Heartburn Mengganggu tidur | ethicaldigest

Heartburn Mengganggu tidur

Heartburn merupakan gejala yang banyak terjadi pada penderita GERD. Klinisi jarang meminta keterangan frekuensi, karakteristik dan konsekuensi heartburn pada malam hari. Padahal, ini dapat menurunkan kualitas hidup pasien. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa pasien yang secara efektif mengobati heartburn, secara spontan melaporkan kalau mereka dapat tidur lebih baik, selain dapat mengurangi rasa terbakar subinternal yang dialami. Dari laporan tersebut, para peneliti mencoba memfokuskan perhatian pada hubungan antara gastroesophageal reflux (GER) saat tidur, dengan fenomena gangguan dan komplikasi yang timbul.

Pada tahun-tahun terakhir, tidur sebagai masalah fisiologis kian dihiraukan peranannya dalam patogenesis penyakit. Namun, dengan evolusi laboratorium tidur dari  murni fasilitas riset yang hanya mendokumentasikan perubahan fisiologis dan psikologis  yang berhubungan dengan tidur, menjadi laboratorium klinis yang mendokumentasikan perubahan fisiologis penting pada individu yang mengeluhkan berbagai masalah tidur, dan  hubungan antara tidur dengan berbagai fenomena gastrointestinal.

Fokus terakhir mengenai keluhan gastrointestinal pada tidur adalah, hubungan antara GER dengan tidur dan berkembangnya esofageal dan komplikasi ekstraesofageal. Yang paling akhir yakni isu mengenai heartburn malam hari dan konsekuensinya pada tidur dan menurunnya kualitas hidup.

Gejala gastroesophageal reflux disease (GERD) yang paling banyak dialami adalah heartburn dan regurgitation, setidaknya sekali sehari. Kanyataan bahwa gejala heartburn  dapat diatasi dengan antasida, histamine-2 receptor antagonists (H2 blockers), dan yang lebih baru proton-pump inhibitors, telah menurunkan frekuensi dan pentingnya gejala heartburn malam hari. Sehingga, sampai saat ini, klinisi jarang meminta keterangan mengenai frekuensi, karakteristik dan konsekuensi heartburn di malam hari.

 

Faktor Prediktif Heartburn Saat Tidur

Hanya sedikit penelitian yang menilai faktor risiko GERD malam hari. Pada satu penelitian, kejadian refluks malam hari terjadi sebagian besar pada paruh pertama periode tidur. Konsekuensinya, peneliti berhipotesis bahwa makan malam atau makanan kecil sebelum tidur menyebabkan sebagian besar kejadian refluks asam malam hari. Penelitian lain menunjukkan, tidur pada posisi dekubitus lateral kanan dihubungkan dengan meningkatnya paparan asam esofageal dan klirens asam esofageal yang lebih lama, daripada orang yang tidur dekubitus lateral kiri, prone atau supine.

Dalam penelitian kohort prospektif multisenter, dievaluasi 15.699 individu dari 9 senter berbeda, berkenaan dengan kebiasana tidur dan gejala GERD malam hari. Tujuan penelitian adalah untuk menegakkan faktor medis, sosial dan demografik yang menjadi prediktor heartburn saat tidur. Penelitian ini juga berusaha melihat, apakah heartburn saat tidur berhubungan dengan berbagai keluhan yang disebabkan gangguan tidur.

Penelitian ini menggunakan the Sleep Heart Health Study database (SHHS), yang mengevaluasi hubungan antara gangguan nafas saat tidur dan penyakit kardiovaskuler di Amerika Serikat. Penelitian menggunakan Questionnaire (SHQ) dan kuisioner anthropometric, medis dan sosial. The SHQ adalah kuisioner yang terdiri dari 20 items mengenai kebiasaan tidur, mengorok, mengantuk, obstructive sleep apnea dan gejala umum yang berhubungan dengan tidur.

SHQ juga terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang telah digunakan sebelumnya dalam beberapa penelitian, seperti Wisconsin Sleep Cohort dan Tucson Epidemiologic Study of Obstructive Airways Disease. SHQ juga menyertakan Epworth Sleepiness Scale (ESS). SHQ juga terdiri dari pertanyaan-pertanyaan mengenai heartburn saat tidur.

