukung oleh pemeriksaan penunjang antara lain:

  • Endoskopik: di mana terdapat polip atau sekret mukopurulen, yang berasal dari meatus medius dan atau udem mukosa primer pada meatus medius.
  • CT – scan: perubahan mukosa pada kompleks ostiomeatal dan atau sinus paranasal.

 

Berdasarkan definisi yang terakhir, dapat dilihat bahwa rinosinusitis dapat dibedakan lagi menjadi kelompok dengan polip nasi dan kelompok tanpa polip nasi. EP3OS 2007 menyatakan bahwa rinosinusitis kronik merupakan kelompok primer, sedangkan polip nasi merupakan subkategori dari rinosinusitis kronik.

Alasan rasional rinosinusitis kronik dibedakan antara dengan polip dan tanpa polip nasi, berdasarkan beberapa studi, yang menunjukkan adanya gambaran patologi jaringan sinus dan konka media yang berbeda pada kedua kelompok tersebut.

 

Gejala-gejala

Rinosinusitis memiliki tiga gejala utama: cairan nasal yang kental, obstruksi nasal, dan rasa nyeri dan tekanan pada wajah. Cairan nasal keruh atau berwarna. Obstruksi nasal dirasakan oleh pasien seperti obstruksi, kongesti, tersumbat atau  sesak. Sementara nyeri dan rasa tertekan di wajah, melibatkan bagian anterior dari wajah dan wilayah periorbital atau bermanifestasi dengan sakit kepala yang terlokalisasi atau meluas.

Gejal kedua dapat mencakup demam, batuk, kelelahan, hiposmia, anosmia, nyeri gigi maksilari, dan tekanan atau rasa penuh di telinga. Guideline IDSA 2012 membantu membedakan antara rinosinusitis virus dan bakteri, dengan melihat tiga tanda klinis. Yaitu gejala-gejala persisten dan tidak membaik, gejala-gejala berat, atau gejala-gejala memburuk.

Beberapa faktor risiko yang memudahkan pasien mengalami rinosinusitis, meliputi abnormalitas anatomi, reaksi alergi nasal, infeksi gigi, abnormalitas mukosa (misalnya cystic fibrosis) iritan kimia dan imunodefisiensi. Beberapa kondisi yang serupa dengan rinosinusitis, perlu dirujuk karena kemungkinan adanya komplikasi, termasuk infeksi intracranial dan orbital. Gejala-gejala yang memerlukan rujukan secepatnya adalah diplopia, perubahan status mental dan edema periorbital.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.