Mencegah Kematian Penderita STEMI3 | ethicaldigest

Mencegah Kematian Penderita STEMI3

Aspirasi trombus

Berbagai studi membuktikan bahwa tindakan primary PCI pada infark miokard akut dengan elevasi segmen ST, lebih baik dibanding terapi trombolitik dalam merestorasi aliran darah pembuluh koroner epikardial. Tindakan primary PCI konvensional, umumnya diawali predilatasi dengan balloon, dilanjutkan pemasangan stent.

Meski demikian, menurut dr. Fauzi Yahya, Sp.JP dari FK Universitas Padjajaran, Bandung, studi-studi menunjukkan keberhasilan restorasi aliran koroner paska tindakan PCI primer konvensional tersebut, tidak selalu disertai restorasi perfusi jaringan miokard. Ada sekitar 20-40% pasien yang mengalami abnormalitas perfusi miokardial, paska tindakan PCI primer konvensional. Parameter untuk menilai perfusi jaringan miokard yang biasa digunakan, adalah myocardial blush grade (MBG) dan resolusi segmen ST pada EKG. Perfusi miokardial sub optimal ini bertanggung jawab terhadap peningkatan ukuran infark, dan penurunan harapan hidup.

“Penyebab gangguan reperfusi miokardiaol adalah emboli distal arteri oleh material thrombus, mau pun material aterosklerosis,” kata dr. Fauzi. Penyebab lainnya adalah peningkatan resistensi mikrosirkulasi karena obstruksi netrofil atau konstriksi arteriol, edema miokard, jejas reperfusi, inflamasi, disrupsi mikrovaskular dan hiperglikemia.

Berbagai upaya telah dikembangkan, untuk memperbaiki perfusi miokard, dengan obat-obatan, perbaikan teknik, atau dengan penggunaan alat-alat tambahan. Studi-studi terkini membuktikan bahwa kateter aspirasi thrombus, adalah alat tambahan paling menjanjikan, dibanding alat trombektomi mau pun proteksi distal. Selain murah, juga mudah digunakan dan efektif.

Dengan menggunakan alat ini, material thrombus dapat terambil pada 73-89% pasien. Penelitian TAPAS menyebutkan, aspirasi thrombus dapat diterapkan pada sebagian besar pasien STEMI dan dapat memberi manfaat reperfusi, serta outcome klinis yang lebih baik, di banding cara konvensional biasa tanpa memandang apa pun karakter klinis dan angiografi pada saat awal.

Penggunaan kateter aspirasi, terkait dengan penurunan angka mortalitas jangka pendek dan jangka panjang pasien primary PCI. Berhubung masih terbatasnya penggunaan kateter aspirasi thrombus, diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk mengukuhkan hasil temuan positif ini pada praktik klinis sehari-hari.

Terapi penunjang fibrinolitik

Aspirin dan klopidogreal dianjurkan pada semua pasien yang menjalani terapi fibrinolitik. Ada perbedaan antara obat fibrin-specific (alteplase, reteplase atau tenectelpase) dan streptokinase terkait terapi antitrombin penunjang. Enoxaparin direkomendasikan pada penggunaan obat fibrin specific berdasarkan penelitian ExTRACT-TIMI 25 atau Heparin jika tidak tersedia enoxaparin, dengan dosis berdasarkan penelitian ASSENT 3.

Fondafarinux, enoxaparin dan heparin, direkomendasikan pada pengguna streptokinase. Tapi, fondafarinux lebih sedikit dianjurkan berdasarkan penelitian OASIS-6, dimana fondafarinux lebih superior dibandingkan plasebo atau heparin dalam mencegah kematian dan reinfark, pada pasien yang mendapat terapi fibrinolitik.

Pengelolaan NSTEMI

Tujuan pengelolaan NSTEMI, adalah memperbaiki iskemia miokard dalam waktu cepat dan mencegah terjadinya severe adverse event (seperti kematian atau reinfark). Pengelolaan NSTEMI meliputi pemberian obat anti iskemik dan antitrombotik. Penggunaan prosedur invasive (seperti angiografi, dan PCI) adalah opsional, tergantung status medis pasien. Strategi konservatif umumnya dianjurkan untuk pasien berisiko rendah. Sedangkan strategi invasive, dianjurkan pada pasien berisiko tinggi.

Terapi antikoagulan pada NSTEMI

ESC dan ACC/AHA baru-baru ini mengeluarkan guideline tatalaksana NSTEMI. Dalam kedua guideline, penggunaan obat antikoagulan (UFH, enoxaparine, Bivalirudin, atau fondafarinux) masuk dalam rekomendasi kelas I. Karena kejadian perdarahan bergantung terhadap prognosis, fokus utama strategi antikoagulan baru adalah mengurangi komplikasi perdarahan mayor, yang disebabkan penggunaan antikoagulan, disamping mempertahankan efikasi tinggi.

Pada pasien NSTEMI, fondafarinux menunjukkan efikasi jangka pendek yang sama, dibandingkan enoxaparin. Tapi, menurunkan risiko perdarahan mayor dan mortalitas dalam 30 hari. Sehingga, dalam konteks strategi invasive dini atau strategi konservatif, fondafarinux dimasukkan dalam rekomendasi kelas dalam kedua guideline tersebut, khususnya pada pasien dengan risiko perdarahan.

Fondafarinux lebih disukai daripada enoxaparine (kelas IA vs. kelas IIa-b) pada guideline ESC, tanpa melihat strategi awal. Pada guideline ACC/AHA, fondafarinux dipertimbangkan sebagai obat pilihan pada strategi konservatif. Pada pasien yang mendapat fondafarinux, yang akan menjalani prosedur invasive, direkomendasikan untuk menambah UFH.

BACA TERAPI PENUNJANG PADA PCI

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.