Dari 15.699 subyek yang terlibat dalam penelitian, 24,9% melaporan heartburn saat tidur. Subyek yang mengalami heartburn saat tidur, umumnya berusia lebih muda dan memiliki rerata indeks massa tubuh lebih tinggi dibandingkan subyek yang tidak melaporkan. Hubungan positif terjadi dengan IMT. Subyek pria lebih kecil kemungkinannya mengalami heartburn daripada subyek wanita.

Subyek dengan latar belakang pendidikan perguruan tinggi, dihubungkan dengan risiko heartburn saat tidur yang lebih rendah. Kebiasaan-kebiasaan seperti merokok, hipertensi, stroke, asma dan minuman berkarbonasi juga memiliki hubungan positif dengan heartburn saat tidur. Heartburn saat tidur juga dihubungkan dengan penggunaan antidepressan, calcium-channel blockers dan obat-obatan benzodiazepine.

Analisa multivariat lebih jauh menunjukkan bahwa peningkatan IMT, konsumsi minuman berkarbonasi, mengorok dan tidur siang, insomnia, hipertensi, asma dan penggunaan benzodiazepines adalah faktor risiko untuk heartburn saat tidur.

 

Prevalensi dan Kualitas Hidup

Beberapa penelitian menfokuskan perhatian pada kualitas hidup dan gangguan tidur, sebagai konsekuensi heartburn malam hari. Umumnya, berbagai penelitian menjelaskan kata "malam hari" sebagai periode waktu di mana pasien mencoba tidur sampai bangun di pagi hari. Pada observasi pertama berkenaan dengan hubungan antara heartburn malam hari dan gangguan tidur, dilaporkan oleh Janson dan rekan-rekannya. Ditemukan hubungan signifikan antara kejadian heartburn malam hari, setidaknya sekali seminggu, dengan mengantuk dan lemas pada siang hari dan mengorok.

Gejala GER dihubungkan dengan mengantuk pada siang hari (odds ratio 2,6), lemas pada siang hari (odds ratio 4,5) dan gangguan pernafasan (odds ratio 3,8). Hubungan  mengorok dan GER, setidaknya 1 malam perminggu, menunjukkan odds ratio sebesar 2,75. Sebagai akibatnya, dalam penelitian epidemiologis yang dilakukan Farup dan rekan-rekannya, menjelaskan dampak malam hari heartburn pada kualitas hidup.

Dalam penelitian ini, heartburn malam hari dijelaskan sebagai gejala umum pada pasien dengan  heartburn yang kerap terjadi pada siang hari. Peneliti melaporkan, 74% pasien tersebut memiliki gejala heartburn malam hari. Juga diperlihatkan bahwa subyek yang melaporkan heartburn malam hari, secara signifikan mengalami gangguan kualitas hidup dibandingkan pasien yang hanya mengalami gejala pada siang hari. Subyek dengan heartburn malam hari melaporkan rasa nyeri yang lebih berat dibandingkan pasien dengan diabetes dan nyeri, serta pasien dengan angina dan gagal jantung kongestif.

Prevalensi heartburn malam hari yang mengejutkan ini juga ditunjukkan dalam penelitian yang dilakukan Shaker dan rekan. Penelitian ini berupa survey yang dilakukan American Gastroenterological Association melalui telepon pada 1000 orang dewasa, yang mengalami heartburn setidaknya sekali seminggu. Dari survey tersebut, 79% melaporkan mengalami heartburn malam hari. Sebanyak 75% melaporkan bahwa gejala telah menggangu tidur mereka, 63% percaya bahwa heartburn malam hari secara negatif mempengaruhi kemampuan pasien untuk tidur nyenyak.

Sebanyak 40% pasien dengan heartburn malam hari percaya, gejala nokturnal ini mengganggu kemampuan mereka untuk beraktifitas keesokan harinya. Yang menjadi perhatian adalah kenyataan bahwa prevalensi ganggun tidur pada responden meningkat, dengan meningkatnya frekuensi episode heartburn malam hari selama satu minggu.  Individu yang malam hari mengalami heartburn 3 kali seminggu, mengeluh sering terjaga dari tidur  (67%) dan terbangun (70%). Persentase mengejutkan adalah,16% individu mencoba berbagai obat tidur untuk mengatasi gangguan tidur akibat GER.

Pasien dengan heartburn malam hari, mencoba berbagai mekanisme pengobatan selain pil tidur, namun tidak berhasil. Sebagai contoh, 41% dari populasi pasien  mengindikasikan bahwa mereka menggunakan obat resep. Kurang dari setengahnya melaporkan, mereka puas dengan pendekatan pengobatan ini. Pasien lain mencoba meninggikan kepala saat tertidur, tetapi hanya 23% melaporkan kepuasan dengan pendekatan pengobatan ini.

