Intervensi Koroner Perkutan Primer1 | ethicaldigest

Intervensi Koroner Perkutan Primer1

Dari seluruh pasien yang mengalami infark miokard di Amerika Serikat, 25-35% meninggal sebelum mendapat perawatan; sebagain besar karena fibrilasi vantrikel. Pada kelompok yang mendapat perawatan, angka kematian turun dari 11,2% di tahun 1990 menjadi 9,4% di tahun 1999. Hal tersebut karena adanya tindakan reperfusi pada infark dengan ST elevasi, baik dengan fibrinolitik mau pun Intervensi Koroner Perkutan Primer (IKPP).

IKPP merupakan suatu teknik yang dilakukan untuk menghilangkan thrombus, dan melebarkan pembuluh darah koroner yang menyempit dengan menggunakan kateter balon, dikuti dengan pemasangan stent. Tujuannya adalah untuk  menghilangkan sumbatan dengan segera, sehingga aliran darah dapat normal kembali, sementara kerusakan otot jantung dapat dihindari. Menurut dr. Doni Firman, SpJP(K), dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vascular FKUI dan Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta, “IKPP bisa dikatakan merupakan pengobatan infark miokard terbaik saat ini, karena dapat menghentikan serangan dan menurunkan mortalitas sampai di bawah 2%.”

Patofisiologi Infark Miokard

Pada infark miokard dengan ST elevasi, terjadi oklusi di arteri koroner yang mendadak akibat thrombus. Akibatnya, daerah miokard yang didarahi oleh pembuluh tadi akan mengalami iskemia, sehingga menimbulkan nyeri dada dan perubahan EKG. Nekrosis kemudian terjadi, mulai di daerah endokardial sampai ke permukaan epikardial. Menurut dr. Doni, jika proses ini berlangsung terus akan menimbulkan infark transmural.

Percobaan pada binatang menunjukkan ada hubungan yang kuat antara lamanya oklusi dengan luasnya nekrosis. Kematian sel dimulai setelah 20 menit oklusi dan mencapai puncaknya setelah 6 jam. Proses ini dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti ada atau tidaknya reperfusi intermiten, kolateral dan iskemia prekondisioning. Mortalitas dan morbiditas bergantung pada luasnya daerah infark, sehingga semakin cepat pemulihan aliran darah arteri koroner, diharapkan akan memperbaiki fungsi ventrikel kiri dan harapan hidup penderita.

Menurut dr. Doni, pada 15% pasien infark miokard dengan ST elevasi yang dilakukan angiografi, menunjukkan anatomi yang paten; diduga karena adanya fibrinolisis spontan. Prognosis pasien ini biasanya lebih baik, dari pada kelompok yang terganggu aliran darah koronernya.

Hal lain yang harus diperhatikan saat reperfusi, adalah cidera miokard (myocardial injury). Cidera miokardial terkadang menyebabkan kematian sel miokard, sehingga meski pun reperfusi berhasil, luaran klinis pasien tetap tidak baik. Namun, beberapa zat yang bersifat kardioprotektif, terbukti dapat memberikan hasil yang baik dalam mencegah cidera reperfusi dalam percobaan binatang, namun belum terlihat pada percobaan klinis manusia.

Preconditioning dan postconditioning terbukti mencegah cidera reperfusi, baik pada percobaan hewan mau pun manusia. Meski belum begitu jelas mekanismenya, hal ini diduga berkaitan dengan jalur RISK (reperfusion injury salvage kinase) dan penghambat pembukaan PTP (permeability transition pore) di mitochondria.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.