VEGF Harapan Baru Penderita ARMD2 | ethicaldigest

VEGF Harapan Baru Penderita ARMD2

Laser terapi

Sinar laser dengan energy yang tinggi, dapat digunakan untuk menghancurkan pertumbuhan abnormal pembuluh darah yang menyebabkan degenerasi macula. Pada sebagian kecil pasein dengan ARMD eksudatif, yang pada angiogram fluorosen memperlihatkan membrane neovaskuler sub retina yang terletak eksentrik (tidak sepusat) terhadap fovea, mungkin dapat dilakukan obliterasi membrane tersebut dengan terapi laser argon.

Membrane vascular subfovea dapat diobliterasi dengan terapi fotodinamik (PDT), karena laser argon konvensional dapat merusak foto reseptor di atasnya. PDT dilakukan dengan menyuntikkan secara intravena bahan kimia serupa porfirin, selanjutnya akan diaktifasi oleh sinar laser nontermal, saat sinar laser berjalan melalui pembuluh darah di membrane subfovea. Selanjutnya, molekul yang teraktifasi akan menghancurkan pembuluh darah namun tidak merusak fotoresptor. Sayangnya kondisi ini dapat terjadi kembali bahkan setelah terapi laser.

Apabila tidak terdapat neovaskularisasi retina, tidak terdapat terapi medis atau bedah untuk pelepasan epitel pigmen retina serosa yang terbukti bermanfaat. Penggunaan interferon alfa parenteral misalnya, belum terbukti efektif untuk mengatasi penyakit ini. Baru jika terdapat membrane neovaskuler subretina ekstrafovea yang berbatas tegas (200 µn dari bagian tengah zona avaskkular fovea), dapat merupakan indikasi fotokoagulasi laser. Dengan angiografi dapat ditentukan dengan tepat lokasi dan batas-batas membrane neovaskular, yang kemudian dapat diablasi secara total.

Fotokoagulasi laser krypton pada neovaskulerisasi subretinal avaskuler fovea (200 um dari bagian tengah zona avaskular vovea), dianjurkan pada pasien yang tidak mengalami hipersensitif. Setelah fotokoagulasi membrane neovaskular subretina berhasil dilakukan. Rekurensi dapat saja terjadi, baik di dekat atau jauh dari jaringan yang sudah di laser. Angka kejadiannya terjadi pada separuh kasus yang ada, dalam 2 tahun.

Alat bantu penglihatan

Alat ini dilengkapi dengan lensa khusus atau system elektronik, yang dapat menghasilkan gambar yang diperbesar dari benda-benda sekitarnya. Alat ini sangat membantu mereka yang mengalami hilang sebagian penglihatannya, akibat degenerasi macular. 

VEGF

Bayer HealthCare Pharmaceuticals secara resmi meluncurkan VEGF Trap Eye; Aflibercept, sebagai opsi pengobatan terbaru untuk Degenerasi Makula tipe basah (Wet Age-Related Macular Degeneration or Wet AMD). Menurut dr. Elviosa, degenerasi makula tipe basah adalah penyebab utama kehilangan penglihatan pada orang-orang berusia di atas 50. Hal ini terjadi karena rusaknya bagian tengah retina, yang dikenal sebagai “makula“. Retina adalah jaringan saraf yang peka terhadap sinar,  terletak di mata bagian belakang. Kelainan ini sering terjadi seiring bertambahnya usia seseorang.

VEGF Trap Eye; Aflibercept sebagai pilihan pengobatan terbaru untuk wet AMD. VEGF Trap Eye; Aflibercept dalam studi yang dibandingkan dengan pengobatan standar yang ada, memperlihatkan dengan jumlah penyuntikan yang lebih sedikit, tetapi memberikan efikasi yang sama dengan pengobatan standar.

Dengan bertumbuhnya jumlah populasi lanjut usia (lansia), diperkirakan jumlah penderita wet AMD juga akan meningkat. Di tahun 2010, penduduk Indonesia yang berusia di atas 50 tahun mencapai 18,1 juta atau 9,6 persen dari total populasi. Hal ini menempatkan Indonesia di antara 5 besar negara dengan populasi lansia terbanyak. Pemerintah Indonesia telah memprediksi bahwa di tahun 2025, angka ini akan bertambah menjadi 36 juta. Meningkatnya populasi lansia mengindikasikan bahwa akan ada beberapa kondisi kesehatan yang harus dicermati, dan membutuhkan dukungan para ahli medis agar kualitas hidup dan produktivitas mereka tetap terjaga.

Di antara semua indeks indikasi kesehatan, masyarakat Indonesia (terutama para lansia), keadaan mengidap kolesterol tinggi, penglihatan yang menurun, stroke, wabah flu, dan nyeri sendi/arthritis dianggap sebagai ancaman terbesar bagi kesehatan mereka. Berkurangnya penglihatan dianggap sebagai ancaman paling menakutkan oleh 20% dari populasi, lebih tinggi dari kanker (13%), serangan jantung (13%), wabah flu (17%), dan stroke (19%). Berkurangnya penglihatan dianggap sama menakutkannya dengan kolesterol tinggi (21%).

Untuk mencegah dampak fatal dari berkurangnya pengelihatan, perlu dilakukan deteksi dini pada masyarakat. Masyarakat dapat memeriksa sendiri daya lihat mereka, untuk kemungkinan adanya wet AMD. Pemeriksaan yang dilakukan sendiri di rumah ini menggunakan alat uji sederhana, yang dikenal sebagai Amsler Grid.

“Adanya gambar garis yang bergelombang atau distorsi, menandakan adanya kelainan pada mata. Dengan deteksi dini dan pengobatan wet AMD segera setelah terdeteksi, dapat membantu mengurangi kebutaan dan dapat menjaga bahkan meningkatkan daya lihat,” jelasnya.

Kata dr. Elviosa, pengobatan menggunakan VEGF Trap Eye; Aflibercept dari Bayer diawali dengan 1 injeksi setiap bulan untuk 3 dosis secara berurutan, diikuti 1 injeksi setiap dua bulan. Tak perlu melakukan pengawasan di antara setiap injeksi yang dilakukan. Hal ini secara tidak langsung akan mempermudah kerja dokter.

BACA VEGF HARAPAN BARU PENDERITA ARMD1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.