Intervensi Koroner Perkutan Primer3 | ethicaldigest

Intervensi Koroner Perkutan Primer3

Pada akhir tahun 1970, Andreas Gruentzig dan Peter Retrop melaporkan perkembangan yang revolusioner, dalam pengobatan jantung koroner. Tepatnya pada tahun 1997, Gruentzig, dokter muda di Zurich, melakukan angioplasty (PTCA = percutaneous transluminal coronary angioplasty) untuk pertama kalinya, dengan hasil sangat baik pada pasien angina pectoris karena penyempitan di pembuluh left anterior descending. Ia memasukkan kateter kecil secara perkutran sampai ke pembuluh koroner, dan sebuah balon kecil pada ujung kateter yang dikembangkan untuk melebarkan pembuluh koroner yang menyempit sehingga aliran darah menjadi normal kembali.

Rentrop pada tahun 1979 memperkenalkan terapi trombolitik, yang diberikan langsung ke pembuluh koroner pada pasien infark akut. Pada tahun 1983, diperlihatkan dalam penelitian berskala kecil mengenai manfaaat pemberian streptokinase, yang diberikan secara intrakoroner. Selanjutnya diikuti dengan penelitian skala besar, yang dilakukan secara acak dalam hal ini responded diberikan fibrinolitik IV. Ternyata hasil penelitian ini menunjukkan dapat menghilangkan thrombus, mencegah infark, mengurangi kerusakan miokard dan mengurangi mortalitas pasien.

Prosedur

Balon dikembangkan pada arteri yang tertutup plak, sehingga plak dapat ditekan oleh balon ke diinding arteri sampai plak menjadi hancur. Prosedur lain yang dilakukan dengan PCI: implantasi stent, rotational atau laser aterektomi dan Brachytherapy.

Teknik

Akses dimulai dari arteri femoralis pada kaki (atau yang lebih jarang menggunakan arteri radialis atau arteri brachialis pada lengan), menggunakan suatu alat yang disebut jarum pembuka. Prosedur ini dinamakan akses perkutan.

Sekali jarum sudah masuk, "sheath introducer" diletakkan pada jalan pembuka untuk mempertahankan arteri tetap terbuka dan mengontrol perdarahan. Melalui sheath introducer ini, "guiding catheter" dimasukkan. Ujung “guiding catheter” ditempatkan pada ujung arteri koroner. Dengan "guiding catheter", penanda radiopak diinjeksikan ke arteri koroner, hingga kondisi dan lokasi kelainan dapat diketahui.

Selama visualisasi X ray, ahli jantung memperkirakan ukuran arteri koroner dan memilih ukuran balon kateter serta guide wire koroner yang sesuai. “Guiding wire koroner” adalah sebuah selang yang sangat tipis dengan ujung radio opak yang fleksibel, yang kemudian dimasukkan melalui “guiding cathether” mencapai arteri koroner. Dengan visualisasi langsung, ahli jantung memandu kabel mencapai tempat terjadinya blokade . Ujung kabel kemudian dilewatkan menembus blokade.

Setelah kabel berhasil melewati stenosis, balon kateter dilekatkan di belakang kabel. Angioplasti kateter kemudian didorong ke depan, sampai balon berada di dalam blockade. Kemudian, balon balon dikembangkan dan akan mengkompresi atheromatous plak dan menekan arteri sampai mengembang. Jika stent ada pada balon, stent diimplantkan (ditinggalkan pada tubuh) untuk mendukung arteri dari dalam agar tetap mengembang.

Risiko

Pasien biasanya dapat pulih kesadarannya selama prosedur dilakukan, dan timbul nyeri dada. Jika hal ini terjadi menandakan bahwa prosedur telah menyebabkan iskemia dan ahli jantung sebaiknya menunda prosedur.

Perdarahan pada tempat insersi pada selangkangan seringkali muncul dan hal ini juga bisa disebabkan oleh pemakaian obat anti platelet. Bahkan pada beberapa kasus, hal ini dapat menyebabkan terjadinya hematom. Reaksi alergi terhadap kontras juga mungkin terjadi.

Penurunan fungsi ginjal dapat terjadi, pada pasien yang memang mempunyai riwayat penyakit ginjal. Resiko paling parah yang mungkin terjadi adalah kematian, stroke , infark miokard, dan diseksi aorta. Risiko kematian meningkat pada pasien yang memang memiliki resiko tinggi, seperti pada: pasien usia di atas 75 tahun, pasien dengan riwayat penyakit ginjal dan diabetes, wanita, pasien dengan penurunan fungsi pompa jantung, dan pasien dengan penyakit jantung parah dan blockade.

BACA INTERVENSI KORONER PERKUTAN PRIMER2

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.