Treatment and Management DA | ethicaldigest

Treatment and Management DA

Berbagai faktor dapat menjadi pencetus DA (dermatitis atopik) dan tidak sama untuk setiap individu. Karena itu berbagai faktor tadi perlu diidentifikasi dan eliminasi. Di antaranya dengan menghindarkan pemakaian bahan-bahan iritan (deterjen,  alkohol, astringen, pemutih, dan lain-lain). Menghindarkan suhu yang terlalu panas dan dingin, serta kelembaban tinggi. Menghindarkan aktivitas yang dapat mengeluarkan banyak keringat. Menghindarkan makanan-makanan yang dicurigai dapat mencetuskan DA. Melakukan hal-hal yang dapat mengurangi jumlah TDR/agen infeksi, seperti menghindari penggunaan kapuk / karpet / mainan berbulu. Menghindarkan stres emosi, serta mengobati rasa gatal.

 

Pengobatan

Pasien dengan DA tidak selalu membutuhkan perawatan atau terapi emergency. Sebagian dari mereka hanya datang ke klinik untuk mendapatkan terapi, yang disebabkan eczema heperticum atau infeksi bakteri.

  1. Hidrasi kulit
    Dengan melembabkan kulit, diharapkan sawar kulit menjadi lebih baik dan penderita tidak menggaruk dan lebih impermeabel terhadap mikroorganisme / bahan iritan. Berbagai jenis pelembab yang dapat dipakai antara lain krim hidrofilik urea 10%, pelembab yang mengandung asam laktat dengan konsentrasi kurang dari 5%. Pemakaian pelembab beberapa kali sehari, setelah mandi sangat disarankan.
    Selalu nasehati pasien untuk menggunakan pelembab, seperti petrolatum atau aquaphor untuk menjaga tubuh tetap lebab.
     
  2. Kortikosteroid topical
    Steroid topikal sering diberikan pada pengobatan DA, tetapi harus hati-hati karena efek sampingnya cukup banyak. Ointment base sangat dianjurkan, terutama di lingkungan yang kering. Initial terapi meliputi hydrocortisone 1% dua kali sehari, dioleskan pada lasi di muka atau dilipatan. Kortikosteroid potensi rendah dapat diberikan pada bayi, daerah intertriginosa dan daerah genitalia.
    Kortikosteroid potensi menengah (triamcinolone atau betamethasone valerate) dapat diberikan pada anak dan dewasa, dua kali sehari pada lesi hingga lesi eczematous menghilang. Bila aktivitas penyakit telah terkontrol, kortikosteroid dapat diaplikasikan secara intermiten, umumnya dua kali seminggu.
    Lesi yang meluas, mungkin berkaitan dengan perubahan iklim, stress, aktivitas seseorang, infeksi staphylococcal, atau kontak dengan allergen. Meski kontak dengan alergi jarang terjadi, namun kondisi inilah yang paling besar kemungkinanannya untuk memberbesar lesi.
    Hasil studi yang dilakukan oleh Haeck dan rekan-rekannya di Belanda, menunjukan, penggunaan topical kortikosteroid untuk kasus dermatitis atopic yang berada di sekitar daerah kelopak mata dan periorbital aman, terkait dengan kemungkinan terjadinya induksi glaucoma atau katarak.
     
  3. Imunomodulators pada atopic dermatitis

    a. Tacrolimus (topical FK506)
    Bekerja dengan jalan menghambat calcineurin. Sebuah studi menunjukkan, obat ini memberikan hasil yang cukup baik ketika dibandingkan dengan placebo mau pun hydrocortisone 1%. Dengan sedikit absorbs, sebuah sensasi menyengat dapat terjadi ketika preparat ini diaplikasikan. Hal ini dapat diminimalir dengan cara mengaplikasikannya ketika kulit dengan DA sudah kering.
    Rasa terbakar juga akan hilang setelah 2-3 hari aplikasi.  Sediaan Tacrolimus dalam bentuk salep ada dua jenis yaitu; 0,03% untuk anak dan 0,1% untuk dewasa. Tacrolimus topical diindikasikan untuk kasus dermatitis sedang hingga berat, dan hanya diindikasikan untuk anak usia 2 tahun ke atas. Pada pengobatan jangka panjang, tidak ditemukan efek samping kecuali rasa terbakar setempat.

