Otto Loewi, Peraih Nobel Fisiologi 1936 | ethicaldigest

Otto Loewi, Peraih Nobel Fisiologi 1936

Otto Loewi (3 Juni 1873 – 25 Desember 1961) adalah seorang ahli farmakologi kelahiran Jerman. Dia berhasil menemukan asetilkolin, yang membantu meningkatkan terapi medis. Temuan ini membuatnya meraih penghargaan Nobel di bidang fisiologi pada 1936 bersama Sir Henry Dale. Mereka bertemu pada 1902, saat menghabiskan beberapa bulan di laboratorium Ernest Starling di University College, London.

Loewi lahir di Frankfurt, Jerman. Dia mendapat gelar doktor dari Universitas Strasbourg (yang kemudian menjadi bagian dari Jerman) pada 1896. Selama 1897–1898 dia menjadi asisten dari Carl von Noorden, dokter di City Hospital di Frankfurt. Setelah melihat tingginya angka mortalitas karena tuberkulosis dan pneumonia, dia memutuskan untuk menjadi dokter dan ingin melakukan riset dalam ilmu pengetahuan dasar, terutama farmakologi.

Pada 1898, dia menjadi asisten professor Hans Horst Meyer, seorang farmakologis terkenal di Universitas Marburg. Pada 1904 menjadi professor farmakologi di Vienna. Pada 1905, Loewi menjadi Associate Professor di laboratorium Meyer, dan pada 1909 dia terpilih menjadi kepala farmakologi di Graz.

Di tahun pertamanya di Marburg, Loewi banyak melakukan penelitian di bidang metabolisme. Sebagai hasil penelitiannya pada phlorhizin, suatu glikosuria yang memprovokasi glukosida, dan penelitian lain pada metabolisme nuclei pada pria, dia ditunjuk menjadi dosen pada 1900.

Dua tahun kemudian, dia menerbitkan tulisannya mengenai sintesis protein pada tubuh binatang. Dia mengatakan bahwa binatang dapat membentuk protein sendiri dari degradasi asam amino, suatu temuan penting berkenaan dengan nutrisi. Loewi menyelidiki bagaimana organ penting memberikan respon terhadap stimulasi kimia dan listrik.

Dia juga berhasil mengetahui ketergantungan organ vital terhadap epinephrine, untuk dapat berfungsi dengan baik. Dari sini dia belajar bagaimana impuls saraf dihantarkan oleh pembawa pesan kimiaawi. Neurotransmitter kimia pertama yang berhasil diindentifikasi adalah acetylcholine.

Pada  1903, dia menerima penunjukkan di Universitas Graz di Austria, di mana dia menetap sampai dipaksa keluar dari negara tersebut pada 1938. Pada 1905 dia mendapatkan kewarganegaraan Austria.

Dia menikah dengan Guida Goldschmiedt pada 1908. Mereka memiliki tiga anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Dia adalah orang Yahudi terakhir yang dipekerjakan di universitas tersebut antara 1903 dan akhir perang.  Pada 1938, Austria diduduki Nazi, dan Loewi bersama kedua anak laki-lakinya ditangkap.  Tapi, kemudian, Loewi dilepaskan dengan sarat dia mau menyerahkan dengan sukarela semua barang miliknya, termasuk penelitiannya pada Nazi.

Loewi pindah ke Amerika Serikat pada 1940, dan menjadi professor peneliti di Universitas New York. Pada 1946, dia menjadi warga negara AS. Pada 1954, dia menjadi anggota asing Royal Society. Dia meninggal di New York pada 25 Desember 1961.

Setelah kematiannya, anak laki-lakinya mewakili untuk menerima medali Nobel. Ia kemudian menyerahkan sertifikat Nobel pada Universitas Graz di Autria pada 1983, dan dipamerkan di sana.

Sebelum Loewi melakukan penelitian, tidak ada yang tahu apakah sinyal yang melintasi sinaps adalah biolistrik atau kimia. Penelitian Loewi paling terkenal, yang dipublikasikan pada 1921, secara luas menjawab hal ini. 

Dalam penelitiannya terebut, dia mengeluarkan dua jantung yang masih berdetak dari dua ekor kodok. Satu jantung masih melekat saraf vagus. Jantung lainnya tidak. Keduanya dimasukkan dalam larutan garam. Dengan stimulasi saraf vagus menggunakan listrik, Loewi membuat jantung pertama berdetak lebih pelan. Lalu, Loewi mengambil cairan yang digunakan untuk merendam jantung pertama dan mencelupkan jantung kedua. Ini membuat jantung kedua berdetak lebih pelan.

Ini membuktikan bahwa ada kimia larut yang dilepaskan oleh saraf vagus, yang mengendalikan detak jantung. Dia memberi nama kimia tersebut Vagusstoff. Di kemudian hari, diketahui bahwa kimia ini menyerupai aetilkolin (Kandel, et al. 2000).

Yang unik adalah ide penelitiannya ini datang saat dia tidur. Pada Sabtu Paskah 1923, dia bermimpi melakukan suatu penelitian yang akan membuktikan sekali dan selamanya bahwa transmisi impuls saraf adalah kimia, bukan listrik. Dia terbangun, menulis penelitiannya di atas kertas malam itu juga dan kembali tidur.

Pagi harinya, dia bangun dengan semangat karena dia tahu mimpi ini sangat penting. Ternyata, dia malah tidak bisa membaca tulisannya. Hari itu, katanya, adalah hari terpanjang dalam hidupnya, karena dia tidak bisa mengingat mimpinya. Anehnya, malam harinya, dia mengalami mimpi yang sama. Dia segera bangun dan berjalan ke laboratorium untuk melakukan penelitian. Dan tiga belas tahun kemudian, Loewi dianugerahi hadiah Nobel di bidang fisiologi bersama dengan Sir Henry Hallett Dale.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.