Bell’s Palsy, 85% bisa sembuh | ethicaldigest

Bell’s Palsy, 85% bisa sembuh

Tujuan penatalaksanaan Bell’s palsy adalah mempercepat  penyembuhan,  mencegah  kelumpuhan parsial  menjadi  kelumpuhan  komplit,  meningkatkan angka  penyembuhan  komplit,  menurunkan  insiden sinkinesis  dan  kontraktur  serta mencegah kelainan pada mata.  Pengobatan  seharusnya  dilakukan   sesegera mungkin,  untuk  mencegah  pengaruh  psikologi  pasien terhadap  kelumpuhan  saraf  ini.  Disamping  itu,  kasus Bell’s palsy membutuhkan kontrol  rutin  dalam  jangka waktu lama.

Prognosis  pasien  Bell’s  palsy  umumnya  baik, terutama  pada  anak-anak. Penyembuhan  komplit dapat tercapai pada 85% kasus, penyembuhan dengan asimetri otot  wajah  yang  ringan  sekitar  10%  dan  5% penyembuhan dengan gejala sisa berat. Bell’s  palsy  biasanya  dapat  sembuh  tanpa deformitas.  Hanya  5%  yang  mengalami  deformitas.

Deformitas pada Bell’s palsy dapat berupa :

  1. Regenerasi motorik  inkomplit. Ini  merupakan  deformitas terbesar dari kelumpuhan saraf  fasialis.  Dapat  terjadi  akibat  penekanan  saraf motorik  yang  mensarafi  otot-otot  ekspresi  wajah. Regenerasi  saraf  yang  tidak  maksimal, dapat menyebabkan kelumpuhan semua atau beberapa otot wajah.  Manifestasi  dari  deformitas  ini  dapat  berupa inkompetensi oral,  epifora dan hidung tersumbat.
  2. Regenerasi sensorik inkomplit . Manifestasinya  dapat  berupa  disgeusia,  ageusia  atau disesthesia. 
  3. Regenerasi  Aberrant. Selama  regenerasi  dan  perbaikan  saraf  fasialis,  ada beberapa serabut saraf yang tidak menyambung pada jalurnya, tapi menyambung dengan serabut saraf yang ada  di dekatnya.  Regenerasi  Aberrant  dapat menyebabkan  terjadinya  gerakan  involunter,  yang mengikuti gerakan volunter (sinkinesis).

Terapi farmakologis

Saat ini, tidak ada obat yang disetujui FDA, untuk pengobatan bell’s palsy. Tapi dua pilihan pengobatan yang paling dianjurkan, adalah kortikosteroid dan antiviral. Perdebatan yang berlangsung saat ini adalah seputar penggunaan kortkosteroid saja versus kombinasi kortikosteroid dan antiviral.

Saat ini, bukti-bukti menunjukkan bahwa penggunaan kortikosteroid saja memiliki manfaat. Sementara penggunaan antiviral ,tidak lebih efektif dibanding plasebo. Tapi ketika antiviral dikombinasikan dengan kortilksteroid, lebih banyak pasien yang dapat rekoveri secara penuh dibanding hanya menggunakan kortikosteroi.

ARTIKEL TERKAIT BELLS’S PALSY, GEJALA DAN PENYEBAB

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.