Mengenali Kor Pulmonale
jantung_paru_kor_pulmomale

Mengenali Kor Pulmonale

Gejala kor pulmonale tidak spesifik, antaranya adalah edema perifer, nyeri dada, sesak nafas saat aktivitas, sianosis perifer yang dipicu aktifitas dan rasa kantuk berlebihan di siang hari. Gejala lain yang biasa menyertai adalah batuk, mengi, hipertesi sistemik ringan, nyeri kepala dan nyeri abdomen.

Pada pemeriksaan fisis didapatkan tanda-tranda hipertensi pulmoner, yaitu komponen pulmonal S2 mengeras dan right ventricular lift di region parasternalis kiri. Jika tekanan arteri pulmonal cukup tinggi, bisa terjadi regurgitasi katup pulmoner (terdengar sebagai murmur diastolik pelan bersifat blowing dan decrescendo), dan katup triscuid (terdengar sebagai murmur pansistolik keras). Kadang terdengar juga murmur ejeksi sitolik karena turbulensi, saat darah dipompa ventrikel ke arteri pulmoner yang mengalami dilatasi. Bila telah terjadi gagal jantung kanan, timbul distensi vena jugularis, hepatomegali dan edema perifer.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan darah

Hipertensi pulmoner dihubungkan dengan hipoksemia dan hiperkapnia pada pasien PPOK, dengan kecenderungan untuk terjadinya HP jika PaO2 <60 mmHg dan PaCO2 >40mmHg. Peningkatan nilai hematokrit, juga dapat berperan untuk terjadinya HP.

Radiologi

Gambaran radiologi pasien hipertensi pulmoner bervariasi, sesuai dengan penyebabnya. Hiperinflasi mungkin menandakan emfisema atau penyakit paru obtruktif lainnya. Arteri pulmoner utama tampak mengalami dilatasi, disertai pembesaran artrei pulmoner deseden kanan. Pelebaran arteri pulmoner diseden kanan >16mm, memiliki akurasi 92% untuk prediksi HP pada PPOK. Pelebaran arteri deseden kiri >18 mm juga berhubungan dengan HP, sedangkan diameter arteri pulmoner utama >29mm memiliki sensitifitas dan spesifitas 87% dan 89%. Ukuran jantung bisa normal atau membesar. Pembesaran ventrikel kanan sulit terlihat pada foto toraks rutin, terlebih pada paru dengan emfisema. Pada foto lateral rongga retrosternal tampak terisi oleh ventrikel kanan yang membesar.

Elektrokardiogram

Penggunaan EKG untuk evaluasi kor pulmonale sangat spesifik, tapi kurang sensitive. Beberapa gambaran EKG yang berhubungan dengan kor pulmonale adalah:

  • Deviasi aksis kompleks QRS ke kanan.
  • Gelombang P tinggi di sadapan II, menandakan pembesara atrium dan perubahan posisi atrium.
  • Aksis gelombang P+90 derajad atau lebih menggambarkan overload atrium kanan dan hiperinflasi paru.
  • Pola gelombang s1-3 walaupun tidak spesifik, namun menandakan perubahan arah vector ventrikel kanan, yang lebih ke kanan da superior.
  • Pola gelombang S1Q3 lebih sering dijumpai pada kor pulmonale akut, namun kadang tampak pada kor pulmonale kronik.
  • Right bundle branch block  (RBBB) berhubungan kuat dengan kor pulmonale. Namun dapat terjadi karena proses penuaan individu normal.
  • Hipertrofi ventrikel kanan, ditandai gelombang R dominan di V-12 dan rS di V5-6 (tipe A), pola Rs di V1 dengan amplitude gelombang R yang tidak turun dari V1 ke V6 (tipe B), serta gelombang R kecil dan gelombang S dalam, yang muncul persisten di sadapan prekordial (tipe C).
  • Kompleks QRS low voltage umum, dijumpai pada kor pulmonale karena PPOK.
  • Depresi segmen ST di sadapan II. III, aVF menggambarkan iskemia segmen inferior ventrikel kiri.

