Modalitas Terapi LBP 2 | ethicaldigest

Modalitas Terapi LBP 2

Asetaminofen merupakan obat bebas yang efektif untuk nyeri punggung bawah, dengan efek samping yang paling sedikit. Tidak seperti aspirin atau OAINS, asetaminofen tidak memiliki efek anti inflamasi. Obat ini mengurangi nyeri, dengan bekerja secara sentral di otak untuk mematikan persepsi rasa nyeri. Dosis 1000 mg asetaminofen dapat dikonsumsi setiap 4 jam, dengan dosis maksimal 4000 mg/ hari.

Selain efektivitasnya yang baik, asetaminofen sering dianjurkan karena efek sampingnya minimal. Pasien tidak mengalami efek toleransi terhadap obat (hilangnya efek anti nyeri), pada penggunaan jangka panjang tidak menimbulkan gangguan gastrointestinal, dan hanya sedikit pasien yang alergi terhadap obat ini. Hal yang perlu diperhatikan, asetaminofen dimetabolisme oleh hepar, sehingga pasien dengan gangguan fungsi hati harus memeriksakan diri lebih dulu ke dokter. Pasien tidak boleh mengonsumsi lebih dari 1000 mg /4 jam (dosis maksimal yang dianjurkan). Dosis lebih tinggi tidak memberi efek anti nyeri tambahan dan malah memperberat risiko kerusakan hepar.

Obat anti inflamasi non steroid (OAINS). Sebagian besar serangan nyeri punggung bawah melibatkan komponen inflamasi, obat-obatan anti inflamasi sering menjadi pilihan terapi yang efektif. OAINS bekerja seperti aspirin, dengan menghambat terjadinya proses inflamasi, namun memiliki efek samping gastrointestinal lebih sedikit dibanding aspirin. OAINS melingkupi golongan obat yang luas, dengan banyak pilihan. Ibuprofen merupakan salah satu obat OAINS yang pertama ditemukan dan sekarang dijual bebas. Dosis yang dianjurkan 400 mg setiap 8 jam. Jenis OAINS lainnya adalah naproksen.

Penggunaan OAINS lebih baik terus menerus, agar terbentuk konsentrasi obat anti inflamasi  dalam darah. Efektivitas OAINS berkurang bila hanya digunakan setiap merasa nyeri. OAINS dan asetaminofen bekerja dengan mekanisme berbeda, maka kedua obat ini dapat digunakan secara bersamaan. OAINS dimetabolisme dari aliran darah oleh ginjal. Pasien di atas usia 65 tahun yang mengidap kelainan ginjal penting untuk konsultasi ke dokter, sebelum mulai menggunakan obat-obatan ini.

Bila pasien mengonsumsi OAINS jangka waktu lama (6 bulan atau lebih), perlu dilakukan pemeriksaan darah rutin untuk mendeteksi tanda-tanda awal kerusakan ginjal. OAINS juga dapat menimbulkan gangguan lambung, sehingga pasien dengan riwayat ulkus lambung perlu konsultasi  dulu dengan dokter.

Kelas baru OAINS, yaitu penyekat COX-2. Perbedaan utama kelompok obat ini dengan obat-obatan OAINS sebelumnya, adalah penyekat COX-2 menghambat secara selektif reaksi kimiawi yang berujung pada inflamasi. Di lain pihak tidak menghambat produksi kimiawi lapisan pelindung lambung. Karea efek samping utama OAINS adalah pembentukan ulkus lambung, obat-obatan ini memiliki angka komplikasi lebih rendah dan cenderung tidak menghasilkan ulkus.

Obat anti nyeri narkotika. Untuk serangan nyeri punggung bawah yang berat, obat anti nyeri narkotika dapat diresepkan. Jelas, golongan narkotik lebih kuat dan memiliki potensi adiksi yang tinggi, sehingga hanya boleh diberikan oleh dokter. Semua obat narkotika memiliki efek disosiatif, yang membantu pasien mengatasi nyeri. Jadi, obat-obat ini tidak mengurangi sensasi nyeri secara langsung, melainkan mengalihkan perhatian pasien dari rasa nyeri. Narkotika yang umum digunakan adalah: kodein, propoksifen, hidrokodon dan oksikodon.

Secara umum, obat-obatan narkotika efektif mengatasi nyeri punggung bawah, untuk periode waktu yang singkat (kurang dari dua minggu). Setelah dua minggu pertama, tubuh secara cepat membangun toleransi alami terhadapi obat-obatan narkotika, sehingga efektivitas obat-obatan tersebut berkurang. Sebagian dokter percaya bahwa narkotika dapat digunakan dalam jangka waktu lama dalam dosis kecil, untuk mengatasi nyeri punggung bawah kronis. Namun, obat-obatan narkotika umumnya digunakan untuk mengatasi nyeri punggung bawah akut yang berat (jangka pendek) atau nyeri pasca operasi.

Obat-obatan narkotika memiliki efek samping berupa: gangguan fungsi mental dan rasa kantuk. Itu sebabnya pasien dalam pengobatan narkotika sebaiknya tidak mengoperasikan peralatan berat. Dapat menyebabkan konstipasi, sehibnggapasien yang menggunakan obat-obatan narkotika perlu mengonsumsi serat lebih banyak dalam diet mereka, dan mungkin perlu pemberian laksatif.

Adiksi terhadap narkotika mungkin terjadi, meski pun jarang. Interaksi obat dengan asetaminofen. Sebagian besar obat narkotika mengandung asetaminofen dan sebaiknya tidak digunakan bersamaan dengan sediaan asetaminofen. Pasien tidak boleh mengonsumsi lebih dari dosis yang dianjurkan, karena dapat berakibat kadar asetaminofen dalam darah meningkat ke tingkat yang membahayakan.

Relaksan otot. Relaksan otot sebenarnya bukan kelompok obat tersendiri, melainkan sekelompok obat-obatan yang memiliki efek sedative terhadap tubuh. Obat ini tidak bekerja secara langsung di otot, melainkan bekerja secara sentral di otak. Biasanya, relaksan otot diresepkan lebih dini dalam perjalanan penyakit nyeri punggung bawah, dan dalam jangka waktu yang singkat dengan tujuan mengurangi nyeri punggung bawah akibat spasme otot.

Steroid oral. Steroid oral merupakan obat non-narkotik yang yang bersifat anti inflamasi, sangat kuat dan efektif untuk nyeri punggung bawah. Seperti jenis narkotik, steroid oral digunakan untuk jangka waktu yang singkat (1-2 minggu). Efek samping obat ini antara lain kenaikan berat badan, radang perut, dan osteoporosis. Steroid tidak boleh diberikan kepada pasien dengan infeksi aktif (misalnya infeksi sinus, infeksi saluran kemih), karena dapat membuat infeksi lebih parah.

Modalitas Terapi LBP 1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.