Otitis Media, Komplikasi Infeksi pada Anak | ethicaldigest

Otitis Media, Komplikasi Infeksi pada Anak

Otitis media atau yang oleh orang awam dikenal sebagai congek, adalah masalah pendengaran yang umum dialami masyarakat. Stigma negative membuat banyak pasien enggan ke dokter. Padahal, bila terlambat ditangani, congek dapat merusak gendang telinga, mengurangi pendengaran dan mengakibatkan ketulian.

Dr. Zainul Djaafar, Sp.THT, dari Rumah Sakit Khusus THT-Bedah KL Proklamasi, menjelaskan, congek adalah peradangan yang terjadi pada telinga bagian tengah. Kondisi ini biasanya diawali infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga bagian tengah, melalui saluran eustachius.

Otitis media berdasarkan gejalanya, dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif. Masing-masingnya memiliki bentuk yang akut dan kronis. Selain itu, terdapat jenis otitis media spesifik seperti otitis media tuberkulosa, otitis media sifilitika. Otitis media yang lain adalah otitis media adhesive.

Otitis media akut (OMA) adalah peradangan telinga tengah, dengan gejala dan tanda-tanda yang bersifat cepat dan singkat. “Otitis media dapat menjadi akut, apabila terjadi pembengkakan dan terbentuknya nanah di dalam telinga tengah. Pembengkakan di sekitar saluran eustachius juga menyebabkan lendir," terang dr. Zainul Djaafar, pada acara di Jakarta.

Jika otitis media akut tidak sembuh atau berlanjut lebih dari dua bulan, kondisi ini bisa berubah menjadi radang telinga tengah kronis. "Otitis media kronis dapat terjadi bila terapi terlambat, terapi tidak efektif, daya serang kuman tinggi, atau daya tahan tubuh rendah. “Kondisi ini dapat merusak telinga tengah dan gendang telinga, serta mengurangi pendengaran," terang dr. Zainul Djaafar.

Gejala Klinis

Gejala klinis OMA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien. Pada anak yang sudah dapat berbicara, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. Biasanya, penderita memiliki riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa, selain rasa nyeri terdapat gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang mendengar.

Pada bayi dan anak kecil, gejala khas OMA adalah suhu tubuh tinggi, dapat mencapai 39,5°C (pada stadium supurasi), anak gelisah dan sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani, sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tidur tenang.

Penilaian klinik OMA digunakan untuk menentukan berat atau ringannya penyakit. Penilaian berdasarkan pada pengukuran temperatur, keluhan orangtua pasien tentang anak yang gelisah dan menarik telinga atau tugging, serta membran timpani yang kemerahan dan membengkak atau bulging. Menurut Dagan (2003) dalam Titisari (2005), skor OMA adalah seperti berikut:

Skor OMA

 

Skor

Suhu (°C)

Gelisah

Tarik telinga

Kemerahan pada membran timpani

Bengkak pada membran timpani (bulging)

0

<38,0

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

1

38,0- 38,5

Ringan

Ringan

Ringan

Ringan

2

38,6- 39,0

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

3

>39,0

Berat

Berat

Berat

Berat, termasuk otore

 

Penilaian derajat OMA dibuat berdasarkan skor. Bila didapatkan angka 0 - 3, berarti OMA ringan, bila melebihi 3 berarti OMA berat.

Pembagian OMA lainnya yaitu OMA berat apabila terdapat otalgia berat atau sedang, suhu lebih atau sama dengan 39°C oral atau 39,5°C rektal. OMA ringan bila nyeri telinga tidak hebat dan demam kurang dari 39°C oral atau 39,5°C rektal.

Diagnosis

Kriteria Diagnosis OMA

Menurut Kerschner (2007), kriteria diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal, yaitu:

  1. Penyakit muncul secara mendadak dan bersifat akut.
  2. Ditemukan adanya tanda efusi. Efusi merupakan pengumpulan cairan di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya satu di antara tanda berikut, seperti menggembungnya membran timpani atau bulging, terbatas atau tidak ada gerakan pada membran timpani, terdapat bayangan cairan di belakang membran timpani, dan terdapat cairan yang keluar dari telinga.
  3. Terdapat tanda atau gejala peradangan telinga tengah, dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti kemerahan atau erythema pada membran timpani, nyeri telinga atau otalgia yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.

Menurut Rubin et al. (2008), keparahan OMA dibagi dua kategori, yaitu ringan-sedang dan berat. Kriteria diagnosis ringan-sedang adalah terdapat cairan di telinga tengah, mobilitas membran timpani menurun, terdapat bayangan cairan di belakang membran timpani, membengkak pada membran timpani dan otore yang purulen. Juga terdapat tanda dan gejala inflamasi pada telinga tengah, seperti demam, otalgia, gangguan pendengaran, tinitus, vertigo dan kemerahan pada membran timpani. Tahap berat meliputi semua kriteria tersebut, dengan tambahan demam melebihi 39,0°C disertai otalgia yang bersifat sedang sampai berat.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.