 

Terapi Terapeutik dan Dampaknya pada Kualitas Hidup

Suatu penelitian epidemiologis berkenaan dengan gejala umum pasien GERD (N = 6215) menunjukkan, mereka mengalami penurunan kualitas hidup. Kulig dan rekan menemukan, kualitas hidup penderita mengalami penurunan dan kualitas hidup secara signfikan mengalami perbaikan pada pasien dengan GERD erosif dan non erosif, dan Barrett's esophagus setelah mendapat pengobatan esomeprazole selama 2 minggu. Baseline kualitas hidup pasien GERD, dapat dibandingkan dengan pasien yang mengalami penyakit jantung koroner.

Penelitian-penelitian lain secara formal mendokumentasikan adanya gangguan tidur pada pasien dengan malam hari GERD dan menunjukkan adanya respon terhadap pengobatan. Chand dan rekan-rekannya mempelajari 18 pasien dengan esofagitis erosif menggunakan skala rating GERD subyektif, Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan ambulatory wrist actigraphy (jam tangan yang memonitor pergerakan). Pasien dinilai pada 4 dan 8 minggu setelah pengobatan dengan esomeprazole 40 mg/hari. Pada kelompok pasien ini, baseline efisiensi tidur yang ditegakkan dengan wrist actigraphy adalah 87%. Ini mengindikasikan adanya gangguan tidur. Skore PSQI dan kuisioner gejala GERD secara signifikan membaik, pada minggu 4 dan 8 setelah pengobatan.

Hasil penelitian klinis acak oleh Johnson dan rekan-rekannya melibatkan pasien dengan heartburn malam hari dan gangguan tidur, telah dipublikasikan. Penelitian multisenter, acak, buta ganda dan plasebo-terkontrol ini melibatkan pasien dewasa dengan gangguan tidur akibat GERD dan heartburn malam hari moderat sampai berat, sebagaimana tercatat pada catatan harian pasien. Pasien menerima  esomeprazole 40 mg, 20 mg, atau placebo sekali sehari selama 4 minggu. Outcome variabel adalah berkurangnya heartburn malam hari, perubahan PSQI global score dan perubahan produktifitas kerja sebagaimana dinilai dengan Work Productivity and Activity Impairment questionnaire.  

Persentase pasien yang melaporkan berkurangnya gejala (tidak ada heartburn pada 6 dari 7 malam) dan resolusi sempurna (tidak ada heartburn selama 7 malam) lebih baik, dibanding pasien yang menggunakan plasebo. Tidak ada perbedaan signifikan antara pasien yang menggunakan 40-mg dan 20-mg esomeprazole. Sekitar 50% pasien yang diobati, mengalami penurunan gejala heartburn malam hari dibandingkan 13% yang menggunakan placebo. Sekitar 82% pasien yang diberi pengobatan, mengalami perbaikan gangguan tidur akibat GERD dibandingkan 55% yang menggunakan plasebo.

Data PSQI, yang menilai kualitas tidur secara umum, menunjukkan perbaikan signifikan pada kedua kelompok pengobatan. Didokumentasikan bahwa gangguan tidur akibat GERD telah menghilangkan 16 jam kerja. Dengan terapi, terjadi perbaikan jam kerja sampai sekitar 12 jam. Pada penelitian yang lebih kecil menggunakan polisomnografi untuk menjelaskan parameter tidur, rabeprazole (disetujui untuk digunakan pada GERD di siang hari dan malam hari) 20 mg perhari, terlihat memperbaiki kualitas tidur. Pantoprazole juga memiliki indikasi untuk heartburn malam hari. Namun,  tidak ada penelitian outcome pada pasien dengan heartburn malam hari dan gangguan tidur.

 

Obstructive Sleep Apnea

GER adalah gejala yang banyak terjadi pada pasien  Obstructive Sleep Apnea (OSA). Pasien dengan GER dan OSA terlihat memiliki kualitas hidup lebih buruk, dibandingkan pasien dengan OSA saja. Secara klinis, telah ditegakkan dengan baik bahwa OSA berhubungan dengan rasa kantuk siang hari, depresi dan iritabilitas – yang semuanya merupakan faktor yang dapat menurunkan kualitas hidup. GER memperburuk kualitas hidup pada populasi pasien yang memiliki gangguan tidur.

 

Baca juga: Manifestasi Atipikal pada GERD

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.