Observasi PIlihan Pertama Pada OMA yang Tidak Berat | ethicaldigest

Observasi PIlihan Pertama Pada OMA yang Tidak Berat

Tujuan penatalaksanaan Otitis Media Akut adalah mengurangi gejala dan rekurensi. Pada tahap awal, tujuan pengobatan untuk memperbaiki gejala yang berhubungan dengan nyeri dan demam. Juga untuk mencegah komplikasi supuratif seperti mastoiditis atau meningitis. Penatalaksanaan medis OMA menjadi kompleks, ketika terjadi perubahan patogen penyebab. Diagnosis yang tidak tepat, dapat menyebabkan pilihan terapi yang tidak tepat.

Jacky Munilson, Yan Edward dan Yolazenia dalam publikasinya “Penatalaksaan Otitis Media Akut” menyatakan, anak di bawah usia dua tahun pengobatan OMA bisa menimbulkan komplikasi serius. Diagnosis yang tidak tepat dapat menyebabkan pasien diterapi dengan antibotik, yang sebenarnya kurang tepat atau tidak perlu. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya resistensi antibiotik, sehingga infeksi  lebih sulit diatasi.

Di bagian THT-KL RSUP Dr. M. Djamil, Padang, penanganan OMA pada anak, tergantung pada stadium penyakit. Berikut pengobatan yang diberikan:

  1. Pada stadium Oklusi, pasien diberi obat tetes hidung HCL efedrin 0,5%, dan antibiotik. Pada stadium presupurasi, pasien diberi analgetika, antibiotika (biasanya golongan ampicillin atau penisilin) dan obat tetes hidung.
  2. Pada stadium supurasi, pasien diberi antibiotika dan obat-obat simptomatik. Dapat juga dilakukan miringotomi bila membran timpani menonjol dan masih utuh, untuk mencegah perforasi.
  3. Pada stadium perforasi, pasien diberi H2O2 3% selama 3-5 hari dan diberi antibiotik yang adekuat.

Pada tahun 2004, American Academy of Pediatrics dan the American Academy of Family Physicians mengeluarkan rekomendasi penatalaksanaan OMA. Rekomendasi ditujukan pada anak usia 6 bulan sampai 12 tahun. Direkomendasikan pemberian antibiotik pada bayi kurang dari 6 bulan. Sedangkan pada anak usia 6-23 bulan, observasi merupakan pilihan pertama pada penyakit yang tidak berat atau diagnosis tidak pasti. Sementara, antibiotika diberikan bila diagnosis pasti atau penyakit berat.

Pada anak di atas 2 tahun, antibiotik diberikan  jika penyakit berat. Jika diagnosis tidak pasti, atau penyakit tidak berat, dengan diagnosis pasti, observasi dipertimbangkan sebagai pilihan terapi. Observasi yang dilakukan Spiro dan kawan-kawan dan dipublikasikan di JAMA tahun 2006 membuktikan, penanganan OMA dengan menunggu dan melihat (observasi) secara bermakna, menurunkan penggunaan antibiotik pada populasi urban yang datang ke instalasi gawat darurat. Metoda observasi menurunkan penggunaan antibiotik 56% pada anak usia 6 bulan sampai 12 tahun dengan OMA.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan McCormick dan kawan-kawan dan dipublikasikan di jurnal Paediatrics 2005, menunjukkan kepuasan yang sama antara orang tua dari kelompok yang diterapi dengan observasi tanpa mendapat antibiotik dengan yang mendapat antibiotik pada penanganan OMA. Dibanding dengan observasi saja, pemberian antibiotik segera berhubungan dengan penurunan jumlah kegagalan terapi dan memperbaiki kontrol gejala. Tapi, pemberian antibiotik meningkatkan efek samping dan risiko infeksi oleh strain multidrug resistant S.pneumoniae di nasofaring, pada hari ke-12 kunjungan.

Indikasi untuk dilakukannya observasi adalah tidak ada demam, tidak ada muntah dan pasien atau orang tua pasien menyetujui penundaan pemberian antibiotik. Kontra indikasi relatif protokol observasi adalah telah mendapat lebih dari 3 seri antibiotik dalam 1 tahun terakhir, pernah mendapat antibiotik dalam 2 minggu terakhir dan terdapat otorea. Pilihan observasi mengacu pada penundaan pemberian antibiotik pada anak terpilih tanpa komplikasi untuk 72 jam atau lebih, dan selama waktu itu penatalaksanaan terbatas pada analgetik dan simtomatis lain. Pemberian antibiotik dimulai jika pada hari ketiga, gejala menetap atau bertambah.

Faktor-faktor kunci dalam menerapkan strategi observasi adalah metoda untuk mengklasifikasi derajat OMA, pendidikan orang tua, penatalaksanaan gejala OMA, akses ke sarana kesehatan, dan penggunaan regimen antibiotik yang efektif jika diperlukan. Jika diperhatikan, observasi merupakan alternatif yang dapat diterima untuk anak dengan OMA tidak berat.

Menurut dr. Jacky Munilson dan kawan-kawan dalam publikasinya, metoda observasi masih kontroversi di kalangan dokter anak di Amerika Serikat. Dokter anak di Negara Paman Sam  masih secara rutin meresepkan antibiotik untuk OMA dan percaya, banyak orang tua mengharapkan resep tersebut. Hanya, sebagian kecil dokter yang menerapkan metode observasi. Sebagian orang tua dapat menerima terapi observasi dengan pengontrolan nyeri sebagai terapi OMA, sehingga penggunaan antibiotik dapat diturunkan.

Penggunaan metoda observasi secara rutin untuk terapi OMA, dapat menurunkan biaya dan efek samping, dan menurunkan resistensi kuman terhadap antibiotik yang umum digunakan.

BACA JUGA FAKTOR PENYEBAB OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.