    b. Pimecrolimus
    Merupakan senyawa askomisin, yaitu suatu imunomodulator golongan makrolaktam. Kerjanya mirip siklosporin dan takrolimus, yakni dengan menghambat calcineurin. Obat ini terbukti lebih efektif dibandingkan placebo, dalam penelitian. Sediaan yang dipakai adalah konsentrasi 1%, aman digunaka untuk anak dan dapat dipakai pada kulit sensitif 2 kali sehari. Diindikasikan untuk dermatitis atopic ringan, serta dapat digunakan untuk wajah.
    Sekitar tahun 2006, di Amerika Serikat terdapat sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan calcineurin inhibitor, meningkatkan terjadinya malignancy. Namun hal ini terus dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Untuk itu, dokter hendaknya berhati-hati dalam menggunakan terapi ini, dan harus sesuia dengan indikasi untuk dermatitis atopic pada orang dengan usia diatas 2 tahun, dan digunakan hanya ketika terapi lini pertama gagal.
    Preparat ini lebih mahal dibandingkan kortikosteroid. Omalizumab merupakan suatu antibody monoclonal, yang mengahambat aktifitas IgE. Obat ini menurut penelitian dinyatakan efektif sebagai terapi dermatitis atopic.
     

  4. Terapi lain yang efektif dan tidak efektif pada dermatitis atopic.

    a. Preparat Ter
    Mempunyai efek anti pruritus dan anti inflamasi pada kulit. Sediaan dalam bentuk salep hidrofilik, misalnya, mengandung liquor carbonat detergent  5% - 10% atau  crude coaltar 1% - 5%.

    b. Antihistamin
    Antihistamin topical tidak dianjurkan pada DA, karena berpotensi kuat menimbulkan sensitisasi pada kulit. Pemakaian krim doxepin 5% dalam jangka pendek (1 minggu), dapat mengurangi gatal tanpa sensitisasi. Tapi pemakaian pada area luas akan menimbulkan efek samping sedatif.
    Dalam memilih anti histamine, hendaknya dokter harus diperhatikan berbagai hal seperti penyakit sistemik, aktivitas penderita dll. Anti histamin yang mempunyai efek sedative sebaiknya tidak diberikan pada penderita, dengan aktivitas di siang hari (seperti supir). Pada kasus sulit dapat diberi doxepin hidroklorid 10-75 mg/oral/ 2x sehari yang mempunyai efek anti depresan dan blokade reseptor histamin H1 dan H2.

    c. Probiotik
    Saat ini, probiotik telah banyak dilakukan penelitian, sebagai salah satu terapi khususnya dermatitis atopic. Salah satu alasan kenapa probiotik dimasukan sebagai salah satu terapi DA, karena kita tahu bahwa produk bakteri dapat menginduksi respon imun dari Th1, yang selanjutnya akan menghambat berkembangnya alergi oleh antibody IgE.
    Dalam sebuah penelitian buta ganda, randomized, placebo control, menggunakan beberapa strain probiotik yang meliputi bifidobacterium bifidum, lactobacillus acidophilus, lactobacillus casei, dan lactobacillus salivarius, untuk mengobati dermatitis atopic pada anak-anak.
    Penelitian melibatkan 40 anak-anak dengan DA (23 laki-laki, 17 perempuan) dengan usia antara 1-13 tahun. Dibagi dua kelompok yang mendapat placebo dan kombinasi dari beberapa probiotik, selama 8 minggu. Hasilnya, pada kelomok yang mendapat probiotik secara efektif mampu menurunkan SCORing Atopic Dermatitis (SCORAD), IL-5, IL-6 Interferon (IFN)-y, serta IgE level, jika dibandingkan dengan kelompok plasebo.

    d. UVA, UVB,
    Digunakan untuk kasus DA yang berat. Terapi menggunakan ultra violet B atau kombinasi ultra violet A dan ultra violet B. Terapi kombinasi lebih baik daripada ultra violet B saja. Ultra violet A bekerja pada Langerhans (SL) dan eosinofil, sedangkan ultra violet B mempunyai efek imunosupresif dengan cara memblokade fungsi SL, dan mengubah produksi sitoksin keratinosit. Psoralen plus  UVA (PUVA), dan UVB1 juga dapat digunakan. Terbukti terapi ini memberi manfaat pada penderita DA.

