VEGF Harapan Baru Penderita ARMD1 | ethicaldigest

VEGF Harapan Baru Penderita ARMD1

Belum ada obat yang dapat digunakan untuk mengobati degenerasi macula. Pengobatan yang ada saat ini, hanya bertujuan untuk mencegah terjadinya kebutaan atau mencegah keparahan dari penyakit ini, serta untuk memperlambat kondisi penyakit. Setidaknya terdapat beberapa jenis obat yang digunakan, di antaranya obat anti-angiogenesis, seperti avastyn, eylea, lucentis dan macugen.

Obat ini bekerja dengan mencegah terbentuknya pembuluh darah baru dan mencegah pecahnya pembuluh darah abnormal di mata, yang dapat mengakibatkan terjadinya degenerasi macula tipe basah.

Pengobatan ini mengakibatkan perubahan yang cukup besar dalam penganaan penyakit ini. Banyak pasien akhirnya bisa mengalami perbaikan penglihatan dari sebelumnya yang hampir-hampir mengalami kebutaan. Pengobatan mungkin memerlukan pengulangan, pada kunjungan berikutnya.

Sampai saat ini juga belum ada terapi khusus untuk ARMD non eksudatif. Penglihatan pasien dimaksimalkan dengan menggunakan alat bantu penglihatan, termasuk alat pembesar atau teleskop. “Sebagai dokter, kita harus bisa meyakinkan bahwa meski penglihatan sentral menghilang, penyakit ini tidak menyebabkan hilangnya penglihatan perifer. Ini penting karena banyak pasien takut mereka akan menjadi buta total,” jelas dr. Elviosa, SpM(K).

Kumpulan dari bukti-bukti medis yang ada menunjukkan bahwa ARMD merupakan penyakit genetic. Oleh karena itu, anak-anak dari orangtua yang mengalami hilang penglihatan akibat degenarsi macula, merupakan kandidat untuk dilakukan upaya pencegahan.

Vitamin untuk ARMD

Bukti bukti klinis yang ada selama ini menunjukkan, pada pasien dengan kondisi ARMD baik yang masih tahap awal atau yang sudah moderate, sangat dianjurkan untuk mengonsumi beberapa jenis makanan yang adekuat, terutama yang banyak mengandung antioksidan. Termasuk di antaranya vitamin A, vitamin E, zinc dan lutein.

“Perlu diingat, pencegahan merupakan cara terbaik untuk mengatasi ARMD. Terlebih, sampai saat ini tidak terdapat obat atau terapi yang benar-benar mampu mengobati penyakit ini,” jelasnya.

Untuk pertama kalinya Age-Related Eye Disease Study (AREDS) dilakukan, dari situ dibuat beberapa kesimpulan dan hasil yang memperjelas kondisi ARMD. Dalam studi ini, diikut sertakan pasien ARMD jenis kering dari yang ringan hingga sedang. Selanjutnya pasien diberi suplementasi antioksidan (15 mg beta-carroten, 500 mg vitamin C, 400 IU vitamin E, 80 mg zinc dan 2 mg copper). Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa meski hanya sedikit, terapi ini mampu menurunkan progresifitas ARMD. Menariknya lagi, pemberian suplemen antioksidan mampu mencegah terjadinya keparahan dari ARMD kering, untuk melakukan pembentukan pembuluh darah baru.

Sebuah study yang dilakukan oleh Millen dan kawan-kawan, mencoba meneliti keterkaitan antara penggunaan serum 25-hydroxyvitamin D (25{OH}) dengan angka kejadiaan ARMD. Studi ini menjelaskan bahwa konsentrasi yang tinggi dari 25{OH}D, mampu mencegah terjadinya ARMD  pada wanita dengan usia di bawah 75 tahun.

Demikian halnya dengan The Rotterdam Study, sebuah studi yang dilakukan tahun 1990 hingga 1993 ini menginfestigasi, apakah diet antioksidan berkaitan dengan rendahnya risiko berkembangnya ARMD pada lebih dari 4.000 orang, dengan usia > 55 tahun di Belanda. Studi ini menunjukkan bahwa high dietary intake seperti beta-carotene, vitamin C dan E, serta zinc, secara substansi mampu menurunkan risiko terjadinya ARMD pada populasi usia lanjut.

Bukti kninis lain mengindikasikan bahwa pemberian multivitamin yang mengandung antioksidan dan lutein, juga memberi manfaat. Yang pasti, bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa merokok dapat mempercepat proses terjadinya ARMD. Sangat direkomendasikan pada pasien yang memiliki riwayat keluarga dengan ARMD, atau pada mereka yang sudah mengalami gangguan penglihatan yang mengarah pada berkembangnya ARMD tahap awal, untuk mengonsumsi multivitamin yang mengandung lutein setiap harinya. Juga sangat dianjurkan untuk menghentikan kebiasan merokok pasien. Disarankan untuk mengonsumsi supleman antioksidan oral.

Namun, masih ada kontroversi mengenai konsumsi ekstrak vitamin kombinasi, dalam memberikan manfaat. Sebuah studi melaporkan bahwa penggunaan zinc dalam dosis tinggi, malah akan memperburuk kondisi penglihatan pasien.

Sebuah studi observasional epidemiologi, mengindikasikan adanya keterkaitan secara langsung antara konsentrasi homocystein dalam darah dengan risiko terjadinya ARMD. Hal ini dibuktikan dalam the Womens Antioxidant and Folic Acid cardiovascular Study, penelitian yang bertujuan untuk melihat lebih lanjut mengenai kejadian ARMD, dalam sebuah trial yang mengombinasikan folic acid, pyridoxine hydrochloride dan cynanocobalamin.

Penelitian ini setidaknya melibatkan 5.442 wanita yang berprofesi sebagai tenaga professional kesehatan dengan usia minimal 40 tahun atau di atasnya, yang mengalami atau terdapat penyakit kardiovaskular, atau setidaknya memiliki 3 atau lebih factor risiko untuk mengalami penyakit kardiovaskular. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa suplementasi harian menggunakan folic acid 2.5 mg/hari dan pyridoxine 50 mg/hari serta cyanocobalamin 1 mg/hari, mampu menurunkan risiko ARMD di kemudian hari.

Tidak ada data yang secara spesifik yang menunjukkan manfaat dari kombinasi suplementasi diet pada study AREDS, dengan penggunaan masing-masing jenis vitamin. Mungkin sebaiknya menunggu hasil AREDS2 Study, mengenai manfaat dari masing-masing kombinasi vitamin yang ada.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.