Manajemen Luka Diabetes1 | ethicaldigest

Manajemen Luka Diabetes1

Dalam beberapa tahun terakhir, prevalensi penderita diabetes di dunia mengalami peningkatan. Di Amerika Serikat, diperkirakan prevalensinya mencapai 24 juta jiwa. Di seluruh belahan dunia, angkanya diperkirakan mencapai 189 juta jiwa. Angka tersebut akan terus meningkat dan diperkirakan pada tahun 2025 mencapai 324 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, 60-70% akan berkembang menjadi neuropati perifer. Dan sekitar 25% akan mengalami ulkus pada tungkai.

Menurut dr. Raflis Rustam, SpBV, dari Departemen Bedah Vaskuler FK Universitas Andalas/RS M. Jamil, Padang, “Diabetes menyumbang setidaknya 80% dari sekitar 120.000 kasus amputasi nontraumatik di Amerika.” Diperkirakan, setiap 30 detik seseorang dengan diabetes akan kehilangan tungkainya atau sebagaian dari tungkai. Sebanyak 50% dari yang mengalami amputasi major, akan mengalami amputasi lanjutan dalam 2 tahun berikutnya.

Umumnya, jika sudah terjadi kerusakan pada saraf, penderita tidak mampu merasakan lagi kondisinya, karena sudah terjadi kerusakan sensorik pada tungkai. Faktor-faktor ini menyebabkan tekanan yang tidak normal pada kulit, tulang dan sendi di kaki selama penderita berjalan. Hal ini dapat mengakibatkan pemburukan pada kaki atau luka. “Sekarang pengobatan untuk penyakit diabetes sudah mengalami perkembangan yang cukup baik. Yang perlu kita tekankan adalah, bagaimana supaya jangan sampai terjadi komplikasi yang berat pada pasien,” jelasnya.

Sebaiknya, skrining dilakukan pada penderita diabetes, dengan tujuan mengetahui ada tidaknya kelainan pada tungkai. “Semakin cepat dokter melakukan skrining awal, akan mengurangi angka komplikasi dan kemungkinan terjadinya amputasi major pada pasien,” katanya.

Faktor predisposisi utama terjadinya infeksi tungkai, adalah adanya ulserasi pada kaki, yang biasanya berkaitan dengan neuropati perifer. Faktor lain yang berperan adalah penyakit pembuluh darah perifer dan gangguan imunologis. “Gangguan sirkulasi darah merupakan hal utama, menyebabkan luka menjadi sulit sembuh,” jelasnya.

Gangguan pada sirkulasi darah, dapat menghambat suplay oksigen dan nutrisi ke tempat terjadinya luka, yang akhirnya menyebabkan gangguan penyembuhan luka. Neuropati menyebabkan mati rasa di kaki, kemudian membentuk kalus di bawah kaki. Pada kebanyakan kasus, tekanan yang diterima telapak kaki menyebabkan pembentukan blister darah di bawah kalus. Kemudian, blister darah melunakkan kalus dari bagian dalam. Kalus kemudian menjadi luka terbuka.

Di sisi lain, sistem kekebalan penderita diabetes tidak bekerja efisien, ketika kadar gula dalam darah tinggi. Terjadi gangguan fungsi bakterisidal dari neutrofil dan fungsi fagositik PMN, penurunan degranulasi neutrofil yang diinduksi peradangan dan pemburukan respon prokoagulan. Gangguan sistim imun juga menyebabkan air masuk ke beberapa jaringan dan keluar dari jaringan lain secara tidak normal. Jika keseimbangan cairan terganggu, sel tidak dapat berfungsi sempurna untuk menyembuhkan luka.

Infeksi merupakan hal umum yang terjadi pada luka, terutama pada penderita diabetes yang tidak terkontrol dengan baik. Infeksi menyebabkan proses penyembuhan luka terganggu, terlebih pada penderita diabetes sistim kekebalannya mengalami gangguan. Infeksi harus mendapat perhatian dan pengobatan yang baik, agar luka dapat sembuh.

Dari segi etiologi, patogen utama yang ditemukan pada infeksi kaki diabetes adalah kuman aerobik kokus Gram positif (khususnya Staphylococcus aureus).

Tidak semua ulkus pada tungkai mengalami infeksi. Diagnosis infeksi ditegakkan secara klinis, dengan adanya sekresi purulen (pus) atau sedikitnya dua tanda utama inflamasi (kemerahan, hangat, bengkak atau indurasi dan nyeri). Untuk menentukan managemen infeksi secara tepat pada kaki diabetik, perlu evaluasi dan penentuan beratnya infeksi yang terjadi, baik secara lokal pada tungkai mau pun efeknya terhadap pasien secara sistemik.

Menentukan beratnya infeksi

International Consensus on the Diabetic Foot mengklasifikasi kaki diabetik berdasarkan PEDIS. Yaitu perfusi, ekstensi/ukuran, depth (kedalaman dan jumlah jaringan yang hilang), infeksi dan sensasi. Derajat 1 tidak terdapat infeksi, derajat 2 adanya keterlibatan kulit dan subkutan, derajat 3 terjadi selulitis luas atau infeksi yang lebih dalam, derajat 4 adanya sindrom respon inflamasi sistemik.

Untuk luka terinfeksi, langkah pertama yang penting adalah menentukan apakah pasien memerlukan perawatan segera di rumah sakit, pemberian terapi antibiotik spektrum luas secara parenteral, dan pemeriksaan diagnostik serta konsultasi ahli bedah dengan segera.

Pada kasus infeksi, sebaiknya kirimkan spesimen untuk kultur sebelum memulai terapi antibiotik empiris. Spesimen jaringan dapat diambil melalui biopsi, kuretase ulkus, atau aspirasi, bukan melalui swab luka. Pada luka yang dalam, dengan penumpukan pus di jaringan lunak, perlu dilakukan pemeriksaan radiologis, guna melihat ada tidaknya kelainan patologis pada tulang.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.