Ekokardiografi

Anatomi ventrikel kanan yang kompleks dan posisinya yang tepat dibawah sternum, menyulitkan evaluasi dengan ekokardiografi. Masalah tersebut diperberat oleh hiperinflasi paru pada PPOK, sehingga sulit mendapatkan gambaran yang baik. Ekokardiografi dua dimensi dapat memperlihatkan dimensi ruang-ruang jatung secara multiple. Sehingga berguna untuk menilai hipertrofi ventrikel kanan dan pergerakan septum ke arah ventrikel kiri. Volume ventrikel kanan  dapat diperkirakan lebih baik, dengan ekokardiografi tiga dimensia. Tapi, cara ini rumit dan alatnya tidak tersedia secara luas. Ekokardiografi M-mode memberikan gambaran yang terbatas dalam eval;uasi ventrikel kanan. Tapi, dapat memperlihatkan pergerakan katup pulmoner abnormal pada hipertensi pulmoner.

Ventrikulografi radionuklir dan skintigrafi miokardium

Ventrikulografi menggunakan material biologis seperti sel darah merah atau albumin serum, yang telah dilabel dengan Technesium-99m untuk mengevaluasi gambar bentuk dan volum ventrikel kanan serta arteri pulmoner. Kamera gamma mengukur kurva aktivitas radioaktif berdasarkan waktu. Karena kurva ini proporsional terhadap volume, dapat dihitung fraksi ejeksi ventrikel kanan (right ventrikel ejection fraction/RVEF), yang menggambarkan fungsi kontraksi ventrikel kanan. Skintigrafi juga menggunakan materi radioaktif, umumnya thalium atau technetium, untuk melihat gambaran miokard pasien dan memperkirakan overload ventrikel kanan dengan sensitifitas sekitar 73%. Namun metode ini bersifat kualitatif dan jarang digunakan, untuk evaluasi fungsi ventrikel kanan.

Magnetic resonance imaging

Sampai saat ini MRI merupakan modalitas terbaik, untuk menilai dimensi ventrikel kanan. Sebagian besar penelitian terbaru menggunakan MRI sebagai baku emas (gold standard). Teknik ini juga tidak invasive dan tidak memberi beban radioaktif kepada pasien. Kekurangannya adalah mahal dan tidak tersedia secara luas. Dengan MRI dapat dihitung indeks hipertrofi ventikel kanan, didapat dari membagi ketebalan dinding bebas ventrikel kanan dengan ketebalan dinding posterior ventrikel kiri. Indeks ini berhubungan baik dengan rerata tekanan arteri pulmoner (r=0,89), sehingga dapat dipakai untuk mendeteksi hipertensi pulmoner.

Kateterisasi jantung kanan

Kateterisasi jantung kanan adalah baku emas untuk evaluasi fungsi jantung kanan dan diagnosis hipertensi pulmoner. Pemeriksaan ini berperan penting untuk membedakan kor pulmonale dari disfungsi ventrikel kiri, jika tampilan klinis meragukan. Melalui kataterisasi dapat dihitung secara langsung tekanan arteri pulmoner, tekanan baji arteri pulmoner dan curah jantung. Kateterisasi jantung merupakan prosedur invasive.

Kateter multichannel dimasukkan melali vena jugularis, femoralis atau cubital. Pada kor pulminale tekanan diastolic arteri pulmoner lebih tinggi daripada tekanan baji, berbeda dengan gagal jantung kiri dan stenosis mitral. Tekanan arteri pulmoner dapat sangat tinggi, pada penyakit vaskuler paru dan penyakit interstitial paru. Namun hanya sedikit yang meningkat atau bahkan normal pada PPOK. Sekitar 50% pasien PPOK menderita hipertensi pulmoner saat istirahat. Pada pasien dengan nilai normal saat istirahat, hipertensi pulmoner dapat terjadi saat aktivitas atau olah raga.

_________________________________

Ilustrasi: Designed by Freepik

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.