    e. Acyclovir
    Pada penderita eczema herpeticum, acyclovir terbuti efektif. Bila ada infeksi virus dapat diberi asiklovir 3 x 400 mg/hari selama 10 hari, atau 4 x 200 mg/hari untuk 10 hari.

    f. Pada pasien dengan kondisi DA yang parah, terutama pada orang dewasa, phototherapy, methrotrexate (MTX), azathioprine, cyclospoirine dan mycophenolate mofetil, dapat digunakan, dan bisa memberi manfaat bagi pasien DA.

    g. Ketotifen
    Preparat ini merupakan golongan calcium channel bloker. Dari penelitian yang ada, dimungkinkan efektif untuk DA.

    h. Pada pasien yang gagal dengan terapi menggunakan everolimus, yang merupakan derivate macrolide – rapamycin telah dilaporkan pada 2 pasien dengan severe dermatitis atopik. Mengombinasikan terapi dengan prednisone atau cyclosporine ternyata tidak memberikan hasil maksimal. Namun hasil penelitian ini masih terus berlanjut, dan masih banyak diperdebatkan banyak ahli.

    i. Penggunaan beberapa jenis terapi seperti thymopentin, gamma interferon dan Chinese herbs, ternyata tidak sesuai dengan harapan. Terapi ini tidak cocok diterapkan dalam praktek klinik, disamping itu harganya jauh lebih mahal. Juga, dikaitkan dengan timbulnya masalah di kemudian hari berupa gangguan jantung dan hati.

    j. Antibiotik
    Pemberian antibiotik berkaitan dengan ditemukannya peningkatan koloni S. aureus, pada kulit penderita DA. Dokter dapat memberikan beberapa antibiotic seperti eritromisin, asitromisin atau kaltromisin. Tetapi pada kondisi yang stabil, pemberian antibiotic ini tidak memberikan efek apa pun bagi pasien. Staphylococcal organism merupakan koloni yang umum ditemukan pada pasien dengan DA.
     

  5. Dukungan non medis pada DA
    Penggunaan pakaian pada penderita DA, juga berpengaruh pada penyembuhan; usahakan menggunakan bahan yang halus. Bahan cotton sangat dianjurkan pada kondisi ini, selain juga dapat melindungi kulit saat suhu panas atau di musim panas. Bahan wool harus dihindarkan.
    Suhu yang dingin terutama pada malam hari, sangat membantu proses penyembuhan. Itu karena jika pasien DA berkeringat, dapat menimbulkan iritasi yang lebih parah, dan pasien cenderung mengalami gatal-gatal.
    Baju yang sudah digunakan harus dicuci menggunakan detergent, tapi hindarkan penggunaan produk pemutih atau produk detergent yang mengandung pelembut. Beberapa jenis makanan mungkin perlu dihindari. Diskusikan hal ini dengan dokter spesialis gizi, dan perlu dimasukkan dalam program diet pasien DA.
     
  6. Diet
    Jangan lupa untuk menghindari jenis makanan yang dapat mencetuskan reaksi alergi pada pasien DA, seperti kacang-kacangan, telur, seafood, susu, kedelai dan coklat. Ada baiknya menganjurkan pasien untuk mengoleskan minyak ter (petroleum jelly) di sekitar mulut, untuk mencegah kemungkinan iritasi saat memakan jeruk, tomat, atau makanan lain yang kemungkinan menimbulkan iritasi.
     
  7. Aktivitas
    Anjurkan pasien untuk selalu menghindari semua aktivitas yang dapat menimbulkan keringat berlebihan. Juga tidak disarankan untuk berenang di tempat terbuka, terutama yang terkena sinar matahari secara langsung.

 

Prognosis

Sulit meramalkannya, karena banyaknya faktor yang mempengaruhi DA. Beberapa faktor yang berhubungan dengan prognosis kurang baik, adalah :

  • - DA yang luas pada anak.
  • - Penderita juga menderita rinitis alergika dan asma bronkiale.
  • - Riwayat DA pada orangtua atau saudaranya.
  • - Awitan (onset) DA pada usia muda.
  • - Anak tunggal.
  • - Kadar IgE serum sangat tinggi.

Diperkirakan, 30 – 35% penderita DA infantil akan berkembang menjadi asma bronkiale atau hay fever. Penderita DA juga mempunyai resiko tinggi untuk mendapat dermatitis kontak iritan di tangan akibat bekerja.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.