Diagnosis Arthritis Anak | ethicaldigest

Diagnosis Arthritis Anak

Penelitian Dr. Ravelli menegakkan predictor kerusakan sendi jangka panjang dan disabilitas pada anak-anak dengan JIA. Mereka mengobservasi 94 pasien dengan JIA dengan rerata durasi penyakit selama 1,1 tahun, dengan median 4,5 tahun. Progresi radiografik, ketika dinilai dengan skor Poznanski, sangat besar di tahun pertama, dan progresi saat tahun pertama hanyalah parameter baseline (meliputi data demografik, klinis dan laboratorium) yang bisa menjadi predictor 3 pemeriksaan outcome: progresi radiografik, kerusakan radiografik dan disabilitas fisik sebagaimana dinilai dengan CHAQ.

Jenis kelamin wanita tampak memberi perlindungan terhadap progresi radiografik. Hasil-hasil ini menunjukkan, pengobatan dini untuk menekan penyakit dengan harapan mencegah progresi dalam tahun pertama, dapat mencegah kerusakan dan disabilitas jangka panjang

Hasil kerja penting lainnya kelompok ini adalah, dikembangkannya Juvenile Arthritis Damage Index (JADI). Skor untuk kerusakan artikuler (JADI-A) digunakan berdasarkan adanya bukti klinis kerusakan sendi ireversibel, memberikan skor 1 atau 2 bergantung pada tingkat kerusakan. Skor tidak digunakan untuk sendi interphalangeal distal, sendi subtalar, sendi midtarsal atau sendi-sendi interphalangeal dari jari kaki. Skor maksimum total adalah 72. Skor JADI-A erat berhubungan dengan CHAQ, Skor Poznanski dan klasifikasi fungsional Steinbrocker.

Ada juga indeks kerusakan ekstraartikuler bernama JADI-E. Terdiri dari (i) kerusakan okuler, memiliki skor 0-3 per mata; (ii) kerusakan musculoskeletal tetapi bukan artikuler, meliputi atrofi otot, osteoporosis dengan fraktur atau kolaps vertebral, nekrosis avaskuler tulang, skoliosis vertebral karena perbedaan panjang kaki atau kontraktur pinggul, dan gangguan pertumbuhan terlokalisasi, semuanya memiliki skor 0-1; (iii) kerusakan kutaneous (striae, perubahan kulit atrofi pada lokasi penyuntikan), memiliki skor 0-1; (iv) kerusakan endokrin (keterlambatan pertumbuhan, keterlambatan masa pubertas, diabetes, semuanya mimiliki skor 0-1; (v) amiloidosis (0-1); dan (vi) malignansi (0-1). Skor maksimum adalah 18.

Dengan menggunakan JADI terhadap anak-anak antara 2002 dan 2005 dengan setidaknya 5 tahun follow up, Dr. Ravelli melaporkan 41% pasien mengalami kerusakan artikuler dan 32% mengalami kerusakan ekstra artikuler. Skor tertinggi untuk JADI-A terjadi pada pasien dengan JIA onset sistemik dan penyakit poliartikuler. Pasien dengan SoJIA dan PsA memiliki skor JADI-E yang hampir ekuivalen mendekati 1, sementara mereka dengan penyakit oligoartikuler persisten, oligoarticular-extended, dan poliartikuler memiliki skor medekati 0,5.

Terjadi peningkatan signifikan pada JADI-A berdasarkan durasi penyakit, sehingga mereka yang diamati lebih dari 10 tahun memiliki skor yang lebih tinggi daripada yang diamati selama 5 sampai 10 tahun. Bagaimana pun, durasi penyakit tidak menghasilkan skor JADI E yang lebih tinggi.

Gejala dan Tanda

Pasien dengan JIA dapat mengalami kekakuan sendi, pembengkakan, efusi, nyeri dan melembutnya sendi. JIA dapat menginterferensi pertumbuhan dan perkembangan anak. Micrognathia (pemunduran dagu) karena penutupan dini mandibular epiphyses dapat terjadi. Bisa terjadi iridocyclitis yang dapat menyebabkan conjunctival injection, nyeri dan fotofobia tetapi bisa bersifat asimtomatis.

Diagnosis

JIA harus dipertimbangkan pada anak-anak dengan gejala arthritis, tanda-tanda iridocyclitis, adenopati tergeneralisasi, splenomegaly, atau ruam atau demam dengan penyebab yang tidak diketahui, berlangsung selama beberapa hari. Diagnosis utamanya adalah klinis. Pasien yang diduga menderita JIA, harus diuji untuk factor rheumatoid, antibodi antinuklir dan ESR. Uji ini dapat membantu mendiagnosa JIA dan membedakan sub tipe penyakit ini.

Pada penyakit Still, tidak ditemukan adanya factor rheumatoid dan antibody antinuklir. Pada JIA onset oligoartritis, antibody antinuklir ditemukan pada 75% dan tidak ditemukan factor rheumatoid. Pada JIA onset poliartikuler, factor reuimatoid biasanya negative, tetapi pada beberapa orang, sebagian besar gadis remaja, factor reumatoid bisa positif. Untuk mendiagnosa iridocyclitis, harus dilakukan pemeriksaan slit-lamp, bahkan tanpa adanya gejala okuler.

Pasien yang terdiagnosa dengan onset oligoartritis, harus menjalani pemeriksaan mata setiap 3 - 4 bulan. Dan pasien dengan onset poliartikuler, harus menjalani pemeriksaan mata setiap 6 bulan.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.