Terapi Biologis Lain untuk Uveitis | ethicaldigest

Terapi Biologis Lain untuk Uveitis

Selain terapi dengan anti TNF Alfa dan infliximab, ada obat-obatan lain, yang masuk dalam agen bilogis, yang biasa digunakan dalam pengobatan uveitis, seperti terapi anti interleukin, daclizumab dan terapi interferon.

Terapi Anti Interleukin

Interleukin (IL) merupakan sitokin yang meregulasi pertumbuhan dan fungsi limfosit. IL-1 diproduksi terutama oleh makrofag dan menstimulasi sel T-helper (Th), untuk memrodukasi sitokin lainnya seperti IL-2. Kemudian, IL-2 akan menstimulasi pertumbuhan sel T sitotoksik dan sel Th. Antagonis interleukin bekerja dengan mencegah aktivasi dan proliferasi sel T.

Daclizumab

Daclizumab merupakan antibodi monoklonal reseptor IL-2 manusia (90% human, 10 % murine). Daclizumab mengikat subunit Tac pada reseptor IL-2, sehingga menghambat pengikatan IL-2 dengan reseptornya. Karena Tac subunit diekspresikan pada saat sel T permukaan teraktivasi, maka daclizumab berasal dari sel yang aktif untuk menghindari risiko rejeksi.

Daclizumab diadministrasikan secara intravena dengan dosis umum 1 mg/kgBB, setiap 2 minggu. Pada studi klinis, ditunjukkan bahwa daclizumab dapat digunakan untuk mencegah rejeksi transplantasi ginjal. Berbagai penelitian juga menunjukkan efikasi daclizumab dalam tatalaksana uveitis baik severe, chronic intermediate, maupun uveitis posterior. Mayoritas pasien yang diberi terapi daclizumab, menunjukkan dapat berhenti menggunakan agen imunosupresan standar.

Publikasi Nussenblatt (1999) menyebutkan, efek samping penggunaan daclizumab pada pasien uveitis antara lain insufisiensi adrenal, terjadi peningkatan alkalin fosfatase, poliradikulopati, limfadenopati, edema perifer, dan infeksi.

Terapi Interferon

Dilaporkan, penggunaan interferon alfa 2a (IFN α-2a) sistemik yang dapat dikombinasi dengan steroid dosis rendah, dapat menyebabkan revisi vaskulitis okular. Obat ini juga dapat mencegah kerusakan retina dan saraf optik, akibat oklusi vaskular. Kotter dkk., melaporkan penggunaan rekombinan IFN α-2a dengan dosis 6 juta unit subkutan, memberikan respon terapi pada 92% penderita Behcet dalam waktu singkat (2 – 4 minggu). Hasil ini lebih baik daripada pemberian siklosporin A (respo terapi pada 80 – 91% kasus).

Deuter dkk. (2004) menguji efektivitas IFN α-2a pada 7 pasien (2 wanita, 5 pria; 13 mata) dengan Cystoid Macular Edema (CME) karena uveitis intermediate atau posterior noninfeksi. Dosis inisiasi IFN α-2a yang diberikan adalah 3 juta IU/hari dan 6 juta IU/hari. Hasilnya, hanya 1 pasien yang tidak menunjukkan respon terhadap IFN α-2a. Sedangkan 6 lainnya memberikan respons setelah 3 hari dan mengalami penyembuhan total dalam waktu 2 – 4 minggu pada 11 mata.

Analisis retrospektif Tutkun dkk. (2006) menunjukkan efektivitas terapi IFN α terhadap 44 pasien Turki dengan penyakit Behcet, yang tidak memberikan respon terhadap terapi agen imunosupresan pada periode September 2001 – Mei 2005. Dosis inisiasi yang digunakan adalah 6 juta unit/hari pada 37 pasien dan 3 juta unit/hari pada 7 pasien. Kemudian, dosis diturunkan secara bertahap. Hasil analisisnya menunjukkan, terjadi respons parsial dan total pada 91% pasien. [ ]

BACA JUGA TERAPI AGEN BIOLOGIS

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.