Wanita dan Anak Rentan Kena Anemia | ethicaldigest

Wanita dan Anak Rentan Kena Anemia

Berdasar laporan Anemia Convention 2017, prevalensi anemia di Asia Tenggara dan Afrika mencapai 85%, dimana wanita dan anak-anak adalah penderita terbanyak. Terdapat 202 juta wanita di Asia Tenggara dan 100 juta wanita di Pasifik Barat usia 15-49 tahun, yang diperkirakan menderita anemia. Pada tataran global, 41,8% wanita hamil dan hampir 600 juta anak usia prasekolah dan sekolah menderita anemia; lebih dari setengahnya adalah anemia defisiensi besi.

“Anemia bukan sebatas masalah lemah, letih, lesu. Tapi berhubungan dengan masalah kecerdasan, ekonomi dan masa depan bangsa,” papar Prof. Dr. dr. Soedjatmiko Sp.A(K), M.Si, dalam acara Merck Pediatric Forum 2018, akhir Juli 2018.

Selain menyebabkan kelelahan dan penurunan performa kognitif, anemia berdampak pada pencapaian prestasi sekolah dan kemampuan kerja yang buruk. WHO 2001 mencatat, anemia defisiensi besi menyebabkan peningkatan risiko kematian akibat penyakit infeksi, dan kondisi kehamilan yang buruk (perdarahan, preeklamsia dan BBLR).

Anemia bisa disebabkan oleh satu atau lebih dari 3 hal. Seperti kehilangan darah, defisiensi eritropoiesis dan hemolisis berlebih (kerusakan sel darah merah). Pada kasus kehilangan darah, bisa bersifat akut atau kronik. Anemia tidak akan terjadi sampai beberapa jam setelah kehilangan darah akut, yakni saat cairan interstisial berdifusi ke dalam ruang intravaskular dan mengencerkan massa sel darah merah yang tersisa. 

Selama beberapa jam pertama, tingkat granulosit polimorfonuklear, trombosit, dan leukosit atau normoblast yang belum matang (pada perdarahan hebat) dapat meningkat. Kehilangan darah kronis menyebabkan anemia, jika proses kehilangan lebih cepat daripada penggantiannya. Kehilangan darah akut misalnya dalam proses kelahiran, perdarahan saluran cerna, luka atau akibat proses bedah. Kehilangan darah kronis bisa karena tumor saluran kemih, kanker atau polip usus, menstruasi hebat, tumor ginjal, ulser di lambung atau usus.

Defisiensi eritropoiesis

Anemia yang disebabkan berkurangnya eritropoiesis (anemia hipoproliferatif), ditandai dengan retikulositopenia. Menurut Evan M Braunstein, MD, PhD, Assistant Professor di Divison of Hematology, John Hopkins School of Medicine, indeks sel darah merah - terutama rata-rata volume corpuscular (MCV) -  dapat mempersempit diagnosis dari defisiensi eritropoiesis,yang disebabkan berbagai hal. Juga membantu menentukan pengujian lebih lanjut yang diperlukan.

Anemia mikrolitik terjadi akibat kekurangan atau kerusakan heme atau sintesis globin. Anemia jenis ini bisa diakibatkan oleh defisiensi besi, atau thalasemia. Bisa karena besi tidak bisa dipindahkan dari tempat penyimpanannya ke prekursor eritropoietik. Kondisi ini jarang terjadi, ditengarai disebabkan  mutasi pada gen TMPRSS6, yang memberi kode ke protein transmembran yang mengatur produksi hepcidin.

Anemia normositik ditandai dengan lebar distribusi sel darah merah dan indeks normokromik yang normal. Dua penyebab paling umum adalah hipoproliferasi karena defisiensi, atau respons yang tidak adekuat terhadap eritropoietin (EPO), dan anemia karena penyakit kronis. Gangguan sumsum seperti anemia aplastik, aplasia sel darah merah dan myelodysplastic syndrome (MDS), juga bisa menyebabkan anemia normositik.

Anemia makrositik disebabkan sintesa DNA yang terganggu, atau karena defisiensi vitamin B12 atau folat; menyebabkan megaloblastosis. Penyebab lain termasuk konsumsi alkohol, penyakit hati, myelodysplastic syndrome (MDS) dan hemolisis.

Anemia karena penyakit kronis bisa mikrositik atau normositik. Sementara anemia akibat MDS  mungkin normositik atau makrositik. Akibat gangguan endokrin, seperti hipotiroid atau kekurangan mineral, memiliki manifestasi berbeda-beda; tergolong sebagai anemia normositik atau makrositik.

Anemia hemolitik

Anemia hemolitik merupakan kondisi hancurnya eritrosit lebih cepat, dibanding pembentukannya di mana siklus hidup normal eritrosit sekitar 120 hari. Anemia hemolitik bisa dipicu faktor intrisik dari dalam sel darah merah atau ekstrinsik.

Anemia hemolitik intrinsik disebabkan sel darah yang tidak normal, sehingga memiliki masa hidup lebih pendek. Kondisi ini umumnya diturunkan secara genetik seperti  anemia sel sabit, atau thalasemia. Sementara anemia akibat faktor ekstrinsik, antara lain disebabkan oleh hiperaktivitas retikuloendotelial (hipersplenisme), abnormalitas imunologis (misalnya thrombotic thrombocytopenic purpura), obat-obatan (quinine, quinidine, penicillin, methyldopa) dan infeksi organism (Plasmodium sp, Bartonella sp).

Yang ekstrinsik maupun intrinsik dapat muncul dalam jangka waktu pendek (temporer), dapat diobati dan hilang setelah beberapa bulan. Bisa muncul sebagai penyakit kronis, yang dapat diderita seumur hidup atau terjadi kekambuhan setelah periode waktu tertentu.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.